Pencemaran air di Sungai Ciujung, Banten terus berulang dan kian meresahkan. Para petani yang menggantungkan nasib pada irigasi dari air sungai merasakan dampaknya. Arman dan Jarnudi, misal, dua petani ini selalu harap-harap cemas ketika masa menanam padi tiba. Kalau beruntung, mereka bisa panen dan bisa membayar modal awal. Sebaliknya, jika gagal panen, mereka menanggung beban berlipat ketika modal bertani dari utang. Di usianya yang lebih dari setengah abad, Arman masih setia merawat tanaman padi miliknya. Tangannya begitu cekatan memilah bulir padi yang masih layak untuk dia panen. Dia potong setiap batang padi menggunakan arit, lalu menumpuknya di pematang sawah. Srekkk..srekkk.. Lahan Arman berada di pinggiran Muara Sungai Ciujung, tepatnya di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Seperti halnya Arman, sawah-sawah di Desa Tengkurak mengandalkan air Sungai Ciujung sebagai sumber utama pengairan. “Kalau di sini setiap tahun (lahan pertanian tercemar limbah), penyakitnya (masalahnya) itu,” kata Arman saat Mongabay temui, Minggu (15/3/26). Selain Tirtayasa, pencemaran parah juga terjadi di Kecamatan Tanara, yang meliputi Desa Carenang dan Lebak Wangi. Sungai ini memiliki panjang 147 kilometer dan melintasi dua kabupaten, Lebak dan Serang. Air sungi berwarna keruh kehitaman dengan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Pertemuan limbah dengan aliran Sungai Ciujung, Provinsi Banten. Aliran ini akan mengaliri irigasi sawah dan perkebunan warga. Foto: Ukat Saukatudin/ Mongabay Indonesia Kehidupan sehari-hari Arman dan keluarganya bergantung pada hasil tani dan Sungai Ciujung. Luas sawah sekitar satu hektar. Jika pencemaran tak parah dan musim baik, dia bisa panen dua kali dalam setahun. Sekali panen, Arman bisa mendapat 4-6 ton…This article was originally published on Mongabay
Petani Kian Limbung Ketika Limbah Cemari Sungai Ciujung
Petani Kian Limbung Ketika Limbah Cemari Sungai Ciujung





Comments are closed.