KABARBURSA.COM — Pasar kripto masih bergerak lesu sepanjang awal 2026. Harga aset digital global melemah, transaksi turun, dan investor mulai lebih hati-hati membaca arah pasar. Namun di tengah tekanan itu, minat masyarakat terhadap aset kripto disebut belum benar-benar hilang.
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menilai pelemahan pasar kripto saat ini masih tergolong wajar dan lebih mencerminkan fase normalisasi setelah lonjakan besar pasca-halving Bitcoin pada 2024.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan kondisi pasar saat ini lebih dipengaruhi efek basis tinggi dibanding pelemahan fundamental industri.
“Ini menjadi efek basis tinggi, bukan pelemahan fundamental. Kondisi ini juga sejalan dengan pasar global, di mana kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 45 persen dari titik tertinggi USD4,2 triliun (Rp72.240 triliun) pada Oktober 2025 menjadi sekitar USD2,3 triliun (Rp39.560 triliun) pada Maret 2026,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Tekanan tersebut turut tercermin di pasar domestik. Data OJK mencatat transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri dari Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif.
Nilai perdagangan aset kripto domestik juga turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari menjadi Rp22,24 triliun pada Maret 2026. Meski begitu, total transaksi sepanjang Januari hingga Maret masih mencapai Rp75,83 triliun.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai perlambatan transaksi tidak bisa dilepaskan dari sentimen global yang masih membayangi aset berisiko.
“Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip, Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Calvin, investor sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan pasar kripto. Yang berubah justru strategi mereka dalam menghadapi ketidakpastian.
“Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see,” jelasnya.
Di tengah tekanan pasar, jumlah investor justru masih bertambah. OJK mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai 21,37 juta akun atau naik tipis dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap industri aset digital belum sepenuhnya luntur meski pasar sedang bergerak volatil.
“Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka,” kata Calvin.
Ia melihat peluang pemulihan mulai terbuka pada kuartal II-2026, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis USD80.000 (Rp1,37 miliar) pada awal Mei 2026. “Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto. Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran USD78.000 sampai USD80.000, kepercayaan investor biasanya mulai membaik,” katanya.
Namun, pemulihan pasar dinilai belum akan merata. Investor masih mencermati berbagai faktor global mulai dari inflasi, geopolitik, hingga arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Selain faktor global, Tokocrypto juga menilai kebijakan domestik seperti pajak kripto dapat memengaruhi aktivitas perdagangan di dalam negeri.
“Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri. Ini penting agar aktivitas perdagangan tetap berada di platform yang diawasi regulator,” ujar Calvin.
Di sisi lain, OJK terus memperketat pengawasan industri kripto melalui penerapan standar verifikasi dan pengawasan transaksi seperti KYC, KYT, hingga sistem whitelist aset kripto. Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, investor ritel diingatkan untuk lebih fokus menjaga modal dibanding mengejar keuntungan cepat.
“Dalam kondisi pasar yang menurun, fokus utama investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan cepat, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko,” kata Calvin.(*)





Comments are closed.