Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Asmara di Air Terjun Tumburano, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara

Kisah Asmara di Air Terjun Tumburano, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara

kisah-asmara-di-air-terjun-tumburano,-cerita-rakyat-dari-wawonii-sulawesi-tenggara
Kisah Asmara di Air Terjun Tumburano, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
service

Kisah Asmara di Air Terjun Tumburano, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara | Magnific AI


Air terjun Tumburano adalah salah satu air terjun yang ada di Wawonii, Sulawesi Tenggara. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Wawonii, Sulawesi Selatan tentang kisah asmara yang berakhir tragis di air terjun Tumburano tersebut.

Lantas bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Wawonii, Sulawesi Tenggara tersebut?

Kisah Asmara di Air Terjun Tumburano, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara

Dikutip dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), dikisahkan pada zaman dahulu di Kampung Tamboane hiduplah sekelompok masyarakat yang dipimpin oleh Mokole. Mokole ini memiliki seorang anak yang bernama Durubalewula.

Sayangnya Durubalewula kehilangan sang ayah ketika dia kecil. Sejak saat itu, dia diasuh oleh sang ibu yang berasal dari kalangan keluarga biasa saja.

Seiring berjalannya waktu, Durubalewula mulai tumbuh dewasa. Dirinya sering membantu sang ibu untuk meringankan bebannya.

Pada suatu hari, Durubalewula meminta izin pada sang ibu untuk menjerat ayam hutan. Dirinya meminta sang ibu untuk mempersiapkan bekal.

Keesokan harinya, Durubalewula kemudian berangkat ke dalam hutan. Dirinya turut membawa ayam jantan kesayangannya bersamanya.

Setelah berjalan cukup lama, Durubalewula tidak berhasil menemukan satu ekorpun ayam hutan. Dirinya kemudian beristirahat di air terjun Tumburano dan memakan bekal yang sudah disiapkan ibunya.

Ketika sedang asyik makan, Durubalewula melihat gumpalan rambut di air terjun tersebut. Dirinya yakin jika ada seorang perempuan yang menghuni hutan tersebut.

Durubalewula kemudian kembali ke rumah dengan tangan kosong. Dirinya tidak berhasil menangkap satu ekorpun ayam hutan dari perburuan tersebut.

Namun ada satu pertanyaan besar yang berbekas di pikiran Durubalewula. Dirinya penasaran siapa sosok perempuan yang menghuni daerah tersebut.

Pikiran ini terus mengganggu Durubalewula. Akhirnya beberapa waktu kemudian, Durubalewula memutuskan untuk kembali berburu ke dalam hutan.

Kali ini dia memilih jalur yang berbeda dengan sebelumnya. Di tengah jalan, Durubalewula seorang wanita cantik yang tengah menjemur kapas di belakang gubuknya.

Durubalewula kemudian mendekat dan menanyakan tentang gadis tersebut. Dirinya kemudian memperkenalkan diri dengan nama Wulangkinokoti.

Gadis cantik tersebut tinggal bersama kedua orang tuanya di gubuk tersebut. Tanpa sadar, pertemuan ini ternyata menumbuhkan benih cinta di antara Durubalewula dan Wulangkinokoti.

Sejak saat itu, Durubalewula sering pergi berburu ke hutan. Namun perburuan ini tentu dengan maksud lain untuk menemui pujaan hatinya.

Ternyata hubungan Durubalewula tercium oleh ayah Wulangkinokoti. Sang ayah tidak setuju Durubalewula menjalin hubungan dengan putrinya.

Durubalewula dan Wulangkinokoti akhirnya menjalin hubungan secara diam-diam. Setelah sekian lama, Durubalewula kemudian memberanikan diri untuk melamar Wulangkinokoti.

Namun sama seperti sebelumnya, sang ayah tidak merestui hubungan tersebut. Akhirnya kedua sejoli ini bersepakat untuk bertemu di air terjun Tumburano.

Tepat pada hari yang ditentukan, Wulangkinokoti berangkat menuju air terjun tersebut. Setelah menunggu sekian lama sambil meniup renta, Durubalewula tak kunjung datang juga.

Ternyata Durubalewula tengah dilanda kemalangan. Sang ibu yang sangat dia sayangi meninggal dunia.

Hal ini membuat Durubalewula tidak bisa datang tepat waktu ke air terjun Tumburano. Wulangkinokoti yang tidak mengetahui hal ini akhirnya putus asa dan mengakhiri hidupnya di air terjun tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Durubalewula akhirnya bisa datang ke air terjun Tumburano. Namun alangkah hancurnya hati Durubalewula begitu melihat mayat Wulangkinokoti yang mengapung di air terjun itu.

Durubalewula kemudian meniup seruling yang dia bawa. Dengan perasaan putus asa, Durubalewula kemudian juga mengakhiri hidupnya di air terjun tersebut.

Konon renta yang dibawa oleh Wulangkinokoti dipercaya tumbuh menjadi pohon enau. Sementara itu, suling Durubalewula dipercaya tumbuh menjadi pohon bambu.

Kedua tumbuhan ini tumbuh di dekat air terjun Tumburano. Terkadang di sekitar air terjun tersebut akan muncul ayam hitam yang dipercaya sebagai jelmaan dari kedua sejoli tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.