Sun,2 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Mengenal Imam Qurra dan Mengapa Al-Qur’an Bisa Dibaca dengan Cara Berbeda

Mengenal Imam Qurra dan Mengapa Al-Qur’an Bisa Dibaca dengan Cara Berbeda

mengenal-imam-qurra-dan-mengapa-al-qur’an-bisa-dibaca-dengan-cara-berbeda
Mengenal Imam Qurra dan Mengapa Al-Qur’an Bisa Dibaca dengan Cara Berbeda
service

Ketika mengkaji keragaman bacaan (qira’ah) Al-Qur’an, terdapat sedikitnya dua peristiwa penting yang menjadi landasan untuk memahaminya. Kedua peristiwa tersebut melibatkan para sahabat Rasulullah dan menjadi bukti sejarah bahwa perbedaan bacaan Al-Qur’an telah dikenal serta mendapat legitimasi langsung dari Nabi Muhammad Saw.

Peristiwa pertama melibatkan dua sahabat utama, yakni Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim. 

Suatu ketika, Umar mendengar secara seksama Hisyam membaca Surah Al-Furqan. Dengan penuh perhatian ia menyimak setiap ayat yang dilantunkan. Namun, di tengah bacaan itu, Umar dibuat terkejut. Cara Hisyam membaca beberapa ayat ternyata berbeda dengan bacaan yang selama ini ia pelajari langsung dari Rasulullah saw.

Perbedaan tersebut begitu mengejutkan hingga Umar hampir saja menegur Hisyam saat itu juga. Akan tetapi, karena Hisyam sedang menunaikan salat, Umar menahan diri. Ia memilih menunggu dengan sabar hingga salat Hisyam selesai ditunaikan. Umar pun meminta penjelasan mengenai bacaan yang baru saja didengarnya.

“Siapa yang mengajarimu bacaan Al-Qur’an seperti yang saya dengar tadi?” tanya Umar memulai dialog.

Dengan sangat tenang, Hisyam menjawab, “Aku mendapatkannya (bacaan Al-Qur’an) dari Rasulullah saw”.

Umar pun mengelak. “Engkau dusta. Sungguh Rasulullah saw membacakan kepadaku dengan bacaan berbeda dengan bacaanmu.” 

Sikap Umar dapat dipahami. Dalam perkara Al-Qur’an, perubahan sekecil apa pun pada bacaan bukanlah persoalan sepele. Penambahan atau pengurangan satu harakat saja dapat mengubah makna, terlebih lagi jika seseorang membaca dengan “tidak wajar” yang belum pernah ia dengar dari Rasulullah saw. Karena itu, perbedaan bacaan yang diperdengarkan Hisyam membuat Umar sangat terusik.

Meski demikian, Umar tetap mampu mengendalikan emosinya. Ia mengajak Hisyam menemui Rasulullah Saw. Umar hendak mengadukan bacaan Al-Qur’an yang dipraktikan Hisyam, seolah ingin meminta keputusan Nabi saw: bacaan siapa yang benar, dan bacaan siapa yang salah. Dan tentu saja, apabila terbukti menyimpang dari ajaran Rasulullah tentu harus diluruskan.

Sesampainya di hadapan Rasulullah, Umar bin Khatab menyampaikan aduannya. “Wahai Rasulullah, sungguh Hisyam bin Hakim membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang tidak pernah engkau ajarkan kepadaku”.

Rasulullah pun menenangkan Umar seraya bersabda: “Lepaskanlah ia, Umar!”

Saat semua sudah tenang, Rasulullah meminta Hisyam bin Hakim membacakan Al-Qur’an seperti yang didengar Umar bin Khatab sebelumnya. Lalu, Hisyam pun membacakan Al-Qur’an sama persis dengan bacaan sebelumnya. 

Menyimak bacaan Hisyam, Rasulullah tersenyum, lalu berkata, “Seperti itulah Al-Qur’an diturunkan, wahai Umar dan Hisyam. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (sab’ah ahruf). Maka bacalah Al-Qur’an dengan yang paling mudah bagi kalian”. 

Riwayat mengenai peristiwa pertama tersebut dapat ditemukan pada bagian awal kitab Jami’ al-Bayan fi al-Qira’at al-Sab’i, karya al-Imam al-Hafizh al-Kabir Abi ‘Amr Utsman bin Sa’id bin Utsman bin ‘Amr Al-Dani, salah seorang ulama otoritatif dalam disiplin ilmu qira’at. Karya ini menjadi salah satu rujukan klasik yang mendokumentasikan sejarah, sanad, dan ragam bacaan Al-Qur’an yang diakui.

Peristiwa penting kedua melibatkan sahabat mulia Ubay bin Ka’ab, yang dikenal sebagai salah seorang ahli Al-Qur’an terbaik di kalangan para sahabat. Peristiwa ini berangkat dari pujian Rasulullah saw. terhadap kemampuan Ubay dalam membaca Al-Qur’an. 

Suatu ketika, Ubay bin Ka’ab memasuki masjid. Di tengah suasana yang tenang, ia mendengar seorang lelaki sedang mebaca Al-Qur’an. Ubay menyimak bacaan itu dengan saksama. Namun, beberapa bagian terdengar “ganjil” karena berbeda dari bacaan yang selama ini ia hafal dan terima langsung dari Rasulullah saw. Perbedaan tersebut membuatnya heran.

Tak lama kemudian, Ubay menghampiri lelaki tersebut dan bertanya, “Siapa yang mengajarkan Al-Qur’an kepadamu?”. Lelaki itu pun memberi jawaban bahwa yang mengajarinya Al-Qur’an adalah Rasulullah saw.

Masih berada di masjid yang sama, Ubay kembali mendengar seorang lelaki lain sedang menunaikan salat sambil membaca Al-Qur’an. Kali ini, bacaan yang dilantunkannya bahkan lebih berbeda dibandingkan bacaan lelaki pertama. Seusai salat, Ubay kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Lelaki itu pun memberikan jawaban serupa, “Rasulullah saw. yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an ini kepadaku.”

Dua peristiwa yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan itu membuat Ubay bin Ka’ab benar-benar diliputi kebingungan. Ia mendengar tiga bentuk bacaan yang berbeda: bacaannya sendiri, bacaan lelaki pertama, dan bacaan lelaki kedua. Padahal, ia meyakini bahwa bacaannya diterima langsung dari Rasulullah saw. 

Untuk memperoleh kepastian, Ubay mengajak kedua lelaki tersebut menghadap Rasulullah saw. Tujuannya bukan untuk memperdebatkan bacaan mereka, melainkan meminta penjelasan langsung dari Nabi mengenai perbedaan yang tampak bertentangan itu. 

Setibanya di hadapan Rasulullah saw, Ubay menyampaikan kegelisahannya. Ia memohon agar Nabi meminta kedua lelaki tersebut membacakan Al-Qur’an di hadapan beliau sehingga persoalan itu dapat dijelaskan secara langsung.

Atas permintaan Rasulullah kedua lelaki itu pun membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana yang selama ini mereka pelajari. Di luar dugaan Ubay, Rasulullah menyatakan bahwa bacaan kedua lelaki itu adalah benar, bahkan Nabi memberikan pujian kepada kedua lelaki itu. Tak ayal, Ubay pun semakin diliputi tanda tanya. Sekurang-kurangnya, mengapa Rasulullah membenarkan keduanya, sudah jelas bacaan diantara keduanya berbeda satu sama lain. 

Rasulullah memahami bahwa Ubay diliputi kebingungan. Rasululah pun menepuk pundak Ubay seraya mengatakan kepadanya, “Aku memintakan perlindungan kepada Allah untuk mu, dari segala keraguan, wahai Ubay”. Lalu Rasulullah menceritakan kepada Ubay perihal bagaimana Malaikat Jibril memberinya pengetahuan akan bacaan Al-Qur’an yang berbeda-beda.

Perkembangan Ilmu Bacaan Al-Qur’an

Berabad-abad setelah dua peristiwa tersebut, para ulama mulai menghimpun, menyeleksi, dan mendokumentasikan ragam bacaan Al-Qur’an yang bersumber dari Rasulullah saw. Upaya ilmiah itu melahirkan satu disiplin ilmu yang kemudian dikenal sebagai ilmu qira’at, yaitu cabang ilmu yang mengkaji tata cara bacaan Al-Qur’an berdasarkan riwayat yang sahih, termasuk menjelaskan bacaan-bacaan yang disepakati maupun yang diperselisihkan di kalangan para imam qira’at.

Dalam sejarah perkembangannya, nama Ahmad bin Musa bin al-Abbas, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Mujahid (w. 324 H), menempati posisi yang sangat penting. Ia merupakan ulama perintis yang menyusun dan mempopulerkan konsep qira’at sab’ah (tujuh qira’at) melalui proses seleksi terhadap qira’at-qira’at yang memiliki sanad mutawatir dan diterima luas oleh para ulama.

Pada titik inilah perlu ditegaskan bahwa istilah sab’atu ahruf tidak identik dengan qira’at sab’ah, meskipun keduanya sama-sama berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an. Sab’atu ahruf merujuk pada bacaan langsung oleh Jibril kepada Nabi Muhammad pada masa turunnya wahyu.

Adapun qira’at sab’ah merupakan hasil kodifikasi ilmiah yang lahir beberapa abad kemudian. Istilah ini muncul ketika Ibnu Mujahid menghimpun dan menetapkan tujuh imam qira’at yang bacaan-bacaannya memenuhi kriteria otentisitas, terutama dari sisi kemutawatiran sanad dan penerimaan para ulama.

Dengan demikian, sab’atu ahruf adalah konsep yang bersumber dari wahyu, sedangkan qira’at sab’ah merupakan hasil klasifikasi keilmuan yang disusun oleh para ulama berdasarkan tradisi periwayatan yang sahih. Wallahu a’lamu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Bisyri
Direktur LSP Daarul Qur’an

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.