Arina.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan mengisyaratkan pasukan AS kemungkinan akan mempertahankan kehadiran militer di jalur perairan strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Rabu. Ia mengatakan Amerika Serikat mempertahankan “kendali penuh” atas Selat Hormuz di tengah ketegangan yang terus meningkat dengan Iran.
“AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Saya pikir kita akan mempertahankannya,” tulis Trump.
Trump juga menggambarkan blokade laut yang sedang berlangsung sebagai “tembok baja”. Menurut dia, Iran tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan langkah tersebut.
“Tidak ada yang bisa dilakukan Iran mengenai hal itu,” ujarnya.
Trump kemudian mengklaim kemampuan militer Iran telah dinetralisir. Ia bahkan menyebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berada dalam kondisi hancur dan para anggotanya melarikan diri.
Tak hanya soal militer, Trump juga menyoroti kondisi ekonomi Iran. Ia menggambarkan perekonomian negara tersebut berada dalam situasi yang memburuk, dengan inflasi yang menurutnya mencapai 300 persen.
“Yang mereka miliki hanyalah berita palsu dan inflasi 300 persen, dan semakin memburuk! Iran hanya banyak bicara dan tidak bertindak, bukan lagi pengganggu di Timur Tengah,” kata Trump.
Ketegangan di Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran pada akhir Februari. Hingga kini, Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konfrontasi.
Situasi tersebut turut berdampak pada jalur perdagangan dan pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi rute penting bagi distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Penutupan atau terganggunya pelayaran melalui selat tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap rantai pasokan energi global dan memicu kenaikan harga komoditas energi.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan memulai perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, proses negosiasi kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai sejumlah isu utama.
Di antaranya adalah tuntutan terkait jaminan keamanan serta kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.
Bagi Washington, kebebasan pelayaran di jalur tersebut menjadi salah satu kepentingan strategis utama. Sementara bagi Teheran, kendali dan keamanan di kawasan Teluk tetap menjadi bagian penting dalam posisi tawar Iran menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Dengan belum tercapainya kesepakatan, Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran. Setiap perubahan terhadap akses pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berdampak jauh melampaui Timur Tengah, terutama terhadap pasar energi dan perdagangan dunia.





Comments are closed.