Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Proyek Pangan dan Energi Papua Gerus Alam dan HAM

Ketika Proyek Pangan dan Energi Papua Gerus Alam dan HAM

ketika-proyek-pangan-dan-energi-papua-gerus-alam-dan-ham
Ketika Proyek Pangan dan Energi Papua Gerus Alam dan HAM
service

Pagi itu, yang biasa jadi ruang doa dan aspirasi berubah menjadi ketegangan. Pada 25 Januari 2026, aparat kepolisian membubarkan paksa aksi damai warga Papua di halaman Katedral Katolik St. Francis Xavier, Merauke, Papua Selatan.  Mereka menyuarakan kekhawatiran ruang hidup masyarakat hilang karena masuk proyek pangan (food estate) di sana. Sebelas orang ditangkap, sejumlah demonstran mengaku dipukuli, dan sebagian menyebut telepon genggam mereka disita sebelum akhirnya dibebaskan tanpa dakwaan pada tengah malam. Tak ada penjelasan dasar hukum penahanan. Tak ada proses klarifikasi terbuka. Bagi warga yang hadir hari itu, peristiwa itu meninggalkan rasa takut yang tak mudah hilang. Kesaksian korban mengungkap kekerasan yang dialami. Stenlhy Dambujai mengatakan,  dicekik dan dipukul. Dua perempuan muda, Maria Amote dan Angel Gebze, dipukul di kepala dengan pentungan. Setelah dibawa ke pos polisi lalu lintas, mereka kembali dipukuli sebelum dipindahkan ke Polres Merauke untuk interogasi. Polisi juga menyita ponsel salah satu peserta aksi dan baru mengembalikan setelah foto serta video dihapus. “Saya merasa tidak aman. Seperti terus diawasi,” kata Dambujai. Human Rights Watch menyebut,  pembubaran itu melanggar hukum. “Masyarakat Adat Papua memiliki hak untuk memprotes proyek food estate Merauke tanpa harus khawatir dipukuli, ditangkap, dan ditahan,” kata Meenakshi Ganguly, Wakil Direktur Asia Human Rights Watch. Laporan Human Rights Watch (HRW) yang Mongabay terima menyebutkan,  aparat melakukan pembubaran dengan kekerasan yang tidak perlu terhadap anggota Suara Kelompok Awam Katolik Regio Papua yang berkumpul untuk menyuarakan penolakan terhadap proyek pangan dan energi di Merauke. Para peserta aksi meminta pemuka gereja bersikap melindungi masyarakat adat yang terdampak proyek pangan berskala…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.