Mubadalah.id – Sosok ulama perempuan asal Sulawesi Selatan, Anregurutta Hj. Siti Haniah, diangkat dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #4 yang digelar secara daring, Selasa (5/5/2026).
Dalam forum tersebut, Nyai Mutmainnah sebagai pemantik menjelaskan bahwa Anregurutta merupakan gelar tertinggi untuk guru besar di Sulawesi Selatan. “Anregurutta itu semacam gelar ya, untuk seorang guru besar yang ada di Sulawesi Selatan. Jadi ini gelar tertinggi untuk sebutan guru besar di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Anregurutta Hj. Siti Haniah lahir di Mangkoso pada 22 Februari 1932 dari pasangan Bapak Mangong dan Ibu Risa. Ia bukan berasal dari kalangan bangsawan maupun keluarga pimpinan pesantren. “Beliau lahir dari masyarakat pada umumnya,” kata Mutmainnah.
Menurut informasi dari keluarga, Anregurutta sudah yatim sejak kecil dan orang tuanya tidak meninggalkan banyak harta. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat, kemudian mengikuti UGA atau Ujian Guru Agama. Bekal pendidikan itulah yang mengantarkannya menjadi pengajar.
Pengabdian di Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Sejak 1938
Nama Anregurutta Hj. Siti Haniah mulai dikenal karena pengabdiannya kepada Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) sejak 1938 di Mangkoso. Kehadiran DDI di Mangkoso tidak lepas dari inisiatif Raja Mangkoso yang ingin memajukan pendidikan agama. Saat itu, raja meminta ulama dari Wajo, Sengkang, yakni Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle, untuk datang.
“Singkat cerita, berdirilah lembaga organisasi yang bernama Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), yang alhamdulillah sampai saat ini membawa pengaruh yang luar biasa dalam dunia pendidikan, khususnya di Sulawesi Selatan,” jelas Mutmainnah. Hubungan Sengkang dan DDI Mangkoso pun ia sebut seperti “anak dan bapak”.
Di tahun-tahun awal DDI, Anregurutta Hj. Siti Haniah diamanahkan mengajar pelajaran agama. Awalnya ia mendampingi Anregurutta Ambo Dalle. Dari proses “belajar sambil mengajar” itu, ia kemudian diangkat menjadi guru di Madrasah Ibtidaiyah yang didirikan DDI.
Mutmainnah menyoroti keunikan madrasah ibtidaiyah pada masa awal DDI. Saat ini kita ketahui bahwa madrasah ibtidaiyah itu setingkat dengan sekolah dasar. Tapi pada saat awal berdirinya DDI itu, para alumni dari madrasah ibtidaiyahnya sudah mampu dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan pelajaran agama. Dari madrasah itulah, Anregurutta melahirkan guru-guru yang menyebar ke berbagai daerah.
Karena keterbatasan asrama pada awal berdirinya pesantren, Anregurutta mengizinkan santri dari luar Mangkoso tinggal di rumahnya. Ia juga kerap mengundang santri saat mengadakan hajatan agar turut menikmati hidangan. “Itulah bukti bahwa Anregurutta itu adalah sosok yang dermawan,” ujar Mutmainnah.
Di ranah komunitas, Anregurutta aktif di Muslimat DDI, organisasi perempuan di bawah DDI. Peran Muslimat DDI di Mangkoso disebut sangat besar sebagai pemersatu masyarakat. Salah satunya lewat kegiatan mappadendang dan arisan yang dijadikan ajang silaturahmi, serta kajian keislaman khusus perempuan.
Keluarga
Anregurutta berhasil mendidik empat anaknya hingga menjadi tokoh di bidang masing-masing. Anak pertama, Drs. H. Isa Hamzah, pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DDI Maros. Kini, jabatan itu diemban oleh cucunya.
Anak kedua, Drs. Lutfi Hamzah, berkarier di BKKBN. Anak ketiga, Drs. Lukman Hamzah, berprofesi sebagai hakim di pengadilan agama. Adapun anak keempat, Dra. Hj. Nuraeni Hamzah, menjadi dosen di tempat Nyai Mutmainnah mengabdi. Anregurutta sejatinya memiliki lima anak, namun putri bungsunya wafat di usia 2 tahun.
“Dari sosok beliau kita bisa paham bahwa Anregurutta tidak hanya memikirkan hidupnya sendiri. Anregurutta mampu melewati masa-masa sulit di hidupnya, dan keberkahan ilmu itu jugalah beliau mengantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang hebat,” pungkasnya. []





Comments are closed.