Sebagian besar hewan hanya mengandalkan mata untuk mendeteksi cahaya. Namun ular laut zaitun (Aipysurus laevis) berbeda. Spesies yang hidup di perairan terumbu karang Indo-Pasifik, termasuk perairan Indonesia ini punya kemampuan tambahan yang jarang dimiliki reptil lain, yaitu merasakan cahaya lewat kulit di ujung ekornya. Kemampuan ini dikenal dalam istilah ilmiah sebagai dermal phototaxis, atau respons terhadap cahaya yang terjadi langsung melalui kulit, tanpa melibatkan organ mata sama sekali. Fenomena ini pertama kali diungkap secara menyeluruh oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell. Hasil penelitian mereka terbit di jurnal Molecular Ecology, dengan judul “Phototactic tails: Evolution and molecular basis of a novel sensory trait in sea snakes“. Sebelum penelitian ini, kemampuan serupa memang sempat tercatat pada beberapa hewan air lain seperti ikan dan amfibi, namun belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil. Untuk memastikan sejauh mana kemampuan ini tersebar, tim peneliti menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies berbeda. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tapi juga ditemukan pada dua spesies lain, yaitu A. duboisii dan A. tenuis. Sebaliknya, lima spesies lain yang diuji, termasuk beberapa dari genus Hydrophis, tidak menunjukkan respons serupa sama sekali. Dari pola ini, peneliti menduga kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies dalam genus Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada saat ini. Secara biologis, kulit di bagian ekor ular ini mengandung sel-sel yang peka terhadap cahaya, tapi cara kerjanya jauh berbeda dari mata. Sel ini tidak…This article was originally published on Mongabay
Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya “Mata Kedua” di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya
Ular Laut Zaitun, Ular yang Punya “Mata Kedua” di Ujung Ekornya. Ini Fungsinya





Comments are closed.