Bagi umat Islam Indonesia yang hidup pada dekade 1950–1960-an, rasanya sulit menemukan orang yang tidak mengenal sosok Ummu Kultsum. Penyanyi legendaris asal Mesir yang dijuluki Kawkab al-Syarq (Bintang dari Timur) itu bukan sekadar seorang penyanyi, melainkan ikon budaya Arab yang suaranya menggema hingga ke berbagai penjuru dunia.
Di lingkungan keluarga santri Nahdlatul Ulama pada era 1960–1970-an, menggemari lagu-lagu Ummu Kultsum bukanlah sesuatu yang asing. Melalui karya-karya seperti Enta Omri, Sīrat al-Hubb, Alf Laila wa Laila, dan Amal Hayati, ia memikat bukan hanya masyarakat Mesir, tetapi juga para penikmat musik di Nusantara, termasuk kalangan ulama dan pesantren.
Di antara para pengagumnya adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), K.H. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), serta putra-putra K.H. Muhammad Shiddiq Jember. Dalam biografi Kiai Muhammad Shiddiq yang ditulis Afton Ilman Huda disebutkan bahwa Kiai Halim Shiddiq, seorang tokoh lokal dalam masa revolusi, memiliki kebiasaan memutar lagu-lagu Ummu Kultsum melalui pemancar radio milik Pesantren Ash-Shiddiq Putri (Ashri) menjelang waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan.
Tradisi tersebut bahkan masih dapat disaksikan hingga sekarang. Lagu-lagu Ummu Kultsum dapat dinikmati melalui kanal YouTube Pondok Pesantren Ashri, lengkap dengan lirik dan terjemahan bahasa Indonesianya.
Suasana yang serupa juga dapat ditemukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Berdasarkan penuturan Kiai Chozin Dahlan—putra Kiai Dahlan Cholil yang pernah mengajar di Madrasah Darul Ulum Makkah pada masa kepemimpinan Syaikh Muhaimin al-Lasemi—ayah beliau secara fikih memang berpendapat bahwa musik hukumnya haram. Namun, beliau memberikan pengecualian terhadap lagu-lagu Ummu Kultsum, yang bahkan turut dinikmati oleh saudara-saudaranya sendiri.
Salah satunya ialah Kiai Ma’shoem Cholil, mantan anggota Konstituante. Menurut Kiai Chozin, pamannya tersebut bersama Kiai Hasan Bisri Cholil merupakan penikmat setia lagu-lagu Ummu Kultsum. Bahkan, Kiai Ma’shoem dahulu memiliki gramofon beserta koleksi piringan hitam album-album Ummu Kultsum.
Kiai Chozin sendiri mengaku sebagai penikmat lagu-lagu Ummu Kultsum. Kepada penulis, beliau menuturkan bahwa meskipun tidak memahami secara mendalam makna liriknya karena menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah, lagu-lagu tersebut memiliki daya sentuh emosional yang begitu kuat. Ada nuansa batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, namun mampu menghanyutkan siapa saja yang mendengarkannya.
Pengaruh Ummu Kultsum juga tampak dalam perkembangan musik Islami di Indonesia. Jika dicermati, aransemen musik grup Nasida Ria—yang banyak membawakan lagu ciptaan K.H. Bukhori Masruri—memiliki kemiripan dengan corak musikal yang mengiringi lagu-lagu Ummu Kultsum. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh musik Timur Tengah tidak hanya hadir melalui syair, tetapi juga meresap ke dalam warna musikal dakwah di Indonesia.
Mengenai seni musik, Kiai Achmad Shiddiq pernah menyampaikan pandangannya sebagaimana dikutip Munawar Fuad dan Mastuki dalam buku Menghidupkan Ruh Pemikiran Kiai Achmad Shiddiq. Beliau mengatakan, “Manusia memiliki rasa keindahan dan seni sebagai salah satu bentuk aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari pengaturan dan penilaian agama Islam. Oleh karena itu, seni hendaknya terus ditingkatkan mutunya.”
Berangkat dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa lagu-lagu Ummu Kultsum memiliki tempat tersendiri dalam khazanah intelektual dan kultural sebagian ulama Nusantara. Keindahan musikalnya berpadu dengan kekuatan lirik yang sarat makna sehingga mampu menghadirkan pengalaman estetik sekaligus menyentuh sisi spiritual para penikmatnya. Tidak mengherankan apabila karya-karyanya tetap dikenang dan diapresiasi oleh banyak ulama lintas generasi. Wallahu a’lam.





Comments are closed.