Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Puasa Bedug untuk Anak: Hukum dan Cara Melatihnya

Puasa Bedug untuk Anak: Hukum dan Cara Melatihnya

puasa-bedug-untuk-anak:-hukum-dan-cara-melatihnya
Puasa Bedug untuk Anak: Hukum dan Cara Melatihnya
service

Arina.id – Secara bahasa, puasa berarti imsak, yakni menahan diri dari sesuatu, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri. Adapun dalam istilah fikih, puasa dimaknai sebagai menahan diri dari segala hal yang membatalkannya dengan syarat-syarat tertentu, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat.

Dalam literatur fikih mazhab Syafi’i, puasa didefinisikan sebagai menahan diri dari segala pembatal sejak fajar hingga magrib dengan niat tertentu. Lalu muncul pertanyaan: bagaimana dengan praktik “puasa bedug” yang dilakukan anak kecil, yakni berpuasa hingga waktu Dzuhur?

Hukum Puasa bagi Anak yang Belum Baligh

Pembahasan mengenai puasa anak kecil dapat ditemukan dalam kitab Umdatul Qari karya Badruddin al-Aini. Ia menjelaskan bahwa mayoritas ulama sepakat puasa tidak wajib bagi anak yang belum baligh. Namun, sebagian ulama salaf seperti Ibnu Sirin dan Az-Zuhri menganjurkan agar anak dilatih berpuasa.

Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat Imam Syafi’i yang menyarankan agar anak diperintahkan berpuasa sebagai bentuk latihan (tamrin) apabila sudah mampu. Dalam mazhab Syafi’i, usia tujuh hingga sepuluh tahun sering dijadikan patokan awal pembiasaan, sebagaimana latihan sholat. Sementara ulama lain memiliki batas usia berbeda, seperti 10 atau 12 tahun.

Ibnu Baththal menegaskan adanya kesepakatan ulama bahwa kewajiban ibadah fardhu baru berlaku setelah baligh. Meski demikian, mendidik anak untuk terbiasa beribadah sejak dini dinilai sebagai langkah baik agar kelak mereka lebih siap ketika kewajiban itu benar-benar dibebankan.

Artinya, puasa anak kecil bersifat pendidikan, bukan kewajiban. Maka praktik puasa setengah hari atau “puasa bedug” tidaklah terlarang, selama dimaksudkan sebagai latihan.

Cara Bijak Melatih Anak Berpuasa

Mengajak anak berpuasa tentu bukan hal mudah. Jika dilakukan dengan paksaan, justru bisa menimbulkan penolakan. Karena itu, pendekatan yang lembut dan kreatif sangat diperlukan.

Seorang ulama asal Suriah, Syekh Muhammad Hisan, menyarankan agar anak dilatih secara bertahap. Misalnya, pada hari pertama berpuasa beberapa jam saja, lalu meningkat menjadi setengah hari, hingga akhirnya mampu berpuasa penuh. Orang tua juga dianjurkan mengalihkan perhatian anak dengan permainan atau cerita agar mereka tidak terlalu fokus pada rasa lapar dan haus.

Teladan ini juga tampak dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang puasa Asyura. Diceritakan bahwa para sahabat melatih anak-anak mereka berpuasa dan memberikan mainan dari benang wol untuk menghibur mereka ketika menangis karena lapar, hingga tiba waktu berbuka.

Tiga Pelajaran Penting bagi Orang Tua

Dari penjelasan ini, ada beberapa poin yang bisa menjadi pegangan:

  1. Memberi teladan. Anak lebih mudah diajak berpuasa jika melihat orang tuanya menjalankannya dengan penuh semangat.
  2. Melibatkan anak dalam momen Ramadhan. Mengajak anak sahur dan berbuka bersama membuat mereka merasa menjadi bagian dari ibadah orang dewasa.
  3. Memberikan apresiasi. Sekalipun hanya mampu berpuasa setengah hari, apresiasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk mencoba lebih baik lagi.

Dengan demikian, puasa bedug atau puasa setengah hari bagi anak bukanlah praktik yang keliru. Justru, jika dilakukan secara bertahap dan penuh kasih sayang, hal itu dapat menjadi sarana pendidikan spiritual yang efektif. Melalui pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan, anak akan tumbuh dengan kesadaran serta tanggung jawab terhadap ibadahnya sendiri di masa depan. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.