Mubadalah.id – Buku Fakta Baru Walisongo karya Zainal Abidin mengajak pembaca melihat kembali sejumlah kisah tentang Walisongo yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat. Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah tentang “Meluruskan Sejarah Walisongo”.
Pada bagian ini, Zainal Abidin menyoroti cerita-cerita tentang kesaktian dan karamah para wali yang berkembang melalui berbagai tradisi tutur. Menurutnya, sebagian kisah tersebut perlu dibaca secara lebih kritis agar tidak begitu saja ditempatkan sebagai fakta sejarah.
Bagi Zainal Abidin, persoalan utama bukan sekadar apakah para wali memiliki karamah atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana kisah tentang mereka dipahami dan diwariskan. Ketika penghormatan kepada wali berubah menjadi kultus, cerita tentang kehidupan mereka berpotensi berkembang menjadi kisah yang jauh dari fakta sejarah.
Sebab, selama ini, dalam pandangan awam masyarakat Jawa, istilah wali sering digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap keramat dan memiliki kedekatan khusus dengan Allah.
Karena itu, para wali kemudian dilekatkan dengan berbagai kelebihan, kekuatan gaib, ilmu yang tinggi, kesaktian, serta kemampuan yang berada di luar kemampuan manusia biasa.
Zainal Abidin mengutip pandangan Widji Saksono yang menilai bahwa kultus, pemujaan, dan penghormatan berlebihan terhadap Walisongo turut melahirkan berbagai legenda. Cerita-cerita tersebut kadang berkembang menjadi dongeng jenaka, bahkan tidak masuk akal jika dibaca sebagai catatan sejarah.
Pembangunan Masjid Agung Demak
Salah satu contoh yang dibahas adalah kisah pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam cerita yang beredar, masjid tersebut disebut dapat dibangun dalam waktu kurang dari satu malam berkat kesaktian para wali. Pembangunannya bahkan dikisahkan melibatkan berbagai binatang, mulai dari katak hijau, kadal, hingga orong-orong.
Cerita serupa juga muncul dalam kisah penentuan arah kiblat Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga disebut dapat menghadap ke selatan sambil memegang pucuk Masjidil Haram di Makkah dengan tangan kanan dan pucuk Masjid Agung Demak dengan tangan kiri.
Dari kisah tersebut kemudian muncul keyakinan bahwa arah kiblat masjid ditentukan melalui kemampuan luar biasa sang wali.
Bagi Zainal Abidin, cerita semacam itu perlu ditempatkan secara kritis. Sebagian orang memang berusaha memberikan tafsir simbolis terhadap kisah tersebut.
Pembangunan Masjid Demak, misalnya, dapat dimaknai sebagai gambaran tentang keterlibatan berbagai lapisan masyarakat dalam membangun pusat keislaman. Sementara hubungan antara Makkah dan Demak dapat dipahami sebagai simbol pertemuan antara ajaran Islam dan budaya lokal.
Dengan cara pandang tersebut, kisah yang tampak tidak masuk akal apabila dibaca secara harfiah sebenarnya dapat memiliki pesan budaya. Namun, persoalan muncul ketika cerita simbolik tersebut kita terima begitu saja sebagai fakta sejarah.
Buku ini kemudian menguraikan berbagai kisah kesaktian yang melekat kepada Sunan Kalijaga. bahkan ia mampu menghidupkan kembali ayam panggang yang telah kehilangan bulunya, menghidupkan ikan gurame yang hanya tersisa tulang dan duri, hingga menghidupkan sapi muda yang mati tenggelam.
Sunan Kalijaga juga bisa bertemu dengan Nabi Khidir yang menjelma sebagai anak kecil dan mengajarkan hakikat berbagai jenis nafsu. Dalam cerita lain, Sunan Kalijaga mampu mengubah sebongkah tanah menjadi emas untuk meyakinkan Adipati Pandanarang.
Baju Takwa
Tidak berhenti di situ. Sunan Kalijaga juga dikisahkan memiliki baju takwa bernama Ontokusumo yang disebut sebagai hadiah peninggalan Rasulullah. Baju tersebut mereka percaya dapat berubah warna sesuai dengan keinginan orang yang memandangnya. Bahkan, siapa pun yang melihatnya dapat jatuh cinta kepada orang yang mengenakannya.
Cerita tentang kesaktian juga muncul dalam kisah Sunan Kalijaga dan Mpu Supo. Besi calon keris yang awalnya hanya sebesar biji asam dapat berubah menjadi sangat besar, bahkan sebesar gunung.
Bagi pembaca hari ini, rangkaian cerita tersebut tentu mengundang pertanyaan. Apakah kisah tersebut harus kita pahami secara harfiah sebagai peristiwa sejarah atau sebagai simbol yang menyimpan pesan tertentu?
Pertanyaan serupa muncul dalam kisah para wali lainnya. Sunan Ampel, Sunan Mojoagung, dan Sunan Gresik misalnya, memiliki pancaran keramat yang sangat kuat.
Dalam salah satu cerita, seorang nahkoda dari Mesir yang ingkar janji kepada para wali mendapatkan hukuman Allah. Kapalnya terbentur karang hingga ia tenggelam bersama anak buahnya.
Kisah lain menceritakan pertemuan Sunan Ampel dengan Lembu Peteng dari Madura. Ketika Lembu Peteng hendak menyerang Sunan Ampel dari belakang, tubuhnya tiba-tiba gemetar dan kehilangan kekuatan. Kekuatannya baru kembali setelah Sunan Ampel memberikan pengampunan.
Kisah tentang kesaktian semakin banyak kita temukan dalam cerita mengenai Sunan Giri. Ia dapat mengubah beras menjadi kain tenun Bali, kerikil menjadi mutiara, serta menghentikan kapal yang sedang berlayar. Ia juga dapat mendatangi cahaya dari langit ketika belajar di pesantren Sunan Ampel.
Sunan Giri
Dalam cerita lainnya, Sunan Giri disebut mampu memakan buah delima beracun tanpa meninggal, mengubah batu dan pasir menjadi intan berlian, bahkan mengubah angsa menjadi ular naga ketika beradu kesaktian dengan Begawan Methosemeru.
Kesaktian Sunan Giri juga muncul dalam cerita peperangan melawan Majapahit. Qalam atau pena yang sedang digunakan untuk menulis disebut dapat berubah menjadi keris Kalamunyeng ketika dilemparkan kepada tentara Majapahit. Keris tersebut kemudian menghancurkan pasukan musuh.
Cerita lain bahkan menyebut Sunan Giri dapat mendatangkan tikus untuk mengacaukan pasukan Majapahit. Dalam kisah berbeda, ketika makanan Sunan Giri sempat tentara Majapahit membongkarnya, maka para lebah keluar dan membuat pasukan tersebut kocar-kacir.
Zainal Abidin kemudian mengajak pembaca membandingkan cerita-cerita tersebut dengan kisah perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat. Nabi Muhammad, meskipun mengalami banyak peperangan dan memperoleh kemenangan, tetap menjalani perjuangan dengan strategi, ikhtiar, dan persiapan manusiawi.
Dalam Perang Badar, Nabi Muhammad berdoa memohon kemenangan. Dalam Perang Uhud, beliau juga mengalami luka akibat terkena panah.
Nabi bahkan mengenakan baju perang sebelum berangkat ke medan pertempuran. Hal tersebut menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya mengandalkan mukjizat, tetapi juga membutuhkan persiapan dan ikhtiar.
Hal yang sama terlihat dalam kisah para sahabat. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib terkenal sebagai tokoh yang memiliki keberanian dan kemampuan dalam perjuangan.
Namun, kisah kehidupan mereka tidak penuh dengan cerita kesaktian sebagaimana sebagian cerita yang berkembang tentang Walisongo.
Kisah Khalid bin Walid
Zainal Abidin juga mengangkat kisah Khalid bin Walid yang berkali-kali terlibat dalam peperangan dan mengalami luka akibat tombak, panah, maupun pedang. Namun, ia tetap meninggal secara normal di atas pembaringan.
Kisah Hanzalah dalam Perang Uhud juga menunjukkan gambaran kepahlawanan yang berbeda. Ia gugur sebelum sempat mandi junub dan kemudian para malaikat memandikannya. Thalhah bin Ubaidillah berperang dalam keadaan terluka parah hingga Rasulullah menyebutnya sebagai orang yang ingin melihat seorang syahid yang masih hidup.
Demikian pula Abu Dujanah yang melindungi Rasulullah dalam peperangan hingga punggungnya terkena banyak panah dan tombak. Kisah-kisah tersebut menunjukkan keberanian manusia dalam menghadapi bahaya, bukan semata-mata pertunjukan kekuatan gaib.
Perbandingan tersebut menjadi salah satu dasar kritik Zainal Abidin terhadap cerita-cerita mistik Walisongo. Menurutnya, apabila kisah para wali terus kita tampilkan sebagai cerita kesaktian, sisi perjuangan, strategi, ketekunan, dan kecerdasan mereka justru dapat tertutupi.
Cerita tentang Sunan Kudus, misalnya, juga tidak lepas dari kisah karamah. Menara Kudus dan Lawang Kembar disebut dapat dikecilkan sehingga bisa dibawa oleh Sunan Kudus dengan sapu tangan. Menara Kudus bahkan dikisahkan dibawa dari Tanah Arab, sementara Lawang Kembar disebut dipindahkan dari Majapahit.
Sunan Bonang
Sunan Bonang juga mempunyai kisah serupa. Ia dapat mengubah buah aren menjadi emas untuk menyadarkan Brandal Lokajaya.
Dalam cerita lainnya, tongkat Sunan Bonang yang ia tancapkan di pasir pantai kemudian mengeluarkan air dari bekas lubang tongkat tersebut sekaligus membawa keluar kitab-kitab Brahmana yang sebelumnya hilang dan tenggelam di laut.
Namun, bagi Zainal Abidin, kisah-kisah tersebut tidak semestinya langsung kita baca sebagai fakta sejarah. Penulis justru mengajak pembaca mencari makna simbolis di balik cerita.
Widji Saksono, yang ia kutip dalam buku ini, memberikan penafsiran terhadap sejumlah simbol tersebut. Tikus, misalnya, dapat kita maknai sebagai simbol orang-orang jahat yang ikut dalam peperangan melawan Majapahit.
Katak hijau dapat kita maknai sebagai simbol petani. Sedangkan kadal sebagai binatang melata dapat menggambarkan rakyat jelata yang ikut terlibat dalam pembangunan Masjid Agung Demak.
Lebah dapat kita pahami sebagai simbol orang-orang yang ahli dalam menyengat dan melakukan kritik, termasuk para ahli pena dan sastra.
Sementara lelembut atau makhluk halus dapat kita maknai sebagai simbol mata-mata atau telik sandi. Adapun orong-orong dapat kita maknai sebagai orang yang gemar berbicara kosong dan perlu kita arahkan agar tidak menimbulkan kekacauan.
Dengan tafsir tersebut, kisah yang selama ini terdengar seperti cerita kesaktian berubah menjadi gambaran tentang kerja sosial dan politik. Sunan Kalijaga, misalnya, menjadi sosok yang menjalankan fungsi diplomasi dan pertahanan masyarakat.
Pembacaan Simbolik
Pembacaan simbolik semacam ini membuat kisah Walisongo menjadi lebih dekat dengan realitas sosial. Para wali dapat kita lihat sebagai tokoh yang berhadapan dengan masyarakat, budaya, politik, dan berbagai persoalan pada zamannya.
Hal serupa dapat kita terapkan pada kisah Sunan Bonang ketika berdakwah kepada masyarakat Tuban, termasuk Brandal Lokajaya. Jika kisah pertobatan tersebut hanya tersampaikan sebagai cerita bahwa Sunan Bonang mengubah buah aren menjadi emas, maka proses dakwah yang sebenarnya justru menghilang.
Padahal, mengubah seseorang dari seorang perampok menjadi pribadi yang menerima ajaran agama tentu membutuhkan proses panjang. Ada pendekatan, dialog, keteladanan, serta kemampuan membaca kondisi sosial masyarakat. Proses tersebut jauh lebih penting untuk para generasi berikutnya pelajari daripada sekadar cerita tentang kesaktian.
Di sinilah kritik utama buku Fakta Baru Walisongo menemukan relevansinya. Menurut Zainal Abidin, kisah kepahlawanan para wali seharusnya menjadi bagian penting dari sejarah Walisongo. Sayangnya, kisah tersebut kerap tertutup oleh cerita mistik dan horor yang berkembang dari generasi ke generasi.
Padahal, jika perjuangan para wali kita tulis dengan baik, kisah tersebut dapat menjadi contoh realistis bagi para pendakwah masa kini.
Mereka dapat belajar bagaimana para wali berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar budaya dan kepercayaan yang berbeda, bagaimana membangun komunikasi, menghadapi kekuasaan, serta menyampaikan ajaran Islam tanpa kehilangan konteks masyarakat.
Karena itu, buku ini mengingatkan pentingnya metode dalam membaca sejarah. Penghormatan kepada tokoh agama tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan sikap kritis terhadap sumber sejarah.
Walisongo tetap dapat kita tempatkan sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa tanpa harus menjadikan seluruh cerita tentang mereka sebagai fakta sejarah. Karamah dalam pengertian keagamaan merupakan wilayah keyakinan, sedangkan sejarah membutuhkan penelusuran sumber, kritik, konteks, dan analisis.
Penghormatan
Pada titik ini, Fakta Baru Walisongo menawarkan satu pesan penting: semakin besar penghormatan kepada seorang tokoh, semakin penting pula kehati-hatian dalam menceritakan kehidupannya.
Sejarah Walisongo tidak membutuhkan cerita yang semakin spektakuler agar mereka tampak hebat. Justru perjuangan nyata mereka sebagai pendakwah, pendidik, pemimpin masyarakat, diplomat, dan penggerak kebudayaan sudah cukup menunjukkan kebesaran mereka.
Membaca Walisongo secara kritis bukan berarti merendahkan para wali. Sebaliknya, kritik sejarah dapat menjadi cara untuk mengembalikan kisah mereka pada konteks yang lebih manusiawi dan realistis.
Dengan begitu, warisan Walisongo menjadi pelajaran tentang bagaimana agama, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat dapat kita pertemukan melalui kerja dakwah yang panjang. []





Comments are closed.