Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ngatawi Al-Zastrouw: Seni Harus Jadi Jangkar Peradaban di Tengah Arus Kota Global

Ngatawi Al-Zastrouw: Seni Harus Jadi Jangkar Peradaban di Tengah Arus Kota Global

ngatawi-al-zastrouw:-seni-harus-jadi-jangkar-peradaban-di-tengah-arus-kota-global
Ngatawi Al-Zastrouw: Seni Harus Jadi Jangkar Peradaban di Tengah Arus Kota Global
service

Jakarta, NU Online

Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Ngatawi Al-Zastrouw menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun kota global yang berkarakter dan beradab.

Ia menilai seni tidak boleh semata-mata dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan harus ditempatkan sebagai fondasi peradaban yang menjaga jati diri masyarakat.

“Dalam perspektif pekerja seni dan budayawan, seni dalam lanskap kota global adalah jangkar peradaban. Ia (seni) menjaga masyarakat agar tidak hanyut dalam arus kompetisi kebudayaan global,” ujar Zastrouw saat menyampaikan Orasi Budaya Seni dalam Lanskap Kota Global Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.

Zastrouw menjelaskan bahwa ciri kota global hanya ada tiga. Pertama, menjadi pusat perekonomian dunia. Kedua, didukung teknologi yang menghubungkannya dengan masyarakat global. Ketiga, memiliki kebudayaan unggul untuk berkomunikasi secara global.

Zastrouw menekankan bahwa seni harus siap berperan sebagai tim kreator, inovator, dan produsen nilai ekonomi. Ia mengingatkan, apabila seni hanya diposisikan sebagai sesuatu yang bisa dijual, maka berbagai kesenian tradisional akan habis karena dianggap tidak kompatibel dengan pasar, seperti lenong dan pendalangan.

“Lalu, di mana posisi seni? Tergantung cara pandang. Dalam perspektif teknokratik, ekonomis, dan kapitalistik, seni diposisikan sebagai sesuatu yang bisa dijual, menghasilkan uang, dan menjadi sumber daya ekonomi global,” ujarnya.

Zastrouw menekankan pentingnya menyiapkan bukan hanya seni yang laku dijual, tetapi juga seni yang berakar pada nilai, norma, dan karakter masyarakatnya, kemudian dikembangkan secara kreatif dan inovatif agar kompatibel dengan tuntutan kota global.

“Bukan kapitalisasinya yang utama, melainkan fondasi dan karakter senimannya. Apakah ini bisa? Bisa. Lihat Cina. Cina mempersiapkan masyarakat seninya sejak Revolusi Kebudayaan. Pasca-Perang Dingin, Cina merekonstruksi kebudayaannya melalui kapitalisme negara, sehingga senimannya kreatif dan inovatif tanpa tenggelam dalam arus global,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan seniman Jepang yang mengeksplorasi khazanah peradaban dan keseniannya sendiri. Menurutnya, para seniman Jepang tidak mematikan atau menyingkirkan potensi lokal, melainkan menjadikannya sebagai sumber daya yang diciptakan ulang agar kompatibel dengan kota global.

Zastrouw menekankan bahwa tugas bersama adalah memastikan seniman memiliki kreativitas dan karakter yang kuat, serta mendorong kepedulian pemerintah terhadap dunia seni. Ia menilai, nasib seniman saat ini kerap terpinggirkan dan kurang mendapat perhatian.

“Karena nasib seniman hari ini seperti anak yatim dicari saat butuh pahala, ditinggalkan setelah tidak dibutuhkan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam lanskap kota global, yang dibutuhkan adalah seniman kreatif dan inovatif yang mampu mengenali potensi kebudayaannya sebagai sumber daya ekonomi sekaligus peradaban. Adapun persoalan teknik, skenario, dan peta jalan dapat dibicarakan pada kesempatan lain.

“Dalam lanskap kota global, yang dibutuhkan adalah seniman kreatif dan inovatif yang mampu mengenali potensi kebudayaannya sebagai sumber daya ekonomi dan peradaban. Teknik, skenario, dan roadmap bisa dibicarakan lain waktu,” ujarnya.

Zastrouw menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya kesenian yang luar biasa, mulai dari seni tari, musik, hingga sastra. Namun, kekayaan tersebut selama ini tersumbat oleh dua persoalan utama, yakni kapitalisme seni yang menilai seni semata dari aspek jual-beli serta puritanisme agama yang memandang seni sebagai bid’ah, sesat, dan mengotori agama.

“Maka tugas masyarakat seni Jakarta adalah membuka sumbatan-sumbatan peradaban ini agar mata air seni kembali mengalir jernih. Jangan sampai kekayaan seni kita hanya jadi bahan baku yang kemudian dihilirisasi oleh Barat. Hilirisasi tidak hanya soal tambang, tapi juga seni dan budaya,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.