Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. 100 Tahun Kho Ping Hoo: Novel dan (Sejarah) Indonesia

100 Tahun Kho Ping Hoo: Novel dan (Sejarah) Indonesia

100-tahun-kho-ping-hoo:-novel-dan-(sejarah)-indonesia
100 Tahun Kho Ping Hoo: Novel dan (Sejarah) Indonesia
service

Seminggu telah berlalu dari puncak kesibukan penguasa dan jutaan orang dalam peringatan Hari Kemerdekaan. Mereka “berimajinasi” Indonesia sambil berharap mengerti sejarah. Kini, kita mulai menjauh dari 17 Agustus 2026, berhadapan dengan peristiwa dan pemaknaan berbeda tentang Indonesia. Bendera merah-putih terus berkibar berbarengan Indonesia menanggungkan ribuan masalah. 

Pada saat mengingat 17 Agustus 1945, kita sering merujuk Soekarno dan Mohammad Hatta. Tanggal keramat itu memang mengingatkan peristiwa bersejarah di Jakarta dengan teks proklamasi. Pada 2026, kita boleh sejenak kepikiran tokoh berbeda tapi tetap bertema sejarah dan Indonesia. Tokoh terkenang itu bernama Kho Ping Hoo (17 Agustus 1926-22 Juli 1994). Pada 1965, ia mengisahkan (kemerdekaan) Indonesia melalui novel berjudul “Merdeka atau Mati”. Ia memberi cerita agar sejarah Indonesia terus terbaca. 

Sejak belasan tahun silam, jutaan orang mengingat Kho Ping Hoo gara-gara cerita silat. Ia pun menulis novel-novel meski tak selaris cerita silat. Kini, kita membuat peringatan 100 tahun Kho Ping Hoo dengan pilihan membaca Merdeka atau Mati mumpung berbarengan peringatan kemerdekaan Indonesia. 

Tokoh dalam cerita bernama Oom San menjadi representasi sikap politik peranakan Tionghoa berlatar masa pendudukan Jepang. Kho Ping Hoo bercerita: “Siapa tidak mengenalnya? Seorang babah yang lahir di Blitar dan mati di Blitar. Seorang babah yang sebelum Jepang masuk amat bernyala semangat kebangsaannya, tentu saja terhadap Tiongkok, yang diinjak-injak oleh Jepang. Kebenciannya terhadap Jepang menyala-nyala. Kepatriotikannya terhadap tanah leluhur berubah menjadi kepatriotan terhadap tanah tumpah darahnya, Indonesia… Oom San ikut berjuang, menjadi anggota dinas rahasia. Dialah pengumpul dana bantuan yang mengalir dari para simpatisan.” Lakon perlawanan itu dihabisi oleh kenpetai.

Kita sedang membaca novel tapi terbujuk membuka halaman-halaman sejarah mengenai peran kaum peranakan Tionghoa, dari masa ke masa. Leo Suryadinata dalam buku berjudul Politik Tionghoa Peranakan di Jawa (1986) mengingatkan babak-babak perubahan sikap politik merujuk Tiongkok dan keberanian melawan kolonialisme. Kecamuk sosial-historis menjadi pemicu kaum peranakan Tionghoa bertanah air Indonesia, menentukan sikap di hadapan pemerintah kolonial Belanda berlanjut saat masa pendudukan Jepang. 

“Berkat perubahan yang terus-menerus dan cepat dalam situasi sosial-politik Indonesia, kegiatan politik golongan peranakan Tionghoa setelah 1942 bukan sekadar kelanjutan perpanjangan dari kegiatan sebelum Perang Dunia II,” penjelasan Leo Suryadinata.

Kho Ping Hoo mengalami masa-masa perang. Penulisan novel menjadi ikhtiar merawat sejarah. Ia berhak menghadirkan tokoh peranakan Tionghoa agar terungkap peran dan sikap dalam arus sejarah Indonesia. Di perkembangan kesusastraan di Indonesia, Kho Ping Hoo termasuk pengarang peranakan paling tenar. Myra Shidarta (2004) memberi pujian atas kemauan Kho Ping Hoo menulis beragam novel, tak melulu cerita silat: “Ia berusaha mendidik pembaca dengan memberikan pengetahuan mengenai fakta-fakta sejarah…” Misi terbesar dari pengabdian menggubah cerita: “membawa harmoni dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.”

Kita mengutip lagi sejenis keterangan dalam novel gubahan Kho Ping Hoo: “17 Agustus 1945. Indonesia merdeka! Banyak air mata haru bercucuran menyambut berita ini, yang selama ini hanya merupakan surya tertutup awan hitam di alam mimpi. Indonesia merdeka! Bebas daripada belenggu penjajahan, bebas dari Belanda dan Jepang. Indonesia dengan ribuan pulaunya, dengan gunung-gunung berapinya, dengan pantai-pantainya, seluruh tanah dan airnya adalah milik kita sendiri! Siapa-siapa pun yang akan mencoba untuk merampasnya kembali, biar mereka itu dewa ataupun setan-setan, akan berhadapan dengan seluruh rakyat yang bertekad bulat mempertahankannya!” 

Kalimat-kalimat mungkin berlebihan. Kita agak maklum penafsiran atas sejarah kemerdekaan itu meluap gara-gara novel rampung ditulis di pertengahan Desember 1965. Kho Ping Hoo menggarap novel setelah dampak-dampak besar melapetaka 1965. 

Novel berjudul Merdeka atau Mati tak dijanjikan cetak ulang saat peringatan 100 tahun Kho Ping Hoo. Persembahan novel kecil dan tipis dari Kho Ping Hoo bisa terbaca bersanding buku tebal garapan MC Ricklefs berjudul Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (2005). Sejarawan kondang menerangkan situasi berlatar proklamasi, 17 Agustus 1945: “Zaman Jepang telah menciptakan kondisi yang kacau, telah mempolitisasi rakyat, dan mendorong para pemimpin dari generasi tua maupun muda untuk mengambil prakarsa, sehingga pihak Sekutu menghadapi suatu perang kemerdekaan revolusioner.”   

Kho Ping Hoo tak menulis buku sejarah tapi menghadirkan novel memuat ingatan sejarah. Ia kadang sengaja memberi penerangan sebagai sisipan pengisahan. Di novel, ingatan ditulis dalam kalimat-kalimat menggebu: “Terjadilan percobaan perampasan kembali itu! Bukan oleh dewata, bukan pula oleh setan neraka, melainkan oleh Belanda sendiri yang dibantu oleh Inggris. Dengan segala macam jalan, politik maupun kekerasan, Belanda menuntut kembalinya tanah jajahannya. Rakyat serta merta menolak!” 

Novel telah ditulis dan diterbitkan. Kho Ping Hoo ingin para pembaca turut dalam pemaknaan merdeka. Ia sekadar memberi cerita, membujuk pembaca mengingat sejarah (Indonesia) tanpa melupakan peran kaum peranakan Tionghoa. Begitu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.