Mon,3 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Tumpahan Minyak Hingga 6 Ton Melumpuhkan Laut dan Pesisir Semau di NTT

Tumpahan Minyak Hingga 6 Ton Melumpuhkan Laut dan Pesisir Semau di NTT

tumpahan-minyak-hingga-6-ton-melumpuhkan-laut-dan-pesisir-semau-di-ntt
Tumpahan Minyak Hingga 6 Ton Melumpuhkan Laut dan Pesisir Semau di NTT
service

Sekitar enam ton minyak mencemarkan laut hingga melumpuhkan perairan Pulau Semau dan Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur. Insiden ini bermula saat proses evakuasi yang berubah menjadi bencana lingkungan, pada Selasa, 28 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA.

Saat itu, pekerjaan teknis pengangkatan dan pemotongan bangkai kapal kargo MV Kuala Mas (KM Kuala Emas) yang tenggelam di perairan Bolok, Kabupaten Kupang. Pekerjaan pemotongan beberapa bagian kapal tersebut dilakukan oleh tim teknis menggunakan sarana utama berupa kapal pemancang Crane Barge Hong Bang 6.

Pada tahap awal, proses pemotongan beberapa bagian struktur kapal berlangsung lancar tanpa menunjukkan indikasi adanya kebocoran bahan bakar. Petaka terjadi ketika proses pemotongan memasuki bagian lambung kiri kapal di antara Palka 2 dan Palka 3, atau pada bagian bawah Cargo Hold Nomor 3.

Tiba-tiba cairan pekat berwarna hitam yang diduga kuat merupakan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO) dan limbah oli merembes keluar dalam jumlah besar ke permukaan air. Pihak kontraktor berkilah titik kebocoran tersebut berada di luar kalkulasi teknis.

Padahal bagian kapal yang dipotong sebelumnya diperkirakan merupakan tangki balas (ballast tank) yang seharusnya steril dari jalur penyimpanan maupun distribusi bahan bakar kapal.

Ketika pelat besi kapal terpotong, sisa-sisa minyak MFO yang masih terperangkap di perut bangkai kapal langsung meluap, mencemari badan air Teluk Kupang, dan terseret arus laut menuju kawasan pesisir Pulau Semau.

Entitas yang Bertanggung Jawab

Proses evakuasi dan pemotongan bangkai MV Kuala Mas ini dikerjakan oleh konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air yang melibatkan PT Nusalindo dan PT Nusantara Salvage Indonesia.

Kedua entitas inilah yang memegang tanggung jawab penuh atas seluruh operasional pengangkatan bangkai kapal sekaligus wajib melakukan mitigasi dan pemulihan atas dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

Hingga beberapa hari setelah insiden kebocoran terjadi, tim gabungan yang terdiri dari aparat kepolisian, instansi teknis terkait, pihak kontraktor, serta warga lokal telah menyita dan mengumpulkan sekitar 5 hingga 6 ton limbah minyak dari kawasan terdampak.

Guna menekan sebaran limbah yang kian mengancam perairan, PT Nusantara Salvage Indonesia menambah armada operasional pembersihan dari dua unit menjadi empat unit perahu.

Dalam proses penanganan darurat di laut, tim menggunakan berbagai sarana mitigasi. Petugas memasang pembatas minyak (oil boom) untuk mengisolasi sebaran tumpahan, menyebarkan lembaran penyerap minyak (oil absorbent pads), menyemprotkan cairan pengurai minyak (oil dispersant), serta mengoperasikan pompa penyedot minyak yang terperangkap di permukaan laut.

Upaya Penjinakan Limbah

Kendati upaya pembersihan intensif terus dilakukan, tindakan penanggulangan di lapangan tidak luput dari kritik keras. Inspeksi yang dilakukan oleh Anggota DPRD Kabupaten Kupang bersama Camat Kupang Barat dan Kepala Desa Bolokpada Minggu (2/8/2026), mengungkapkan adanya celah keselamatan kerja lingkungan yang fatal.

Absalom Buy menilai sistem penahan limbah yang dipasang oleh pihak perusahaan sangat tidak memadai dan tidak memperhitungkan cuaca laut ekstrem, serta karakter arus Teluk Kupang.

Oil boom sebagai penahan limbah ternyata terhempas arus akibat gelombang sehingga mengakibatkan oli keluar. Ini tidak safety,” ujar Absalom.

Dari sisi penegakan hukum dan pengawasan, Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda NTT turut mengawal penanganan sekaligus melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket).

Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, menyatakan kepolisian memfokuskan perhatian pada pemulihan ekosistem dan penyidikan teknis penyebab kebocoran.

“Begitu menerima informasi terkait dugaan pencemaran laut, personel Ditpolairud langsung melakukan pengecekan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan sumber kejadian, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah penanganan yang harus segera dilakukan,” tutur Irwan.

“Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak agar tidak berdampak lebih jauh terhadap lingkungan laut, aktivitas masyarakat pesisir, maupun ekosistem yang ada di wilayah Semau. Hingga saat ini sekitar lima hingga enam ton minyak telah berhasil diamankan dari kawasan terdampak,” imnbuhnya.

Langkah koordinasi juga dibangun bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta pemerintah daerah.

Sementara itu, Kepala Balai Pengelola Kelautan (BPK) Kupang, Imam Fauzi, membenarkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi NTT. 

“Untuk saat ini pencemaran laut itu diduga akibat pengangkatan bangkai kapal,” ungkapnya.

Racun Hitam Membelenggu Ekosistem

Pencemaran limbah MFO ini berdampak sangat destruktif bagi wilayah pesisir. Berdasarkan hasil pemetaan lapangan, tumpahan minyak telah memapar sedikitnya sembilan desa di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang.

Desa-desa terdampak tersebut meliputi Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, hingga Desa Batuinan.

Sektor yang paling parah terhantam adalah budidaya rumput laut yang menjadi penopang utama ekonomi ribuan warga Semau. Camat Semau, Morifali Y.E Mesakh, telah melayangkan laporan tertulis kepada BPK Kupang untuk meminta evaluasi dan penanganan darurat atas hancurnya komoditas warga.

“Minyak juga dilaporkan terus bergerak menuju wilayah pesisir Desa Letbaun dan Desa Batuinan,” ungkap Morifali.

Kerusakan masif juga melanda hamparan budidaya rumput laut di Desa Huilelot. Lapisan oli pekat mencemari sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak, hingga Batuhopon dengan bentangan mencapai enam kilometer.

Tali-tali bentangan dan tanaman rumput laut warga tertutup jelaga minyak hitam, mengalami pembusukan, dan dipastikan gagal panen.

Pendataan total kerugian finansial masih terus berjalan, sementara pihak kontraktor belum memberikan skema pasti terkait ganti rugi atas hancurnya mata pencaharian warga.

Di luar kerugian ekonomi, tumpahan minyak ini mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir dan biota laut di perairan Semau. Lapisan minyak yang menutup permukaan laut menghalangi sirkulasi oksigen dan cahaya matahari, memicu kerusakan terumbu karang serta mengancam habitat ikan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.