Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Tradisi Berbagi Rendang saat Bencana, Bahasa Cinta Masyarakat Sumatera Barat

Tradisi Berbagi Rendang saat Bencana, Bahasa Cinta Masyarakat Sumatera Barat

tradisi-berbagi-rendang-saat-bencana,-bahasa-cinta-masyarakat-sumatera-barat
Tradisi Berbagi Rendang saat Bencana, Bahasa Cinta Masyarakat Sumatera Barat
service

Mubadalah.id – Pelik, satu kata yang terpikirkan oleh saya. Saat melihat cuplikan foto yang berisi open donasi yang dilakukan pemerintah. Demi memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang terdampak bencana. Agak tidak pantas, di saat rakyat membutuhkan bantuan dengan segera, Negara malah berpesta ria. Menyelenggarakan segala resepsi menggunakan kas Negara. Berbeda dengan tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat.

Menurut data dari Indonesia Corruption Watch (ICW), terdapat anggaran tidak masuk akal pada saat istana merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 lalu. Yaitu pengadaan burung merpati yang mencapai angka tiga ratus juta. Juga pengadaan souvenir yang mencapai 21,7 miliar rupiah. Tentu saja ini adalah angka yang fantastis. Yang tidak etis Negara gunakan untuk berpesta di saat rakyat berduka.

Dari Rakyat untuk Rakyat

Memang benar, tidak ada peri bahasa dari pejabat untuk rakyat. Yang ada hanyalah dari rakyat untuk rakyat. Seperti yang masyarakat Sumatera Barat lakukan. Sejak 2016, Sumatera Barat konsisten mengirimkan bantuan berupa rendang kepada saudara-saudara setanah air. Yang sedang mengalami bencana alam.

Tradisi berbagi rendang ini sudah mulai Sumatera Barat lakukan sejak terjadi Gempa di Pidie Jaya pada tahun 2016. Berlanjut dengan mengirimkan 1 ton rendang di tahun 2018 pada saat terjadi gempa di Lombok. Di tahun yang sama mereka juga mengirimkan 1,6 ton rendang pada bencana gempa dan tsunami yang menimpa Palu. Dan 1 ton rendang pada tsunami yang mengenai saudara di Pesisir Selat Sunda.

Tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat terus berlanjut di tahun 2020 saat banjir bandang menghantam Bengkulu. Juga pada tahun 2021 kepada saudara di Mamuju yang terdampak gempa. Bantuan rendang sebesar 1,3 ton juga menjadi bantuan Sumatera Barat pada Gempa Cianjur di tahun 2022.

Bahkan, pada tahun lalu, saat Sumatera Barat juga terdampak bencana banjir dan longsor, berbarengan dengan Aceh dan daerah Sumatera lainnya. Masyarakat Sumatera Barat tetap melanjutkan tradisi berbagi rendang sebesar 2,5 ton. Hingga saat ini, saat di mana saudara kita di NTT sedang mengalami kesulitan karena terdampak gempa pada tanggal 15 Agustus 2026 kemarin. Sumatera Barat telah mengirimkan rendang sebesar 2,5 ton sebagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan para korban.

Bahasa Cinta Kemanusiaan

Tradisi berbagi rendang pada saudara yang terdampak bencana tampaknya menjadi bahasa cinta masyarakat Sumatera Barat. Di saat banyak orang yang memberikan bantuan berupa beras dan kebutuhan lainnya. Sumatera Barat memiliki ide bahwa penyintas bencana juga bisa makan enak, yaitu rendang.

Terlebih, rendang memang simbolik makanan khas Minangkabau. Maka saat memberi bantuan pun. Mereka tetap menjunjung tradisi. Kemanfaatan rendang yang merupakan pangan praktis, tahan lama, dan bisa langsung dimakan tanpa perlu masak kembali. Adalah sebuah bantuan yang tepat bagi para penyintas bencana yang belum tentu memiliki peralatan dapur.

Tradisi berbagi rendang ala Sumatera Barat ini wajib menjadi percontohan masyarakat di daerah lainnya. Karena lewat tradisi kita bisa ikut memberi. Ini adalah contoh empati yang paling konkret daripada pejabat yang membutuhkan waktu yang lebih lama. Karena mendahulukan seremoni yang membuang anggaran Negara di saat bencana di mana-mana.

Dengan tradisi berbagi rendang, masyarakat Sumatera Barat tidak hanya menyebarkan, tapi telah mempraktikkan secara langsung. Cara membangun kesetaraan sosial terhadap sesama. Juga meningkatkan rasa peduli pada kondisi dan situasi sesama manusia. Karena pada dasarnya, manusia memiliki fitrah untuk saling membantu di saat orang lain mengalami kesulitan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.