Mubadalah.id – Majalengka sebagai kabupaten kecil di selingkar Wilayah 3 Cirebon memiliki pelbagai rekaman kesejarahan. Wilayah ini pernah beberapa kali berada dalam kekuasaan berbeda, mulai dari Kerajaan Talaga Manggung, Kerajaan Rajagaluh, Kerajaan Sindangkasih, dan terakhir Kerajaan Wanayasa. Namun lekatan yang sampai sekarang masih—sebagian masyarakat percayai—menjadi mitos ialah masih eksisnya Nyi Rambut Kasih (pemimpin Kerajaan Sindangkasih).
Nyi Rambut Kasih ialah seorang perempuan yang menjadi salah satu aktor sejarah cikal bakal lahirnya Majalengka. Bisa terbilang, Majalengka lahir benar-benar lahir dari rahim ketokohan ketokohan perempuan. Selain Nyi Rambut Kasih, perempuan sezaman dengannya ialah Siti Armilah, istri dari Pangeran Muhammad. Seorang utusan Sunan Gunung Jati Cirebon untuk berdakwah dan menyebarkan Islam di Bumi Sindangkasih ini.
Bergeser dalam kanon politik, Tutty Hayati Anwar hadir sebagai penakluk sejarah di pusaran kepemimpinan Majalengka. Tutty menjadi bupati perempuan pertama yang memimpin Kota Angin ini. Dia dua periode menjabat sebagai bupati dari tahun 1998 sampai 2008.
Tiga perempuan yang disebutkan tadi hanya sebagai mukadimah bagaimana sepak terjang kaum hawa dalam kesejarahan Majalengka hingga kiwari. Bahasan utamanya ialah sosok ulama perempuan, seorang pengasuh pesantren yang namanya belum banyak masyarakat ketahui. Ialah Nyai Hj. Fikriyah Amin, putri keempat KH. Amin Sepuh (Babakan, Ciwaringin, Cirebon) dari Nyi Hj.Aliyah.
Membahu dan Saling Bantu
Nyi Ipik, panggilan karibnya, sedikit banyak memiliki persinggungan dengan pergerakan pesantren, pendidikan, dan sosial, utamanya terkhusus dalam kanon perempuan. Karena itu, bagi saya, kiranya beliau amat penting terbahas menjadi bagian dari ketokohan ulama perempuan dari kalangan pesantren.
Masyarakat Majalengka umumnya tak asing dengan nama KH. Muhammad Qusyaeri bin Kiai Sholeh (Mama Ayeh). Atau karib dengan landihan Mama Muhammad. Beliau adalah salah satu murid KH. Amin Sepuh Babakan yang kemudian menjadi menantu karena sosok terpilih, baik dalam kecakapan ilmu, akhlak, dan kepribadiannya. Mama Muhammad inilah sosok suami dari Nyi Ipik.
Pada 1961, Nyi Ipik bersama Mama Muhammad mendirikan pondok pesantren Raudlatul Mubtadi’in di Cisambeng, Palasah, Majalengka. Diawal mendirikan pesantren Nyi Ipik dan Mama Muhammad mengalami masa-masa sulit, karena mereka harus mengajar mengaji santri sambil tetap mencari penghidupan ekonomi. Sembari mengajar, Nyi Ipik berjualan pakaian keliling, sementara Mama Muhammad berjualan kecap.
Inilah masa-masa perjuangan Nyi Ipik bersama Mama Muhammad demi mengembangkan lembaga pendidikan yang tengah mereka bangun. Memang, semula, pondok pesantren menggunakan kurikulum salaf yakni menekankan pengkajian pelbagai kitab turots saja. Namun, sekira pada 1980-an, Nyi Ipik bersama Mama Muhammad mendirikan yayasan Hidayatul Mubtadi’in sebagai naungan pesantren dan pendidikan formal. Pendidikan formal yang kali pertama mereka bangun ialah madrasah tsanawiyah.
Penggerak Barisan
Di seluar bidang pendidikan, Nyi Hj. Fikriyah Amin membantu Mama Muhammad mengembangkan dakwah melalui jaringan-jaringan kiai kampung, tokoh masyarakat, hingga pemimpin sebuah daerah. Kerja-kerja ini menjadi sebab keterlibatan Nyi Ipik dengan jamiyah Nahdlatul Ulama di Majalengka. Keaktifan di jamiyah NU memberi satu embrio semangat Nyi Ipik mendirikan/menggagas lahirnya Muslimat Nahdlatul Ulama Majalengka.
Beliau menjadi garda terdepan di perkumpulan sekaligus memimpin ibu-ibu Muslimat demi memperkuat peran perempuan dalam pembangunan umat dan bangsa. Tak hanya itu, kepanjangan dari semangat gerakan jamiyah Muslimat ini menyasar pada peningkatan kualitas kaum hawa di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi.
Menyoal keluarga, Nyi Ipik dan Mama Muhammad terkaruniai tiga anak, yakni: Hj. Minatul Maula (Nyai Hj. Atun), Muhammad Rofi’I (almarhum), dan Hj. Tsamrotul Aeni (Nyai Hj. Iyum). Nyai Hj. Atun bersama suaminya, KH. Ahmad Fauzi (almarhum), meneruskan tampuk kepemimpinan pondok pesantren Raudlatul Mubtadi’in semenjak Mama Muhammad (2002), lalu kemudian, Nyi Ipik wafat. Sementara itu Yayasan Hidayatul Mubtadi’in terpegang kendali oleh Nyai Hj. Iyum bersama suaminya, KH. Edi Suaedi, S.Ag.
Belum berhenti di situ, rupanya secara senyap jiwa-jiwa sosial dan kepimpinan Nyi Hj. Fikriyah Amin turun kepada Nyi Hj. Atun. Beliau, sampai ketika tulisan ini dibuat, rupanya meneruskan perjuangan ibudanya, yakni menjadi Ketua Muslimat PCNU Majalengka. Bagaimana ternyata Nyi Ipik menancapkan jiwa pemimpin dan sosial serta berhasil mengkader salah satu putrinya, Nyi Hj. Atun, untuk tetap menapas-panjangkan perjuangan kala itu. []





Comments are closed.