Nur Aini melangkah menyusuri jalan setapak menuju kebunnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (8/6/26). Dia sudah hafal betul setiap sudut kawasan itu. Termasuk, letak pondokan para petani, jalur ke kebun, hingga batas-batas lahan yang masyarakat kelola. Hari itu, Paini, sapaan akrabnya, menemukan ada yang berbeda. Di satu sudut areal kerja Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonoasih Makmur Sejahtera (WAMS), berdiri pondok beratap terpal yang belum pernah dia lihat sebelumnya. “Saya langsung tahu itu bukan pondok petani. Saya hafal semua pondok yang ada di sini,” katanya. Rasa penasaran segera berubah menjadi kegelisahan ketika Paini bersama 15 petani lain mengetahui pondok itu milik tim survei geolistrik yang tengah bekerja di Gunung Salakan. “Yang membuat saya heran, mereka mendirikan pondok di lahan yang kami kelola tanpa pernah memberitahu saya ataupun pengurus kelompok tani,” katanya. Menurut Paini, sekitar 20 orang berada di lokasi ketika itu. Dia menduga aktivitas itu berkaitan dengan rencana eksplorasi emas di wilayah yang selama beberapa tahun terakhir masuk dalam konsesi eksplorasi perusahaan tambang. Bagi sebagian orang, survei geolistrik mungkin hanya kegiatan ilmiah untuk memetakan kondisi bawah permukaan bumi. Namun bagi warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi itu, aktivitas ini membangkitkan ingatan lama soal berubahnya Gunung Tumpang Pitu akibat tambang emas. “Kami tidak ingin Salakan bernasib seperti Tumpang Pitu. Gunung ini bukan hanya tempat kami bertani, tetapi juga jalur penyelamatan jika tsunami datang. Salakan harus tetap lestari,” tegas Paini. Aksi solidaritas warga Banyuwangi tolak tambang emas Tumpang Pitu, PT Bumi Suksesindo, kala sidang putusan Budi Pego di…This article was originally published on Mongabay
Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan
Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan





Comments are closed.