Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Konflik Suami Istri yang Didiamkan Bisa Menjadi Bom Waktu?

Mengapa Konflik Suami Istri yang Didiamkan Bisa Menjadi Bom Waktu?

mengapa-konflik-suami-istri-yang-didiamkan-bisa-menjadi-bom-waktu?
Mengapa Konflik Suami Istri yang Didiamkan Bisa Menjadi Bom Waktu?
service

Mubadalah.id – Sebagian pasangan suami istri jarang mengetahui bagaimana sebenarnya cara mereka menyelesaikan konflik. Mereka cenderung menyelesaikan masalah secara natural saja. Ada persoalan yang ia hadapi, tetapi membiarkan, bahkan ada pula yang mendiamkannya.

Padahal, jika hanya didiamkan, konflik tersebut justru dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Cara pandang terhadap konflik akan sangat memengaruhi apakah pasangan akan menyelesaikan konflik tersebut atau tidak. Serta seberapa tegas mereka dalam menghadapinya.

Terdapat tiga cara pandang terhadap konflik, yaitu negatif, positif, dan progresif. Konflik kerap menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif dan merugikan sehingga harus ia hindari.

Sementara itu, pandangan positif melihat konflik sebagai sesuatu yang lumrah atau keniscayaan dalam hubungan.

Adapun pandangan progresif memandang konflik sebagai sesuatu yang juga mereka butuhkan untuk mendorong dinamika dan perubahan. Cara pandang progresif inilah yang seharusnya ia kembangkan dalam kehidupan suami istri.

Menurut Lestari dalam Psikologi Keluarga, konflik akan menjadi destruktif atau merusak jika pasangan yang mengalaminya memiliki perspektif negatif terhadap konflik, serta dengan perasaan marah yang tidak terkendali, serta keyakinan bahwa masalah akan selesai dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Perspektif negatif terhadap konflik akan membuat seseorang cenderung menghindari konflik, tidak menyelesaikan masalah secara tuntas, dan menganggap konflik semata-mata sebagai problem.

Marah saat menghadapi konflik merupakan hal yang lumrah dan alamiah. Namun demikian, perlu disadari bahwa kemarahan adalah kondisi yang harus dikendalikan, diatasi, dan dapat diubah.

Sementara itu, anggapan bahwa masalah akan selesai dengan sendirinya seiring waktu justru dapat menjadi “bom waktu”, karena konflik tidak akan pernah benar-benar selesai jika hanya didiamkan. []

*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 176-177

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.