Mubadalah.id – Pendidikan adalah salah satu cara kunci dalam mencegah penyebaran AIDS di tingkat masyarakat. Antara lain:
Pertama, latih para remaja putri dan perempuan dewasa untuk menjadi pendidik di lingkungan teman sebaya masing-masing. Secara perorangan maupun berkelompok, teman-teman mereka bisa diberi pelajaran tentang penularan dan pencegahan AIDS.
Di dalamnya termasuk pengenalan tubuh sendiri, pengetahuan seks, dan pembangkitan gerakan untuk menuntut seks yang aman.
Kedua, jelaskan keadaan yang sesungguhnya tentang risiko perempuan untuk tertular HIV/AIDS. Bantulah masyarakat untuk mengenali dan mengakui kenyataan bahwa AIDS berakar pada kemiskinan dan kurangnya kendali perempuan atas berbagai keputusan seksual.
Ketiga, gunakan teater atau media lain untuk mengajar perempuan bahwa “bicara AIDS tidaklah haram”. “Perempuan baik-baik” dan “gadis baik-baik” pun boleh bebas membicarakan masalah AIDS dengan sesama mereka maupun dengan pasangan masing-masing, termasuk membicarakan pencegahan dengan kondom.
Jelaskan Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Keempat, pada saat yang sama, ajukan gagasan yang berbeda tentang “apa arti menjadi perempuan” dan “apa arti menjadi laki-laki”.
Dorong masyarakat untuk menggugat dan mempertanyakan gagasan-gagasan yang menyesatkan dan merugikan tentang “kejantanan” dan tentang “perempuan baik-baik”. Tunjukkan sejelas-jelasnya bagaimana gagasan-gagasan semacam itu merugikan kesehatan kedua belah pihak dan anak-anak mereka.
Misalnya, gagasan bahwa laki-laki “jantan” punya banyak pacar atau pasangan seksual, dan “perempuan baik-baik” tidak akan membicarakan seks dengan siapa pun, terlebih meminta suami memakai kondom untuk mencegah penularan penyakit.
Anak-anak yang lahir akan dirugikan bila kesehatan bapak dan ibunya buruk akibat gagasan-gagasan semacam itu. Bayi bisa langsung terkena HIV sejak lahir, dan kelak mereka akan meniru tingkah laku bapak atau ibu mereka jika sudah besar.
Kelima, dorong dan bantulah pemuka masyarakat, pemimpin agama, guru, dan sebagainya untuk bebas membicarakan masalah seks dan AIDS dengan orang-orang yang memandang mereka sebagai tokoh panutan.
Keenam, pastikan agar semua orang mendapat akses ke informasi serta layanan kesehatan seksual, termasuk akses ke alat-alat kontrasepsi, khususnya kondom.
Ketujuh, bawa pendidikan tentang mencegah AIDS ke dalam tempat-tempat pertemuan umum, seperti warung makan, sekolah, pertemuan keagamaan, musyawarah kampung/desa, dan pangkalan militer. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 402.





Comments are closed.