Organisasi Internasional United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengeluarkan panduan praktis bagi orang tua mengawasi anak di ruang digital berjudul “Panduan Keluarga untuk Dunia Digital” yang disusun bersama lembaga Center pour l’Éducation aux Médias et à l’Information (CLEMI). Panduan 120 halaman itu berlatar belakang dari maraknya aturan pembatasan akses ruang digital untuk anak di berbagai negara. Namun, UNESCO menilai aturan itu belum efektif.
Pada konferensi pers, Rabu, 16 Juni 2026 secara Zoom yang dilaksanakan UNESCO dan CLEMI. Asisten Direktur Jenderal Sektor Komunikasi dan Informasi UNESCO Mariya Gabriel mengatakan, aturan tindakan anak menggunakan media sosial tidak akan menghentikan mereka mengakses platform. Seperti yang terjadi di Australia misalnya, 70 persen anak telah memiliki akun sebelum larangan media sosial. Anak-anak masih bisa mengakses ruang digital selama 6 bulan ke depan.
“Sekarang, 25 negara sedang mempertimbangkan larangan media sosial untuk anak di bawah 15 tahun atau di bawah 16 tahun. Dan baru-baru ini juga Pemerintah Inggris telah mengumumkan media sosial untuk anak, Swedia sedang proses hal yang sama,” katanya.
Mariya mengatakan, panduan itu bertujuan membantu orang tua memahami risiko dan peluang digital. Membangun kebiasaan digital yang sehat bersama dan memperkuat komunikasi dengan anak-anak tentang kehidupan digital mereka. Hingga siap menavigasi media sosial, algoritma, dan platform digital dengan percaya diri.
Menurut Mariya, orang tua kurang mendapat bimbingan dan dukungan merawat anak di era digital. Banyak laporan secara konsisten, bahwa orang tua merasa tidak siap dan sendirian ketika anak-anak mengakses ruang digital. Alat platform untuk mendukung orang tua melindungi anak-anak yang kurang dimanfaatkan. Sementara itu, hanya sebagian kecil orang yang mengaktifkan kontrol pengawasan ponsel anak.

Keterangan: tangkapan layar, konferensi pers UNESCO pada 16 Juni 2026. Dok: (Ahmad Khudori/Prohealth).
Mariya menyebut kondisi dunia juga buruk. 83 persen orang tua khawatir saat anak-anak berselancar di ruang digital. Bahkan, 2 dari 3 orang tua mengaku sering memikirkan hal yang sama. Ditambah lagi, 1 dari 3 orang yang online saat ini adalah anak-anak, dengan proporsi waktu menghabiskan ruang digital lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
“Orang tua sering khawatir anak-anak mendapat perundungan saudara, pemerasan seksual, konten berbahaya, depresi, menyakiti diri sendiri hingga efek paling parah bunuh diri,” ujar Mariya.
Menurut Mariya, algoritma dan platform ruang digital dirancang hanya untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak. Belum lagi persoalan media sosial yang menyediakan AI, yang sering disalahgunakan fungsinya. Membuat efek buruk terhadap anak semakin terbuka lebar. Kata Mariya, s ekarang, anak-anak sering terdeteksi menggunakan AI. Di Inggris semula penggunanya hanya 37 persen, kini menjadi 77 persen, meningkat drastis hanya dalam satu tahun.
Mariya mengatakan panduan UNESCO memuat permasalahan AI. Pihaknya mendorong literasi media dan informasi untuk orang tua menjadi kurikulum sekolah. Namun faktanya, hanya 43 persen anggota UNESCO yang telah terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah.
“Terjadi keselarasan, orang tua dibiarkan sendirian, seringkali tanpa pengetahuan yang mereka butuhkan, dan inilah mengapa panduan ini penting,” katanya.
Adeline Hulin, Kepala Unit Literasi Media, Informasi dan Kompetensi Digital UNESCO menjelaskan, selain dari memperkuat literasi media dan informasi di sekolah. Panduan juga menjelaskan perangkat yang bisa digunakan secara praktis oleh orang tua. .
“Idenya bukanlah untuk mengubah orang tua menjadi ahli teknologi, tetapi kepercayaan diri, kesadaran, dan alat yang mampu. Agar mereka bisa mendukung anak-anak di ranah digital,” katanya.
Bagi Adeline, panduan itu juga bukan hanya soal aturan dan batasan. Akan tetapi, menjelaskan percakapan, kepercayaan, dan bimbingan bagi orang tua. Agar lebih mudah tercapai CLEMI digandeng sebagai-lembaga yang terbiasa melatih guru dan siswa terhadap ruang digital. Untuk itu, harapannya orang tua dapat mendidik anak-anak secara berani, terlepas dari budaya, sosial ekonomi dan budaya.
Panduannya juga melibatkan berbagai pakar dan praktisi dari seluruh dunia dari berbagai keahlian. Hal tersebut agar panduan tetap relevan dengan berbagai situasi anak, agar hambatan menyadari pentingnya kesadaraan di ruang digital bisa diterjang.
Adeline mengatakan, sejumlah anak menghabiskan hidupnya di ruang digital. Seperti di Uruguay, 90 persen anak-anak di sana bermain game di ponsel mereka, sedangkan 70 persen bermain di komputer. Kerap menghabiskan waktu 4-5 jam di layar. Dalam panduan, kata Adeline, tersimpan dasar-dasar bagi orang tua untuk apa yang seharusnya dilakukan, ketika menghadapi kasus tersebut. Panduan juga memuat berbagai visual yang lebih mudah dipahami.
“Saat ini, hampir tidak ada anak-anak atau remaja yang memenuhi tolak ukur WHO dalam jumlah maksimum atau minimum jam tidur atau bahkan gerakan fisik serta aktivitas fisik,” kata Adeline.
Sementara itu, Wakil Direktur Pusat Pendidikan Media dan Informasi (CLEMI), Virginie Sassoon mengatakan tujuan panduan untuk memberikan informasi dasar penting mengembangkan anak-anak di masa era digital, yang penuh dengan konten influencer. Situasinya, sebagian besar anak-anak lebih mempercayai influencer. Padahal, ada risiko yang menimbulkan seperti konten disinformasi dan misinformasi. Di samping itu orang tua khawatir bahwa para influencer akan membahayakan anak-anak mereka.
“Survei yang kami lakukan di UNESCO pada 24 Desember lalu, menemukan influencer sebagian besar tidak melakukan pengecekan fakta sebelum membagikannya,” katanya.
Kondisi tersebut menjelaskan kekhawatiran anak terpapar informasi belum terverifikasi. Namun, di sisi lain influencer memiliki peran besar terhadap kehidupan anak-anak di ruang digital. Bahkan anak-anak mengikuti influencer tertentu. Virginie menjelaskan, panduan ini mengambil perspektif yang seimbang tentang influencer. Bahwa influencer mempunyai tugas penting sebagai pemerngaruh edukasi. Influencer dirasa membawa persoalan ke ranah digital dan menjadikannya mencakup publik serta mampu membuat topik yang kompleks menjadi mudah dipahami. Itu juga yang jadi alasan anak menyukainya.
Virginie menambahkan bersedia mendorong orang tua untuk terlibat dan tidak menghakimi saat anak mengikuti influencer tertentu. Dalam panduan dijelaskan cara membangun ruang dialog antara orang tua dan anak.
“Jadi, misalnya, cukup dengan rasa ingin tahu dan bertanya kepada anak-anak, mengapa kamu mengikuti orang ini? Mengapa kamu menyukainya?” katanya. “Kami di sini bukan untuk menghakimi orang tua, tetapi untuk memberi mereka alat agar mereka dapat mewujudkan tantangan dan mendukung anak-anak mereka berdasarkan dialog yang konstruktif.”
Karena, pada dasarnya anak bisa untuk diajak kerja sama menciptakan ruang digital yang sehat. CLEMI memandang anak di ruang digital sebagai tanggung jawab bersama dalam keluarga. Harapan Virgine, semua keluarga bisa membaca dan mengakses “Panduan Keluarga untuk Dunia Digital” sebagai tips dan trik praktis untuk diterapkan.
Panduan yang disusun UNESCO bersama CLEMI tersebut akan dapat diakses pada 22 Juni mendatang. Disebar ke berbagai lembaga, komunitas, sejarawan, dan masyarakat umum di berbagai negara.





Comments are closed.