Mon,18 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ekspansi Sawit di Papua Berisiko, Bukan Solusi Energi

Ekspansi Sawit di Papua Berisiko, Bukan Solusi Energi

ekspansi-sawit-di-papua-berisiko,-bukan-solusi-energi
Ekspansi Sawit di Papua Berisiko, Bukan Solusi Energi
service

Rencana perluasan kebun sawit untuk bioenergi yang Presiden Prabowo Subianto sampaikan terus menuai kritikan. Terlebih, di tengah bencana melanda berbagai daerah hingga kini termasuk penanganan kerusakan pasca bencana besar di Sumatera lalu belum juga selesai. Berbagai kalangan mengingatkan,  bahaya dan risiko kalau mengubah hutan dan lahan di Papua untuk kebun sawit. Bagi Prabowo, ekspansi sawit itu bagian dari strategi mencapai swasembada energi nasional dalam lima tahun ke depan. Dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, dia menyatakan, penanaman sawit di Papua untuk menghasilkan bahan bakar nabati hingga daerah itu mampu menikmati hasil energi yang diproduksi sendiri. Prabowo juga menyinggung besarnya impor BBM Indonesia mencapai Rp520 triliun per tahun dan meyakini pengembangan sawit, singkong, serta tebu untuk bioenergi dapat menghemat ratusan triliun rupiah setiap tahun. Achmad Surambo Direktur Eksekutif Sawit Watch mengatakan, seharusnya bencana ekologis di Sumatera menjadi peringatan keras. Di pulau itu, luas tutupan sawit melebihi kapasitas ekosistem dengan defisit daya dukung hingga jutaan hektar, termasuk area kritis seperti lahan gambut dan daerah tangkapan air. “Banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Mandailing Natal, dan Pesisir Selatan bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan konsekuensi dari konversi hutan primer menjadi monokultur sawit,” kata Rambo, sapaan akrabnya. Rencana ekspansi sawit ini, selaras dengan target ekstensifikasi lahan 600.000 hektar pada 2026 dan kebijakan mandatori B50.  Sawit Watch menilai, tindakan ini sebagai strategi “jalan pintas” yang sarat risiko—dapat memicu bencana ekologis, konflik agraria, dan krisis pangan. Analisis Sawit Watch berdasarkan riset Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) menunjukkan,  luas perkebunan sawit eksisting…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.