Berbicara tentang Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari tidak dapat dilepaskan dari peran pentingnya dalam perkembangan Islam, pesantren, kehidupan kebangsaan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam buku Percik Pemikiran Reflektif Socio-Religious KH Abdul Hakim Mahfudz dengan judul Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari; Pemersatu Umat Islam Indonesia, KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan figur ulama yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga mempunyai kepedulian sosial, semangat kebangsaan, dan kemampuan mengonsolidasikan umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan zamannya.
Kiai Hasyim tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren dan memperdalam ilmu agama di Masjidil Haram, Makkah. Pengalaman intelektual tersebut membentuk cara pandangnya terhadap persoalan umat dan dinamika dunia Islam. Pengalaman belajar di Tanah Suci tidak hanya memperkaya keilmuan keagamaannya, tetapi juga memperluas wawasannya mengenai perubahan politik dunia, melemahnya Kesultanan Turki Usmani, serta semakin luasnya kolonialisme bangsa-bangsa Eropa terhadap negara-negara Islam.
Kesadaran terhadap situasi tersebut kemudian berkelindan dengan semangat perjuangan kebangsaan. Di akhir masa belajarnya di Makkah, beliau bersama enam sahabatnya disebut melakukan ikrar di depan Multazam untuk memperjuangkan kemerdekaan negara masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa semangat keagamaan yang dimilikinya tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan erat dengan kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah ulama yang mengintegrasikan tiga dimensi perjuangan, yaitu keilmuan keagamaan, pemberdayaan masyarakat, dan perjuangan kebangsaan. Ketiga dimensi tersebut menjadi dasar penting dalam memahami gagasan dan kiprah beliau dalam membangun persatuan umat Islam Indonesia.
Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah pemaknaan terhadap Pesantren Tebuireng sebagai pusat transformasi sosial. Pendirian Pesantren Tebuireng tidak semata-mata dipahami sebagai upaya mendirikan lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai respons terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitar Pabrik Gula Tjoekir.
Pada masa awal berdirinya, kawasan Tebuireng digambarkan sebagai lingkungan yang menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk kemaksiatan dan munculnya kelompok-kelompok yang meresahkan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat sekitar juga menghadapi persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial. Sebagian masyarakat hidup dalam kemiskinan, sementara pemilik sawah menghadapi tekanan dalam pengelolaan lahan dan rendahnya hasil ekonomi dari pertanian maupun pekerjaan di pabrik.
Dalam konteks ini, Kiai Hasyim tidak memilih pendekatan keagamaan yang hanya berorientasi pada pengajaran ilmu agama secara teoritis. Beliau justru hadir secara langsung di tengah masyarakat dan berusaha menyelesaikan persoalan mereka. Salah satu bentuknya adalah membeli sawah dan mendampingi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan bertani.
Beliau bahkan menyediakan waktu khusus untuk membantu masyarakat mengatur pengairan, memperbaiki pola tanam, serta meningkatkan hasil pertanian.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Kiai Hasyim bersifat komprehensif. Perubahan sosial dimulai dari perbaikan kondisi ekonomi masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sarana keagamaan dan penguatan pendidikan agama. Setelah kondisi ekonomi masyarakat mulai diperbaiki, beliau membangun masjid di berbagai desa dan menyelenggarakan majelis pengajian yang membahas persoalan akidah dan keagamaan.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan agama dan pemberdayaan ekonomi merupakan dua hal yang saling berhubungan. Masyarakat yang mengalami persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Dalam perspektif ini, pesantren tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama, tetapi juga menjadi pusat perubahan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Pesantren sebagai Instrumen Transformasi Sosial
Keberadaan Pesantren Tebuireng dapat dilihat sebagai contoh bagaimana lembaga pendidikan Islam berperan dalam melakukan transformasi sosial. Pesantren hadir di tengah masyarakat yang sebelumnya menghadapi berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan keagamaan. Transformasi tersebut berlangsung secara bertahap.
Pertama, dilakukan pendekatan terhadap persoalan ekonomi masyarakat melalui pendampingan pertanian dan peningkatan produktivitas. Kedua, dilakukan pembangunan sarana ibadah berupa masjid. Ketiga, masyarakat diberikan pendidikan dan pengajian keagamaan secara rutin.
Model ini menunjukkan bahwa perubahan masyarakat membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pendidikan agama akan lebih efektif apabila berjalan bersama dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, pemberdayaan ekonomi akan memiliki landasan moral yang kuat apabila dibarengi dengan pendidikan agama.
Oleh karenanya, Pesantren Tebuireng bisa diposisikan sebagai model pesantren yang memiliki fungsi multidimensional: sebagai lembaga pendidikan, pusat dakwah, pusat pemberdayaan ekonomi, pusat pembentukan karakter, dan pusat penguatan solidaritas sosial.
Karya Intelektual KH. M. Hasyim Asy’ari Satukan Umat
Karya-karya intelektual KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya sebagai sumber pembelajaran keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi perjuangan untuk menjaga persatuan umat Islam. Karya-karya tersebut lahir dalam konteks sosial dan keagamaan tertentu sehingga pemahamannya perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang melatarbelakanginya.
Salah satu karya yang mendapatkan perhatian adalah Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Karya ini berkaitan dengan munculnya berbagai aliran dan pemikiran keagamaan baru di Indonesia yang kemudian melahirkan perdebatan di tengah masyarakat. Perbedaan pemahaman keagamaan yang semakin tajam berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam.
Dalam situasi ini, Kiai Hasyim berusaha mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menjaga keteraturan kehidupan keagamaan masyarakat. Upaya tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari usaha intelektual untuk memberikan pedoman kepada umat dalam menghadapi perubahan pemikiran Islam.
Karya intelektual Kiai Hasyim memiliki dua dimensi penting. Pertama, dimensi keilmuan, yaitu memberikan penjelasan mengenai prinsip-prinsip keagamaan yang diyakini. Kedua, dimensi sosial, yaitu menjaga umat agar tidak terpecah akibat perbedaan pemikiran dan praktik keagamaan.
Ahlussunnah wal Jamaah dan Upaya Menjaga Persatuan
Paham Ahlussunnah wal Jamaah ditempatkan sebagai salah satu landasan penting dalam perjuangan Kiai Hasyim. Paham tersebut tidak hanya dipahami sebagai identitas teologis, tetapi juga sebagai kerangka keagamaan yang berfungsi menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam dan kehidupan sosial umat.
Munculnya berbagai kelompok dan organisasi Islam pada awal abad ke-20 menciptakan dinamika baru dalam kehidupan umat Islam Indonesia. Perbedaan pemikiran yang pada awalnya merupakan bagian dari dinamika intelektual kemudian berkembang menjadi perdebatan yang semakin tajam. Dalam situasi ini, Kiai Hasyim berusaha mendorong umat agar tetap berada dalam satu barisan.
Gagasan persatuan tersebut terlihat dalam berbagai upaya beliau, termasuk melalui tulisan, ceramah, dan keterlibatan dalam organisasi. Salah satu yang disebut dalam buku adalah Al-Mawa’izh, yang berisi nasihat dan seruan kepada umat Islam untuk menjaga persatuan serta menghindari perpecahan.
Persatuan dalam pandangan tersebut tidak berarti menghilangkan seluruh perbedaan. Sebaliknya, persatuan dibangun dengan kesadaran bahwa umat Islam memiliki keragaman pemikiran dan organisasi, tetapi tetap dapat bekerja sama dalam kepentingan yang lebih besar. Prinsip inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam perjalanan organisasi Islam di Indonesia.
Nasionalisme dan Perjuangan Kebangsaan Kiai Hasyim
Nasionalisme merupakan tema penting lain yang dibahas dalam buku Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari; Pemersatu Umat Islam Indonesia. Nasionalisme beliau tidak dipisahkan dari nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, kecintaan terhadap tanah air dan perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Pengalaman Kiai Hasyim di Tanah Suci memberikan perspektif yang luas mengenai kondisi umat Islam dunia. Melemahnya Kesultanan Turki Usmani dan meluasnya penjajahan bangsa Eropa menjadi bagian dari konteks yang membentuk kesadaran politik dan kebangsaan beliau.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk perjuangan. Kiai Hasyim tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga mengambil peran dalam perjuangan bangsa. Keterlibatan beliau dalam berbagai organisasi dan gerakan umat menunjukkan bahwa perjuangan keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan secara beriringan.
Dalam konteks ini, nasionalisme Kiai Hasyim dapat dipahami sebagai nasionalisme religius, yaitu kecintaan terhadap bangsa yang berakar pada nilai-nilai agama dan tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan masyarakat.
MIAI dan Masyumi sebagai Wujud Konsolidasi Umat Islam
Upaya Kiai Hasyim dalam menyatukan umat Islam juga terlihat dalam keterlibatannya pada gerakan organisasi Islam yang bersifat lebih luas. Sebagai contoh Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937 yang didirikan sebagai salah satu bentuk konsolidasi berbagai organisasi Islam.
MIAI menjadi ruang bersama bagi berbagai kelompok dan organisasi Islam untuk membangun kerja sama. Kehadiran wadah tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan organisasi tidak harus menjadi penghalang bagi persatuan umat. Sebaliknya, organisasi-organisasi Islam dapat bersatu dalam menghadapi kepentingan yang lebih besar, terutama dalam membela kepentingan umat dan bangsa.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan perubahan bentuk organisasi hingga lahirnya Masyumi. Keterlibatan Kiai Hasyim dalam proses tersebut memperlihatkan kapasitas beliau sebagai ulama yang mampu menjembatani berbagai kelompok umat Islam.
Dengan demikian, persatuan umat dalam pemikiran Kiai Hasyim memiliki dimensi strategis. Persatuan bukan hanya untuk kepentingan internal umat Islam, tetapi juga menjadi modal sosial dalam menghadapi kolonialisme dan memperjuangkan kepentingan bangsa.
Perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari mencapai dimensi penting dalam periode mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam buku tersebut, keterlibatan beliau dalam pembentukan dan pengorganisasian kekuatan umat, termasuk Hizbullah dan Sabilillah, dipandang sebagai bagian dari respons terhadap situasi bangsa pada masa itu.
Puncak dari konsolidasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui Resolusi Jihad yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam menggerakkan perlawanan terhadap kembalinya kekuatan kolonial. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana otoritas keagamaan dapat berperan dalam membangun kesadaran kebangsaan dan menggerakkan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi Jihad adalah salah satu contoh hubungan erat antara agama, nasionalisme, dan perjuangan kebangsaan. Kiai Hasyim menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi sumber motivasi moral dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Warisan KH. M. Hasyim Asy’ari bagi Pemberdayaan dan Persatuan Umat
Gagasan utama KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam buku ini adalah bahwa warisan KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya berupa karya intelektual dan lembaga pendidikan, tetapi juga berupa model gerakan atau harakah yang menggabungkan keilmuan, pemberdayaan masyarakat, persatuan umat, dan perjuangan kebangsaan.
Warisan tersebut dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, aspek pendidikan melalui pesantren dan tradisi keilmuan. Kedua, aspek pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan ekonomi dan pertanian. Ketiga, aspek keagamaan melalui pembangunan masjid dan pengajian. Keempat, aspek intelektual melalui karya-karya yang menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Kelima, aspek kebangsaan melalui perjuangan melawan kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan.
Kelima aspek tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Kiai Hasyim bersifat menyeluruh. Beliau tidak memisahkan antara pendidikan agama, kesejahteraan masyarakat, persatuan umat, dan kepentingan bangsa. Justru, seluruh bidang tersebut dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam mewujudkan kemaslahatan.
Pemikiran Kiai Hasyim sebagaimana direfleksikan oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz memiliki relevansi kuat dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat kontemporer. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, perbedaan pandangan keagamaan, ketimpangan ekonomi, dan tantangan persatuan bangsa, warisan pemikiran dan gerakan Kiai Hasyim dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.
Pendekatan yang dilakukan Kiai Hasyim menunjukkan bahwa persoalan keagamaan tidak dapat dilepaskan dari persoalan sosial dan ekonomi. Upaya membangun masyarakat religius harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan dasar masyarakat.
Demikian pula, persatuan umat tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata dan kolaborasi. Perbedaan pemikiran dan organisasi hendaknya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kekayaan yang dapat dikelola untuk kepentingan bersama.
Dalam konteks kehidupan kebangsaan, warisan Kiai Hasyim juga mengajarkan bahwa agama dan nasionalisme bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam kerangka menjaga kemaslahatan masyarakat, merawat persatuan, dan mempertahankan keutuhan bangsa.
___
Mahfudz, Abdul Hakim. 2025. Percik Pemikiran Reflektif Socio-Religious: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari; Pemersatu Umat Islam Indonesia. Cetakan VI. Jombang: Pustaka Tebuireng. ISBN 978-623-6098-19-6.





Comments are closed.