Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi. Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau ulang taksonomi katak genus Philautus di Jawa. Kali ini peneliti memakai pendekatan integratif. Mereka berasal dari BRIN, beberapa universitas, dan Herpetological Society of Indonesia. “Melalui pendekatan integratif, mulai dari morfologi, bioakustik, hingga analisis molekuler, kami dapat memahami biodiversitas secara lebih utuh sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk upaya konservasi spesies di masa depan,” ungkap Alamsyah Elang Nusa Herlambang, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam akun IG BRIN, Jumat (3/7/26). Saat ini ada beberapa spesies Philautus di Jawa yang status taksonominya masih membingungkan. Pakar merasa perlu memastikan, dengan cara memeriksa ulang lewat data morfologi, suara, dan genetik. Genus Philautus terdiri 52 spesies, 3 di antaranya endemik Jawa. Yaitu Philautus jacobsoni, ditemukan di Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Philautus pallidipes di Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), dan Philautus aurifasciatus di Gunung Tangkuban. Dengan ditemukannya spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni di lereng Gunung Merapi, maka kini di Jawa ada 4 spesies untuk genus ini. Genus Philautus atau katak semak tersebar luas di Asia Selatan dan sangat beragam. Sayangnya, P. pallidipes dan P. jacobsoni sudah dianggap spesies yang hilang, karena hanya dikenal lewat spesimennya. Bahkan mungkin, P. jacobsoni telah punah di alam liar karena tidak ada pengamatan…This article was originally published on Mongabay
Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi
Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi





Comments are closed.