Jakarta, Arina.id—Cendekiawan sekaligus dosen filsafat, Fahruddin Faiz, menjelaskan bahwa salah satu kunci utama dalam hubungan persahabatan yang langgeng adalah kemampuan untuk saling memaklumi dengan kesabaran.
Prinsip tersebut, menurutnya, dapat ditemukan dalam syair-syair sufi karya Jalaluddin Rumi.
Fahruddin Faiz mengutip pesan Rumi yang menekankan pentingnya menemukan sahabat yang mampu memahami dan menerima keadaan kita dalam berbagai situasi.
“Temukanlah seorang teman yang mau memaklumimu dengan kesabaran,” ujar Fahruddin Faiz dalam tayangan video Channel Ngaji Filsafat diakses Minggu (15/3/2026).
Menurutnya, sikap memaklumi merupakan inti dari persahabatan sejati. Pemakluman berarti kesediaan untuk menerima keadaan orang lain apa adanya, termasuk ketika situasi tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Ia mencontohkan ungkapan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yakni “harap maklum”, yang biasanya disampaikan ketika terjadi sesuatu yang kurang ideal.
“Pemakluman itu sebenarnya kesediaan untuk menerima apa pun situasinya. Misalnya ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan, lalu kita mengatakan ‘harap maklum’. Sahabat sejati biasanya mampu melakukan itu,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa sikap memaklumi tetap membutuhkan kesabaran dan kedewasaan agar tidak berubah menjadi sumber kejengkelan jika terjadi berulang kali.
Selain sikap saling memahami, Fahruddin Faiz juga menekankan bahwa persahabatan sejati haruslah tangguh dan tidak mudah runtuh oleh ujian. Ia mengibaratkan persahabatan seperti dupa yang diuji dengan api.
“Baik tidaknya dupa akan terlihat ketika dibakar. Persahabatan juga begitu. Ketangguhannya baru terlihat saat menghadapi masalah atau ujian,” katanya.
Ia juga menafsirkan salah satu ungkapan simbolik dalam syair Rumi tentang “meminum semangkuk racun dari sahabat”. Menurutnya, ungkapan itu bukan dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai gambaran tentang kesediaan menerima kepahitan dalam hubungan persahabatan.
“Artinya, mungkin teman kita membawa masalah atau kesulitan dalam hidup kita. Tetapi jika itu sahabat sejati, kita tetap menerima karena kita sudah bersepakat untuk bersama dalam suka maupun duka,” ujarnya.
Menurut Fahruddin Faiz persahabatan sejati tidak selalu diwarnai kemudahan. Justru melalui berbagai kesulitan, hubungan tersebut dapat menjadi semakin kuat.
“Kesulitan dalam persahabatan justru bisa mendatangkan kebahagiaan, seperti berada di taman yang indah meskipun sedang berada di tengah api,” pungkasnya.





Comments are closed.