Mon,18 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Opini: Jaga Kawasan Ekosistem Leuser = Jaga Ruang Fiskal Aceh dan Sumut

Opini: Jaga Kawasan Ekosistem Leuser = Jaga Ruang Fiskal Aceh dan Sumut

opini:-jaga-kawasan-ekosistem-leuser-=-jaga-ruang-fiskal-aceh-dan-sumut
Opini: Jaga Kawasan Ekosistem Leuser = Jaga Ruang Fiskal Aceh dan Sumut
service

Ketika banjir bandang dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah Aceh dan sekitarnya (Rabu, 26 November 2025), di banyak tempat, ia membawa material lumpur, batu, dan kayu; akses jalan terputus, aktivitas ekonomi tersendat, dan pemulihan menuntut biaya besar. Peristiwa itu mudah dibaca sebagai musibah cuaca semata. Namun, ia juga dapat berarti alarm kebijakan, ada sesuatu yang salah. Ketika benteng alam di hulu, yaitu Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) melemah, maka pembangunan di hilir ikut terseret. Hutan yang utuh menahan air hujan, mengurangi limpasan permukaan, menekan erosi, dan menjaga aliran dasar saat kemarau. Saat ekosistem hutan di hulu DAS rusak, limpasan dan sedimen meningkat; sungai lebih cepat meluap; dan lereng lebih rentan runtuh. Dengan demikian, seharusnya cara pandang Pemerintah Daerah dan Pusat tidak hanya melihat KEL sebagai kawasan yang kaya keragaman hayati, tetapi juga harus dibaca sebagai infrastruktur dasar yang tak terlihat. Sayangnya, arsitektur perencanaan pembangunan masih sering memosisikan konservasi sebagai urusan sektoral. Ia berhenti di dokumen lingkungan atau program satu-dua OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Salah satu titik terdampak banjir dan longsor di Sumatera Utara, pada penghujung Desember lalu. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia Menelaah Kerugian Fiskal  Ketika bencana datang, barulah kita sadar untuk membayar “tagihan” yang sesungguhnya: jalan rusak, irigasi tertimbun, produksi kebun dan sawah turun, sekolah dan layanan kesehatan terganggu, dan APBD terpaksa beralih dari pembangunan ke pemulihan. Pascabanjir bandang 26 November 2025, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melaporkan kerusakan dan kerugian mencapai lebih dari Rp1,1 triliun. Ini contoh bagaimana bencana hidrometeorologi dapat mengguncang fiskal daerah hanya dalam satu kejadian. Di tingkat provinsi,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.