Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Surga Terlalu Maskulin: Menafsir Ulang Kenikmatan Surga bagi Laki-laki dan Perempuan

Ketika Surga Terlalu Maskulin: Menafsir Ulang Kenikmatan Surga bagi Laki-laki dan Perempuan

ketika-surga-terlalu-maskulin:-menafsir-ulang-kenikmatan-surga-bagi-laki-laki-dan-perempuan
Ketika Surga Terlalu Maskulin: Menafsir Ulang Kenikmatan Surga bagi Laki-laki dan Perempuan
service

Mubadalah.id – Salah satu rukun iman yang wajib kita yakini adalah adanya surga dan neraka. Surga diyakini sebagai tempat segala kenikmatan bagi orang beriman dan beramal saleh, sementara neraka menjadi tempat kesengsaraan bagi mereka yang ingkar.

Namun, menarik untuk dicermati bahwa ketika kita membaca surga dalam banyak teks klasik Islam—baik dalam tafsir maupun kitab hadis—narasi yang muncul sering kali berpusat pada laki-laki sebagai subjek utama kenikmatan.

Surga digambarkan sebagai tempat di mana laki-laki mendapatkan pelayanan dan kepuasan sempurna, baik spiritual maupun sensual. Sedangkan, sosok perempuan hampir tak tampak sebagai penerima kenikmatan yang setara.

Deskripsi Surga yang Maskulin

Dalam teks-teks Arab klasik, termasuk karya-karya awal seperti Shifat al-Jannah karya Ibnu Abi ad-Dunya (w. 281 H/894 M) hingga karya modern seperti Nisa’ Ahl al-Jannah oleh Muhammad Ali Abu al-Abbas, surga ia gambarkan secara sangat maskulin.

Misalnya, disebutkan bahwa seorang laki-laki mukmin di surga akan memperoleh kekuatan untuk berhubungan dengan seratus perawan dalam satu hari.

Ia akan “dinikahkan” dengan ribuan perempuan baik perawan, janda, maupun bidadari yang semuanya digambarkan muda, cantik, harum, dan sepenuhnya mengabdi untuk melayani keinginan laki-laki.

Di sisi lain, hampir tidak menemukan deskripsi yang sepadan tentang kenikmatan surga bagi perempuan mukmin. Tidak ada penjelasan tentang siapa yang menjadi pendamping perempuan di surga, atau bagaimana bentuk kenikmatan yang akan mereka dapatkan.

Seolah-olah, surga hanya menjadi ruang kebahagiaan bagi laki-laki, sementara perempuan kembali menjadi pelengkap, bahkan di kehidupan abadi.

Maka, di sinilah pentingnya pembacaan ulang seperti pandangan Dr. Faqihuddin Abdul Kodir dalam Buku Qiraah Mubadalah.

Menurutnya, persoalan ini muncul karena bias patriarkis dalam tradisi tafsir dan hadis klasik yang lebih banyak dibangun oleh pengalaman dan imajinasi laki-laki.

Kiai Faqih menegaskan bahwa sebagaimana laki-laki, perempuan juga adalah subjek penuh dari ayat-ayat tentang iman, amal saleh, dan ganjaran surga. Ia menulis:

“Jika semua ulama sepakat bahwa ayat-ayat tentang keimanan dan amal saleh menyapa laki-laki dan perempuan secara bersamaan, maka kesadaran itu juga harus berlaku hingga pada deskripsi tentang kenikmatan surga. Surga bukan hanya milik laki-laki, melainkan juga tempat perempuan memperoleh segala kenikmatan yang paripurna.”

Perempuan Menikmati Surga

Dengan pendekatan mubadalah, Kiai Faqih menawarkan cara pandang baru: jika laki-laki di surga memperoleh kenikmatan berupa bidadari. Maka perempuan juga berhak memperoleh bentuk kenikmatan yang setara. Termasuk kemungkinan adanya bidadara atau kenikmatan yang sepadan dengan kodrat dan kebutuhannya.

Pendekatan ini bukan soal membayangkan surga dalam wujud jasmani semata. Melainkan mendekonstruksi cara berpikir yang menyingkirkan perempuan sebagai penerima nikmat surga.

Bahkan, surga dalam al-Qur’an, adalah tempat pembalasan yang adil dan menyenangkan bagi semua orang beriman—tanpa kecuali, tanpa diskriminasi jenis kelamin. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.