Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Wayang Orang Bharata, Bertahan Merawat Tradisi dan Melintasi Zaman

Wayang Orang Bharata, Bertahan Merawat Tradisi dan Melintasi Zaman

wayang-orang-bharata,-bertahan-merawat-tradisi-dan-melintasi-zaman
Wayang Orang Bharata, Bertahan Merawat Tradisi dan Melintasi Zaman
service

Jakarta, NU Online

Di tengah gempuran hiburan modern, Wayang Orang Barata masih berdiri tegak sebagai salah satu benteng seni pertunjukan tradisional Indonesia. Para pelakunya bertahan bukan karena kemewahan, melainkan karena kecintaan pada warisan budaya.

Menurut Muhammad Wahyudi Yudi Bharata (56), salah satu pengelola, mengatakan bahwa operasional kelompok seni ini masih sangat bergantung pada aliran dana dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, jumlah pementasan yang difasilitasi mengalami penurunan.

“Tahun ini kami hanya difasilitasi 10 kali pementasan dalam setahun, sebelumnya 12 kali. Mudah-mudahan tahun depan ada peningkatan jadi tiga kali dalam sebulan,” kata Yudi saat diwawancarai NU Online, Sabtu (24/1/2026) di Jakarta.

Wayang Orang Barata sendiri sudah eksis selama 54 tahun. Para pemainnya merupakan generasi penerus seniman terdahulu, sehingga kesenian ini hidup secara turun-temurun. Yudi sendiri mengaku mulai terjun ke dunia wayang orang sejak usia 16 tahun dan tetap bertahan hingga sekarang.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda. Namun perlahan kondisi mulai berubah.

“Sekarang anak-anak Gen Z dan Gen Alpha sudah mulai tertarik. Kami tidak hanya menyajikan tontonan, tapi juga tuntunan. Ada nilai edukasi yang kami sampaikan,” ujarnya.

Promosi pun dilakukan melalui media sosial seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook. Cuplikan pertunjukan diunggah untuk menarik rasa penasaran calon penonton.

Gedung pertunjukan Wayang Orang Barata memiliki kapasitas sekitar 220 penonton. Pertunjukan yang difasilitasi pemerintah tidak memungut tiket alias gratis, namun pengelola membuka donasi untuk membantu keberlangsungan para seniman.

Dana yang diterima, kata Yudi, masih jauh dari cukup. Anggaran harus dibagi kepada sekitar 162 orang yang terlibat, sehingga banyak seniman terpaksa mencari pekerjaan lain seperti ojek online atau usaha kecil demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Sekali tampil kadang untuk kebutuhan sehari saja kurang. Beda dengan artis besar yang sekali tampil bisa untuk hidup berbulan-bulan,” ujarnya jujur.

Selain Yudi, Nugroho Apriadi (53), salah satu pemain senior, bahkan memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Wayang Orang Barata. Ia lahir di gedung pertunjukan tersebut pada tahun 1973 dan tumbuh besar di lingkungan panggung.

“Saya dari kecil sampai sekarang masih belajar. Wayang orang itu sulit, belajarnya tidak pernah selesai,” katanya.

Dalam pementasan, Nugroho kerap memerankan tokoh Batara Narada, penasihat para dewa. Ia menuturkan bahwa wayang orang lebih menekankan unsur tari, serta pakem busana yang ketat sesuai karakter.

Lebih lanjut ia mengatakan tantangan yang dihadapi adalah kemampuan bahasa generasi muda. Bahasa yang digunakan dalam wayang orang bukan bahasa Jawa sehari-hari, melainkan bahasa sastra atau kawi yang membutuhkan pembelajaran khusus.

“Meski begitu, semangat pelestarian tetap menyala. Banyak pemain yang tumbuh dari keluarga seniman, sehingga kecintaan pada wayang orang terbentuk sejak kecil,” katanya.

Para pelaku seni berharap pemerintah dan masyarakat memberi perhatian lebih besar pada kesenian tradisi. Mereka khawatir, tanpa dukungan serius, warisan budaya ini bisa terpinggirkan.

“Kesenian tradisi jangan sampai seperti anak yang ditelantarkan. Kami butuh dukungan nyata agar bisa terus hidup dan mendidik generasi lewat nilai-nilai luhur,” tutur Yudi.

Di tengah keterbatasan, Wayang Orang Barata terus menari, berkisah, dan menjaga denyut tradisi, sebuah pengingat bahwa budaya bukan sekadar tontonan, tetapi jati diri bangsa.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.