Swasensor dan kekerasan fisik masih menjadi ancaman serius bagi jurnalis di Indonesia. Krisis kebebasan pers ini mengemuka dalam kegiatan Kalibata Bergerak edisi keempat oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta pada Ahad, 3 Mei 2026. Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Diskusi Kalibata Bergerak mengusung tema “Ruang Sipil Menyempit, Kebebasan Pers Terjepit”. Dialog menghadirkan tiga narasumber yakni Akademisi Universitas Andalas, Feri Amsari; Direktur LBH Pers Mustofa Layong, dan; Ketua Bidang Kampanye AJI Indonesia, Anastasya Andriarti. Diskusi membahas tantangan yang dihadapi jurnalis saat ini.
Dalam diskusi, Anastasya mengatakan, berdasarkan survei AJI Indonesia, terungkap praktik swasensor kian menguat di kalangan jurnalis. Swasensor terjadi ketika jurnalis meliput isu tertentu seperti makan bergizi gratis (MBG), lingkungan hidup, hingga proyek strategis nasional atau PSN.
Berdasarkan temuan terbaru AJI, sebanyak 523 dari 655 responden menyatakan pernah melakukan swasensor. “Sementara itu, 72 persen responden pernah mengalami sensor. Sehingga, beritanya hilang dari kanal pencarian,” kata Anastasya.
Ia juga menuturkan, kasus kekerasan terhadap jurnalis masih marak dan terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selain swasensor dan kekerasan fisik, jurnalis juga kena ancaman serangan digital dan intimidasi. “Negara wajib menjamin keselamatan jurnalis. Pelaku kekerasan terhadap jurnalis harus diusut tuntas. Hentikan praktik sensor dan swasensor,” kata dia.
Pandangan serupa juga diutarakan Mustofa. Ia mengatakan situasi kebebasan pers dan berekspresi secara global sedang mengalami penurunan. Itu membuat Indonesia kian terpuruk pada posisi ke-129 dari 180 negara. “Salah satu indikator paling besar karena terjadi impunitas terhadap kasus kekerasan jurnalis,” katanya.
Sementara itu, Feri mengatakan peran pers sangat penting di tengah mudahnya penyebaran informasi. Jurnalis memiliki tugas untuk memberikan informasi yang sahih dan bertanggung jawab. “Ketika informasi simpang siur, tugas jurnalis meluruskan dan memberikan informasi valid,” ujarnya.
Feri mengatakan ketika negara merasuki media mainstream, masyarakat harus segera membentuk media independen. Bagi dia, timbul masalah ketika negara mau mengendalikan informasi. “Media massa dibatasi dengan berbagai cara sementara konten kreator diberikan kebebasan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata dia.






Comments are closed.