Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Penyandang Disabilitas: Belajar dari Los Perenjiles

Penyandang Disabilitas: Belajar dari Los Perenjiles

penyandang-disabilitas:-belajar-dari-los-perenjiles
Penyandang Disabilitas: Belajar dari Los Perenjiles
service

Mubadalah.id –Pada Juli 2016, empat sahabat penyandang sindrom Down di Buenos Aires, Argentina, berhenti menunggu kesempatan yang tak kunjung datang. Mateo Kawaguchi, Leandro López Padros, Franco Noseda, dan Mauricio Roldán berkali-kali melamar pekerjaan, tetapi perusahaan terus menolak mereka.

Akhirnya, mereka mendirikan Los Perejiles, sebuah usaha katering pizza keliling yang melayani pesta ulang tahun, pernikahan, hingga acara perusahaan. Dalam beberapa tahun, usaha itu berkembang dan membuka lapangan kerja bagi penyandang disabilitas lainnya.

Banyak orang memandang kisah tersebut sebagai cerita tentang ketekunan. Pandangan itu memang tidak keliru. Namun, kisah Los Perejiles menyimpan pertanyaan yang jauh lebih penting. Mengapa mereka harus membangun pekerjaan sendiri agar orang lain mengakui kemampuan mereka? Mengapa kesempatan baru hadir setelah mereka membuktikan keberhasilannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada kemampuan penyandang disabilitas. Persoalan itu muncul ketika sebagian orang memegang kuasa untuk menentukan siapa yang layak bekerja, sementara kelompok lain harus terus membuktikan dirinya agar memperoleh kepercayaan. Dalam relasi seperti ini, prasangka mengalahkan kesempatan.

Ketika Ejekan Berubah Menjadi Identitas

Nama Los Perejiles menyimpan kisah yang menarik. Dalam bahasa Spanyol, perejil berarti peterseli. Namun, masyarakat Argentina juga menggunakan kata itu sebagai istilah slang untuk menyebut orang yang dianggap bodoh, tidak penting, atau mudah dimanfaatkan.

Keempat sahabat itu justru memilih kata tersebut sebagai nama usahanya.

Mereka mengambil kata yang selama ini merendahkan mereka, lalu mengubahnya menjadi identitas yang membanggakan. Nama yang dahulu menjadi ejekan kini berdiri di depan sebuah usaha yang menciptakan lapangan kerja dan membuktikan kemampuan para anggotanya.

Pilihan itu bukan sekadar strategi pemasaran. Mereka sedang menantang cara masyarakat memandang penyandang disabilitas. Selama ini, masyarakat terlalu sering memberi label sebelum mengenal kemampuan seseorang. Akibatnya, stigma tumbuh lebih cepat daripada kepercayaan.

Hambatan Terbesar Bukan Tubuh, Tetapi Cara Pandang

Banyak orang menyebut keberhasilan Los Perejiles sebagai bukti bahwa penyandang disabilitas mampu bekerja. Pernyataan itu benar, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Kemampuan mereka tidak muncul ketika usaha itu berdiri. Mereka telah memiliki kemampuan tersebut sejak awal. Yang tidak pernah mereka peroleh ialah kesempatan untuk menunjukkannya.

Pandangan ini sejalan dengan model sosial disabilitas. Model tersebut menjelaskan bahwa hambatan terbesar sering kali tidak berasal dari kondisi fisik maupun intelektual seseorang. Hambatan justru lahir ketika lingkungan gagal menyediakan ruang yang setara.

Cara pandang ini juga membantu kita memahami ableism, yaitu keyakinan bahwa tubuh dan kemampuan tertentu merupakan ukuran utama untuk menilai nilai seseorang. Ableism mendorong masyarakat menganggap tubuh non-disabilitas sebagai standar yang harus dimiliki semua orang. Akibatnya, siapa pun yang berada di luar standar tersebut harus bekerja lebih keras hanya untuk memperoleh kesempatan yang sama.

Argentina telah meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) melalui Law No. 26.378 Tahun 2008. Konvensi itu menjamin hak penyandang disabilitas untuk bekerja tanpa diskriminasi. Namun, pengalaman Los Perejiles menunjukkan bahwa hukum tidak selalu mampu mengubah cara berpikir masyarakat. Regulasi dapat melindungi hak, tetapi hanya perubahan cara pandang yang benar-benar membuka kesempatan.

Mubadalah dan Hak untuk Dipercaya

Faqihuddin Abdul Kodir menjelaskan mubadalah sebagai cara membangun relasi yang berlandaskan kesalingan, kemitraan, dan pengakuan atas martabat manusia. Tidak satu pun pihak berhak mendominasi pihak lain atau menentukan nilainya secara sepihak.

rinsip itu mengajukan pertanyaan sederhana. Jika kita ingin orang lain menilai kita berdasarkan kemampuan, mengapa kita lebih dahulu menilai penyandang disabilitas berdasarkan keterbatasannya? Jika kita mengharapkan kepercayaan sebelum mulai bekerja, mengapa kita justru memaksa mereka membuktikan kemampuan berkali-kali sebelum membuka kesempatan pertama?

Di sinilah relasi yang timpang bekerja. Perusahaan, lembaga, dan masyarakat memegang kuasa untuk menentukan siapa yang layak memperoleh kesempatan kerja. Mereka menetapkan ukuran produktivitas berdasarkan gambaran tentang tubuh yang mereka anggap normal. Cara pandang itu membuat penyandang disabilitas tidak hanya bersaing dengan pelamar lain, tetapi juga menghadapi prasangka yang muncul bahkan sebelum proses seleksi dimulai.

Dalam perspektif mubadalah, relasi seperti itu kehilangan prinsip ketersalingan. Penyandang disabilitas bukan penerima belas kasihan. Mereka merupakan subjek yang memiliki hak, suara, dan kemampuan untuk berpartisipasi. Kesempatan kerja bukan hadiah dari pemberi kerja. Kesempatan kerja merupakan pengakuan terhadap martabat manusia.

Membangun Meja yang Tidak Pernah Tersedia

Los Perejiles memang membangun usaha katering pizza. Namun, mereka juga membangun ruang yang gagal dihadirkan dunia kerja. Mereka membuktikan bahwa kesempatan dapat lahir ketika seseorang berani menciptakannya.

Sayangnya, masyarakat tidak dapat menggantungkan keadilan pada kisah-kisah luar biasa seperti ini. Tidak setiap penyandang disabilitas memiliki modal, jaringan, atau peluang untuk membangun usahanya sendiri. Dunia kerja tidak boleh menunggu munculnya pengusaha sukses sebelum mengakui kemampuan mereka.

Pengalaman Los Perejiles terjadi di Buenos Aires, tetapi pertanyaan yang mereka tinggalkan berlaku di mana saja. Apakah kita benar-benar menilai seseorang berdasarkan kompetensinya, atau kita masih membiarkan prasangka menentukan siapa yang layak memperoleh kesempatan?

Los Perejiles tidak mengajarkan bahwa penyandang disabilitas harus menjadi luar biasa agar masyarakat menerimanya. Mereka justru memperlihatkan bahwa masyarakat terlalu lama menjadikan prestasi sebagai syarat untuk memperoleh kepercayaan.

Dalam relasi yang setara, kepercayaan harus menjadi titik awal, bukan hadiah setelah seseorang berhasil melampaui prasangka. Selama penyandang disabilitas masih harus membuktikan dirinya lebih keras daripada orang lain untuk memperoleh kesempatan yang sama, selama itu pula meja yang kita bangun belum benar-benar menjadi milik semua orang. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.