Seekor ular kecil bergerak di antara serasah daun di hutan sekunder Wonosalam, lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. Bagi Muhammad Asyraf Rijalullah (26), lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya, ini pengalaman pertamanya melihat ular kukri gunung jawa. Asyraf, peneliti independen yang pernah berkolaborasi dengan Wildlife Conservation Society Indonesia, tidak menyangka survei lapangan 5-6 April 2026 itu, mempertemukan dirinya dengan jenis yang jarang terdokumentasikan. “Kami sebenarnya hanya melakukan pengecekan awal dan melihat satwa apa saja yang ada di lokasi,” jelasnya, Kamis (2/7/26). Hari pertama pengamatan berlalu tanpa temuan istimewa. Kondisi hutan sekunder di lereng Anjasmoro yang tak terlalu lembap, namun berbeda dibandingkan dataran rendah, menjadi perhatian tim selama survei berlangsung. Perjumpaan tak terduga itu terjadi hari kedua. Sekitar pukul 10 pagi, tim memutuskan kembali ke camp setelah menyusuri sejumlah titik di hutan. Jalur yang dilalui licin, karena hujan turun malam sebelumnya. Saat menuruni lereng, Asyraf melihat pergerakan kecil di bawah sepotong kayu di tepi jalur. “Saya buka dan ternyata ular.” Ular kukri gunung jawa yang keberadaannya belum banyak diketahui. Foto: Dok. Agus Nurrofik/Sahabat Alam Indonesia. Tidak berbahaya Sebagai peneliti yang biasa mengamati reptil, Asyraf dan rekan tetap waspada. Bentuk fisik Oligodon bitorquatus ini, sekilas mengingatkan mereka pada beberapa jenis ular berbisa. “Saya selalu menganggap, setiap ular yang ditemukan itu berbahaya hingga identitasnya benar-benar diketahui.” Dengan bantuan snake hook, Asyraf dan tim mengamati pola tubuh, bentuk kepala, hingga bagian bawah tubuh ular itu. Setelah memastikan jenis ini bukan anggota kelompok ular berbisa, penanganan lebih lanjut dilakukan. “Saya baru berani memegang setelah yakin ini…This article was originally published on Mongabay
Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa
Ular Kukri Gunung Jawa, Gigitannya Tajam Meski Tidak Berbisa





Comments are closed.