Mubadalah.id – Petikan gitar akustik yang mendayu dan suara bariton khas Ebiet G. Ade seolah sudah menjadi semacam lagu wajib nasional setiap kali duka melanda bumi pertiwi. Melalui tembang legendaris “Berita Kepada Kawan” yang rilis pada tahun 1979, sang maestro merapal sebuah nubuat yang usianya jauh melampaui zaman.
Puluhan tahun berlalu sejak lagu itu pertama kali mengudara, lirik-liriknya tidak pernah terasa usang. Sebaliknya, di tengah rentetan bencana alam yang silih berganti menghantam hari ini—mulai dari banjir bandang, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem yang tak menentu—pesan-pesan puitis tersebut kini menjelma menjadi tamparan keras yang membangunkan kita dari tidur panjang kelalaian.
Kita sering kali memposisikan diri sebagai korban ketika alam mengamuk. Kita meratapi rumah yang tenggelam, ladang yang hancur, dan infrastruktur yang luluh lantak, sembari sibuk merangkai doa-doa memohon keselamatan. Namun, kita teramat jarang mengambil jeda sejenak untuk menatap cermin dan merefleksikan peran kita dalam semua kehancuran ini.
Ebiet G. Ade telah memotret ironi ini dengan sangat tajam puluhan tahun silam. Hari ini, melalui duka dan kehilangan akibat anomali alam, pesan itu menemukan relevansinya yang paling nyata, menyayat, dan menuntut pertanggungjawaban moral dari kita semua sebagai penghuni bumi.
“Alam Mulai Enggan Bersahabat”: Bukan Lagi Metafora, Melainkan Realita
Dalam salah satu baitnya yang paling ikonik, Ebiet melantunkan, “Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.” Di era 80-an atau 90-an, kalimat ini mungkin terdengar bagaikan kiasan melankolis semata. Namun hari ini, “keengganan” alam itu mewujud dalam bentuk tragedi ekologis yang kasat mata dan merenggut banyak hal berharga dari kehidupan kita. Alam tidak hanya “enggan”, tetapi benar-benar sedang menunjukkan batas kelelahannya. Atau seperti ungkapan banyak orang hari ini, alam sudah mulai capek.
Coba kita amati rentetan peristiwa lingkungan belakangan ini. Hujan deras yang dulu kita nanti sebagai sumber kehidupan bagi petani, kini berubah menjadi ancaman mematikan yang sewaktu-waktu membawa lumpur dan material longsor.
Sungai-sungai yang dulu mengalir tenang membelah kota, kini meluap merendam ribuan rumah. Tak mampu lagi menampung debit air karena daerah hulu telah gundul tertebang habis. Musim kemarau pun tak kalah mengerikan. Panas yang menyengat ekstrem, kekeringan berkepanjangan, hingga kebakaran hutan dan lahan yang asapnya mencekik pernapasan jutaan orang.
Ini adalah bukti empiris bahwa keseimbangan ekosistem telah rusak parah. Bumi tidak lagi bersahabat karena manusia sendirilah yang memutus tali persahabatan itu. Kita membabat hutan hujan tropis demi perkebunan monokultur, kita mengeruk perut bumi tanpa memikirkan reklamasi. Lantas, kita menutupi pori-pori tanah dengan hamparan aspal dan beton tanpa menyisakan ruang bagi air untuk meresap.
Ketika alam kehilangan ruang dan kemampuannya untuk memulihkan diri (resiliensi), dan akan mencari jalannya sendiri untuk mencari keseimbangan baru. Sayangnya, proses “mencari keseimbangan” ala alam ini selalu harus terbayar mahal oleh manusia dalam wujud bencana.
“Bangga dengan Dosa-Dosa”: Eksploitasi Tanpa Henti dan Hilangnya Rasa Bersalah
Tamparan paling telak dari lagu ini terletak pada penggalan lirik, “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.”
Jika kita kontekstualisasikan dengan krisis iklim saat ini, “dosa-dosa” yang dimaksud bukanlah semata-mata dosa spiritual privat, melainkan dosa-dosa ekologis. Dosa ekologis adalah tindakan perusakan lingkungan yang kita lakukan secara sadar, sistematis, dan sering kali berlindung di balik tameng pembangunan, kemajuan ekonomi, atau kesejahteraan yang semu.
Yang membuat lirik ini sangat menohok adalah penggunaan kata “bangga”. Betapa seringnya kita melihat perusakan alam kita rayakan seolah-olah itu adalah sebuah prestasi agung. Pembukaan lahan hutan besar-besaran kita banggakan sebagai investasi bernilai triliunan rupiah yang akan mengerek ekonomi negara.
Pendirian pabrik-pabrik di sepanjang daerah aliran sungai diresmikan dengan pita dan tepuk tangan karena dianggap menyerap tenaga kerja. Seraya menutup mata bahwa ekosistem air di sekitarnya sedang terbunuh perlahan oleh limbah beracun. Kita bangga dengan gaya hidup modern yang serba instan, memproduksi ribuan ton sampah plastik setiap harinya. Tanpa peduli bahwa plastik-plastik itu berakhir menyumbat muara atau meracuni biota laut.
Sistem ekonomi dan gaya hidup kita telah menormalisasi eksploitasi massal. Rasa bersalah (guilt) terhadap lingkungan telah menguap, tergantikan oleh hitung-hitungan profit, pertumbuhan grafik, dan ego sektoral.
Ketika dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hanya menjadi formalitas di atas kertas, atau ketika tata ruang dilanggar demi mendirikan vila mewah di kawasan resapan air, di situlah kita secara kolektif mempraktikkan sikap “bangga dengan dosa-dosa”.
Keserakahan antroposentrisme—yang merasa manusia adalah penguasa mutlak atas alam—telah membutakan nurani kita. Hingga akhirnya siklus itu pecah, dan alam datang menagih “kredit” kerusakan yang telah kita pinjam darinya.
“Bertanya pada Rumput yang Bergoyang”: Seruan Kesadaran Ekologis dan Pertobatan Kolektif
Sebagai penutup yang epik, Ebiet G. Ade menawarkan sebuah jalan keluar yang sarat akan kedalaman filosofis: “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.” Mengapa harus merujuk pada rumput?
Rumput adalah simbol dari elemen alam yang paling diam, paling kecil, paling sering diinjak dan diabaikan, namun amat sangat sensitif terhadap arah angin dan perubahan cuaca. Bertanya pada rumput yang bergoyang adalah sebuah panggilan untuk merendahkan hati, untuk menekan ego kemanusiaan kita, dan mau mendengarkan rintihan alam.
Di tengah kepanikan saat bencana melanda, kebiasaan buruk kita adalah sibuk mencari kambing hitam. Kita menyalahkan curah hujan yang kelewat ekstrem, menggerutu pada pemerintah yang lambat membangun infrastruktur anti-banjir, atau hanya pasrah berlindung di balik takdir Tuhan.
Padahal, jawaban sesungguhnya bersemayam dalam keseharian kita sendiri. Bertanya pada rumput yang bergoyang berarti kita diajak berintrospeksi: Apakah gaya hidup kita sudah menekan jejak karbon? Apakah kita masih sering membuang sampah sembarangan? Apakah kebijakan publik yang kita dukung berpihak pada keberlanjutan lingkungan?
Menghadapi masa depan yang dipenuhi oleh ancaman krisis iklim global, kita membutuhkan lebih dari mitigasi bencana yang bersifat teknis (seperti membangun tanggul tinggi atau alarm peringatan dini).
Kita amat sangat membutuhkan apa yang disebut sebagai pertobatan ekologis (ecological repentance). Pertobatan ini menuntut perubahan paradigma yang radikal; bergeser dari sifat eksploitatif menjadi berprinsip pada keberlanjutan. Kita harus mulai memperlakukan alam sebagai subjek yang bernyawa, bukanlah objek penderita yang bebas diperas.
Lagu “Berita Kepada Kawan” pada hakikatnya tidak hanya ratapan melankolis pengiring duka di layar televisi. Lagu tersebut menjadi manifesto pelestarian lingkungan yang jauh mendahului zamannya.
Ebiet G. Ade telah menitipkan pesan dan peringatan yang sangat terang benderang puluhan tahun silam. Jika rentetan banjir, longsor, polusi udara, dan kekeringan hari ini masih belum juga cukup untuk menyadarkan kita, maka kita patut bertanya pada diri sendiri: sekeras apa lagi tamparan yang kita butuhkan agar mau berubah?
Sebelum Sang Pencipta benar-benar bosan dan alam benar-benar menolak bersahabat, mari kita segera berbenah. Rawatlah bumi ini hari ini, agar anak cucu kita kelak tidak perlu meneteskan air mata yang sama saat mendengar lagu ini. []





Comments are closed.