Mubadalah.id – Pelik, satu kata yang terpikirkan oleh saya. Saat melihat cuplikan foto yang berisi open donasi yang dilakukan pemerintah. Demi memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang terdampak bencana. Agak tidak pantas, di saat rakyat membutuhkan bantuan dengan segera, Negara malah berpesta ria. Menyelenggarakan segala resepsi menggunakan kas Negara. Berbeda dengan tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat.
Menurut data dari Indonesia Corruption Watch (ICW), terdapat anggaran tidak masuk akal pada saat istana merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 lalu. Yaitu pengadaan burung merpati yang mencapai angka tiga ratus juta. Juga pengadaan souvenir yang mencapai 21,7 miliar rupiah. Tentu saja ini adalah angka yang fantastis. Yang tidak etis Negara gunakan untuk berpesta di saat rakyat berduka.
Dari Rakyat untuk Rakyat
Memang benar, tidak ada peri bahasa dari pejabat untuk rakyat. Yang ada hanyalah dari rakyat untuk rakyat. Seperti yang masyarakat Sumatera Barat lakukan. Sejak 2016, Sumatera Barat konsisten mengirimkan bantuan berupa rendang kepada saudara-saudara setanah air. Yang sedang mengalami bencana alam.
Tradisi berbagi rendang ini sudah mulai Sumatera Barat lakukan sejak terjadi Gempa di Pidie Jaya pada tahun 2016. Berlanjut dengan mengirimkan 1 ton rendang di tahun 2018 pada saat terjadi gempa di Lombok. Di tahun yang sama mereka juga mengirimkan 1,6 ton rendang pada bencana gempa dan tsunami yang menimpa Palu. Dan 1 ton rendang pada tsunami yang mengenai saudara di Pesisir Selat Sunda.
Tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat terus berlanjut di tahun 2020 saat banjir bandang menghantam Bengkulu. Juga pada tahun 2021 kepada saudara di Mamuju yang terdampak gempa. Bantuan rendang sebesar 1,3 ton juga menjadi bantuan Sumatera Barat pada Gempa Cianjur di tahun 2022.
Bahkan, pada tahun lalu, saat Sumatera Barat juga terdampak bencana banjir dan longsor, berbarengan dengan Aceh dan daerah Sumatera lainnya. Masyarakat Sumatera Barat tetap melanjutkan tradisi berbagi rendang sebesar 2,5 ton. Hingga saat ini, saat di mana saudara kita di NTT sedang mengalami kesulitan karena terdampak gempa pada tanggal 15 Agustus 2026 kemarin. Sumatera Barat telah mengirimkan rendang sebesar 2,5 ton sebagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan para korban.
Bahasa Cinta Kemanusiaan
Tradisi berbagi rendang pada saudara yang terdampak bencana tampaknya menjadi bahasa cinta masyarakat Sumatera Barat. Di saat banyak orang yang memberikan bantuan berupa beras dan kebutuhan lainnya. Sumatera Barat memiliki ide bahwa penyintas bencana juga bisa makan enak, yaitu rendang.
Terlebih, rendang memang simbolik makanan khas Minangkabau. Maka saat memberi bantuan pun. Mereka tetap menjunjung tradisi. Kemanfaatan rendang yang merupakan pangan praktis, tahan lama, dan bisa langsung dimakan tanpa perlu masak kembali. Adalah sebuah bantuan yang tepat bagi para penyintas bencana yang belum tentu memiliki peralatan dapur.
Tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat ini wajib menjadi percontohan masyarakat di daerah lainnya. Karena lewat tradisi kita bisa ikut memberi. Ini adalah contoh empati yang paling konkret daripada pejabat yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Karena mendahulukan seremoni yang membuang anggaran Negara di saat bencana di mana-mana.
Dengan tradisi berbagi rendang, masyarakat Sumatera Barat tidak hanya menyebarkan, tapi telah mempraktikkan secara langsung. Cara membangun kesetaraan sosial terhadap sesama. Juga meningkatkan rasa peduli pada kondisi dan situasi sesama manusia. Karena pada dasarnya, manusia memiliki fitrah untuk saling membantu di saat orang lain mengalami kesulitan. []





Comments are closed.