Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Bawah Tanah

Bawah Tanah

bawah-tanah
Bawah Tanah
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Anda masih ingat siapa ”perusuh” Disway yang menulis komentar seperti ini: jangan bandingkan kereta bawah tanah New York dengan Tiongkok: itu tidak apple to apple.

Hmmm. Saya tertegun. Saya tidak mau langsung membaca komentar berikutnya. Saya berhenti agak lama memikirkan komentar itu. Ia benar. Saya terlalu memuja kemajuan Tiongkok.

bank BJB

Pembangunan jaringan kereta bawah tanah di Tiongkok dilakukan ketika teknologi apa pun sudah sangat maju. teknologi baru apa pun sudah mudah didapat.

Kereta bawah tanah New York dibangun tahun 1904. Seharusnya saya lebih kagum itu: di zaman sekuno itu New York sudah membangun kereta bawah tanah.

Maka kalau di New York keretanya terasa sangat berisik dan kuno seharusnya memang begitu. Mungkin orang New York sendiri, di tahun-tahun itu, juga mengejek London: kereta bawah tanah kok pakai lokomotif uap yang pembakaran ketelnya pakai batu bara.

Padahal itu karena London membangun kereta bawah tanah di zaman lebih kuno lagi: 1860. Seharusnya orang New York justru mengagumi London yang sudah punya kereta bawah tanah sekuno itu. London adalah perintis kereta bawah tanah pertama di dunia.

Kalau nun di tahun 1860 orang Inggris sudah memikirkan kereta bawah tanah; seharusnya apa ya yang kita pikirkan di tahun 2026 ini untuk Indonesia tahun 2222?

Baiklah kita tanya: untuk apa di tahun 1860 orang London memikirkan membangun kereta bawah tanah? Bukankah belum ada mobil sehingga tidak terjadi kemacetan? Hanya untuk gagah-gagahan teknologi?

Ternyata bukan gagah-gagahan. “Di tahun itu London sudah macet,” begitulah literatur mengatakan.

Di zaman itu London macet oleh banyaknya dokar/bendi. Kereta berkuda. London saat itu kota terbesar di dunia. Penduduknya sudah lebih 3 juta orang. Kian tahun kian padat. Revolusi industri membuat London menjadi pusat ekonomi.

Problem London bukan hanya macet. Juga sangat pesing dan berbau. Kotoran kuda tidak tertahankan lagi banyaknya. Maka untuk menghubungkan antar stasiun kereta api di sana dibangunlah jaringan kereta bawah tanah.

Kelak, setelah New York punya kereta api bawah tanah yang pakai listrik London juga berubah. Tidak ada lagi asap batu bara di terowongan kereta bawah tanahnya.

Bawah Tanah

Kasus seperti itu tidak hanya dialami di sektor kereta bawah tanah. Cobalah Anda berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Tatapkan mata ke sepanjang jalan itu. Lalau pindahkan mata ke sepanjang jalan Casablanca. Di sepotong bagian itu terlihat Jakarta lebih indah daripada New York. Itu karena gedung-gedung tinggi di Jakarta dibangun di saat ilmu arsitektur dan ilmu material sudah berkembang sangat maju.

Di zaman pembangunan New York dulu ahli arsitektur kalah oleh ahli teknik sipil. Keindahan kalah oleh kekuatan dan keamanan gedung.

Zaman itu ”indah” dipertentangkan dengan ”kokoh”.

Setelah itu ilmu material sangat maju didukung ilmu kimia. Dulu yang terkait dengan material selalu bermuara di ilmu metalurgi. Kini, bahkan, sudah ada universitas yang menghapus jurusan metalurgi digabung ke ilmu material.

Anda sudah tahu: para arsitek lama sulit mencari bahan yang tipis tapi kuat. Bentuk indah yang mereka inginkan sulit terwujud. Pun bahan yang lentur; selalu punya kelemahan mudah patah.

Kini, dengan kemajuan ilmu bahan, sudah tersedia material ”yang tipis tapi kuat”. Atau ”yang lentur tapi tidak mudah patah”. Saya sering mengatakan kepada para arsitek: “Arsitek di zaman ini sangat dimanjakan oleh ketersediaan material yang sangat beraneka ragam”.

Maka saya membayangkan alangkah mahalnya bila New York harus mengganti jaringan kereta bawah tanahnya yang kuno dengan yang serba-digital seperti di Tiongkok.

Jaringan kereta bawah tanah New York sudah sekitar 400 km. Berarti panjang relnya sudah sekitar 1000 km. Merombak barang sebanyak itu alangkah beratnya.

Memikirkan teknologi kereta bawah tanah itu saya ingat masa lalu: Jawa Pos adalah koran pertama di Indonesia yang fotonya berwarna. Kompas ngotot terbit hitam putih. Koran berwarna dianggap terlalu pop. Murahan. Koran hitam putih lebih elegan. Bermutu.

Saya ingat salah satu alasan bertahan yang dipakai Kompas: “New York Times saja tetap hitam putih”. NYT adalah koran paling bergengsi di dunia.

Dianggap murahan, saya pun ”tersinggung”. Saya terbang ke Amerika. Ke New York. Saya ingin tahu: apa alasan New York Times tetap terbit hitam putih. Sedangkan harian USA Today sudah berwarna.

Saya pun dapat jawabnya: percetakan NYT itu sangat besar. Tidak mudah mengubahnya jadi berwarna. Begitu banyak mesin yang harus ”dibuang”. Begitu mahal kalau harus membeli mesin berwarna dalam jumlah besar sekaligus. Bahkan harus membeli tanah baru. Membangun gedung baru. Gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih. Kalau pun punya uangnya, tidak bisa cepat merealisasikannya.

Lima tahun kemudian NYT terbit berwarna.

Pun Kompas. Saya tersenyum dengan penuh kemenangan yang ternyata, kemenangan itu, kelak, juga tidak ada gunanya.

Saya membayangkan betapa berat mengubah kereta bawah tanah New York untuk jadi serba-digital. Lebih berat lagi mengubah kereta Indonesia. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.