Mubadalah.id – Di berbagai belahan dunia, komunitas disabilitas terus menggema dengan kalimat sederhana namun penuh makna: “Nothing about us without us.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup dan gerakan sosial yang lahir dari pengalaman panjang ketidakadilan.
Selama 10 tahun, pemerintah daerah di Kabupaten Garut menempatkan kaum disabilitas sebagai objek kebijakan, bukan subjek yang memiliki suara. Banyak di antara mereka membuat keputusan atas nama kepentingannya, tetapi tidak melibatkan penyandang disabilitas secara langsung. Akibatnya, banyak kebijakan tidak relevan, tidak efektif, bahkan merugikan mereka.
“Nothing about us without us” sebagai Prinsip bermakna
Prinsip “Nothing about us without us” menekankan perubahan mendasar dalam cara masyarakat memandang disabilitas. Penyandang disabilitas bukan sekadar penerima bantuan, mereka adalah individu yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan perspektif unik.
Ketika komunitas disabilitas ikut terlibat, mereka memberi masukan nyata tentang apa yang benar-benar dibutuhkan di lapangan, bukan sekadar asumsi dari pihak luar. Keterlibatan mereka membuat masyarakat menciptakan keputusan yang lebih inklusif dan tepat sasaran.
Perjuangan untuk mewujudkan partisipasi ini tidak mudah. Secara struktural, masyarakat belum membuka akses penuh terhadap pendidikan, pekerjaan, dan ruang publik.
Secara kultural, stigma dan stereotip masih melekat kuat. Banyak orang masih menganggap penyandang disabilitas “tidak mampu,” harus dikasihani, atau bahkan menjadi beban. Akibatnya, masyarakat sering menolak memberikan mereka kesempatan yang setara.
Prinsip “Nothing about us without us” juga menekankan nilai moral yang sangat dalam, yaitu menghormati martabat manusia. Setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki hak untuk didengar dan dihargai.
Ketika masyarakat mengabaikan suara penyandang disabilitas, mereka melanggar hak dasar manusia itu sendiri. Menjadi sekutu bagi kaum disabilitas berarti mendukung partisipasi mereka, bukan menggantikan suara mereka. Kita harus membuka akses, menciptakan peluang, dan memastikan mereka menempati posisi setara di berbagai aspek kehidupan.
Kisah Hanifah (Pengurus HWDI dan PPDI)
Di sebagian wilayah Garut, kesadaran akan pentingnya inklusi terus meningkat. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Hanifah salah satu peserta MGC (Mubadalah Goes To Community) Di Universitas Garut dari Lembaga disabilitas yang ada di Kabupaten Garut beliau menyampaikan sebagai disabilitas yang mempunyai semangat untuk menjalani aktivitas tanpa hambatan, mulai dari dukungan keluarga di rumah dan lingkungan sekitar seperti merasakan kenyamanan ketika menggunakan transportasi umum .
Karena itu, komunitas disabilitas harus terus memperjuangkan dan menyuarakan prinsip di atas karena Perubahan tidak muncul dalam semalam, dan harus di awali dengan keinginan diri sendiri .
Oleh sebab itu yang kita butuhkan adalah komitmen, kesadaran, dan tindakan nyata dari berbagai pihak. Pemerintah harus melibatkan penyandang disabilitas dalam setiap kebijakan yang mereka buat. Dunia usaha harus membuka lebih banyak peluang kerja yang inklusif. Termasuk sebagian masyarakat juga perlu mengubah cara pandangnya menjadi lebih terbuka dan adil.
Akhirnya, perjuangan ini bertujuan menciptakan dunia yang lebih berkeadilan. Dunia di mana setiap orang, tanpa memandang kondisi fisik atau kemampuan, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup, berkembang, dan berkontribusi.
“Nothing about us without us” mengingatkan kita bahwa setiap suara manusia penting. Tidak ada satu pun kelompok yang boleh masyarakat abaikan dalam pengambilan keputusan. Keadilan hanya bisa tercapai ketika semua orang mendapat tempat setara.
Ketika masyarakat berbicara tentang disabilitas, kita tidak hanya membahas akses. Kita membahas perlindungan, keadilan, dan perubahan cara pandang. Kita perlu mengakui bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kemampuan untuk menentukan hidup mereka sendiri. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Garut, kerjasama Media Mubadalah dengan Universitas Garut





Comments are closed.