Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Saya Tidak Mau Jadi Duda: Ketika Anak-anak Memaknai Merariq Kodek

Saya Tidak Mau Jadi Duda: Ketika Anak-anak Memaknai Merariq Kodek

saya-tidak-mau-jadi-duda:-ketika-anak-anak-memaknai-merariq-kodek
Saya Tidak Mau Jadi Duda: Ketika Anak-anak Memaknai Merariq Kodek
service

Mubadalah.id – “Saya tidak mau jadi duda.” Kalimat itu disampaikan seorang anak laki-laki ketika saya bertanya apakah ia tidak tertarik merariq kodeq (perkawinan usia anak). Saya sempat mengira ia akan menjawab karena ingin tetap sekolah atau mengejar cita-citanya. Ternyata, jawaban yang saya dengar justru lahir dari pengalaman yang ia lihat di sekelilingnya.

Anak-anak lain kemudian menyusul dengan alasan-alasan yang juga sederhana.

“Lelahku nambah (nanti saya capek mbajak sawah).”

“Lelahku berumbak (nanti saya capek gendong anak).”

“Kalau merariq, nggak sekolah lagi dong.”

Percakapan itu berlangsung dalam sebuah bincang bersama anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak, di sela-sela kampanye Pantang Merariq Kodeq yang sedang digencarkan di daerah kami di Lombok Timur.

Anak-anak Belajar dari Realitas di Sekitar Mereka

Jawaban-jawaban itu sederhana. Namun, saya justru merasa anak-anak sedang menceritakan kehidupan yang mereka lihat setiap hari. Bagi orang dewasa, perkawinan anak sering dipahami melalui data, regulasi, atau berbagai dampak yang menyertainya.

Fakta di lapangan, anak-anak memahaminya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak memulai dari konsep, tetapi dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan. Apa yang mereka lihat, dengar, dan mereka rasakan perlahan membentuk cara pandang mereka terhadap perkawinan di usia anak.

Ketika seorang anak berkata, “Saya tidak mau jadi duda,” yang muncul bukan hanya penolakan terhadap pernikahan. Kalimat itu menunjukkan bahwa istilah duda bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Entah dari keluarga, tetangga, atau lingkungan sekitar, mereka mengetahui bahwa sebuah pernikahan bisa berakhir dengan perceraian. Pengalaman sosial semacam itu kemudian menjadi bagian dari cara mereka memaknai perkawinan.

Begitu pula dengan jawaban “Lelahku nambah” dan “Lelahku berumbak.” Anak-anak tidak sedang membayangkan pesta pernikahan atau kehidupan rumah tangga yang ideal. Yang terlintas justru kerja di sawah, mencari nafkah, atau menggendong anak. Mereka menangkap bahwa menikah bukan hanya soal menjadi suami atau istri, tetapi juga memikul tanggung jawab yang besar. Cara berpikir seperti ini, menurut saya, tidak mungkin muncul tanpa melihat contoh-contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, kalimat “Kalau merariq, nggak sekolah lagi dong” menunjukkan kesadaran yang lebih penting. Mereka sadar bahwa kesempatan sekolah bisa hilang ketika menikah terlalu muda.

Yang menarik, tidak satu pun dari mereka menggunakan istilah-istilah yang biasa ada dalam sosialisasi, seperti perlindungan anak, kesehatan reproduksi, atau hak anak. Mereka menjawab dengan bahasa mereka sendiri. Dan Bahasa-bahasa mereka terdengar begitu jujur.

Anak Memiliki Cara Pandang yang Perlu Didengar

Dari percakapan itu, tampak bahwa anak-anak tidak sedang mengulang pesan yang biasa mereka dengar dalam berbagai sosialisasi. Mereka sudah memiliki alasan sendiri mengapa tidak ingin merariq kodeq.

Semua jawaban mereka berbicara tentang masa depan. Ada yang ingin tetap bersekolah. Ada yang belum ingin memikul tanggung jawab sebagai orang tua. Dan ada pula yang tidak ingin mengalami kenyataan pahit yang pernah mereka lihat pada kehidupan rumah tangga orang-orang di sekitarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak sudah mampu menghubungkan berbagai pengalaman yang mereka lihat dengan pilihan-pilihan yang mungkin mereka hadapi di kemudian hari. Mereka belajar dari lingkungan, menyusun pemahamannya sendiri, lalu mengambil sikap atas apa yang menurut mereka baik bagi masa depannya.

Sering kali, upaya mencegah perkawinan anak berangkat dari anggapan bahwa anak belum memahami persoalan tersebut sehingga perlu terus diberi penjelasan. Edukasi tentu tetap penting. Namun, pengalaman berbincang dengan anak-anak ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sudah memiliki kesadaran awal. Selain tambahan informasi, yang mereka butuhkan sekarang adalah lingkungan yang membuat keyakinan mereka tetap tumbuh.

Di sini peran orang tua, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah menjadi penting. Mereka bertanggung jawab untuk menjaga agar alasan-alasan yang telah tumbuh dalam diri anak tidak memudar oleh tekanan lingkungan atau keadaan. Ketika seorang anak berkata bahwa ia ingin tetap sekolah atau tidak ingin memikul beban rumah tangga terlalu cepat, yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa harapan itu benar-benar memiliki kesempatan untuk diwujudkan.

Kampanye “Pantang Merariq Kodek” Tidak Berhenti sebagai Slogan

Belakangan ini, kampanye tentang pantang merariq kodeq semakin sering dilakukan melalui berbagai ruang, baik di sekolah, komunitas, maupun kegiatan yang melibatkan anak. Pesannya pun sama, yaitu mengajak masyarakat mencegah perkawinan anak dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan usianya.

Pengalaman berbincang dengan anak-anak di Forum Anak membuat saya melihat bahwa keberhasilan sebuah kampanye tidak hanya berdasarkan banyaknya kegiatan yang dilakukan atau seberapa sering pesannya disampaikan. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu ketika pesan tersebut benar-benar dipahami dan menjadi bagian dari cara anak memandang masa depannya.

Tema Hari Anak Nasional tahun ini mengajak kita menyayangi anak, melindungi, dan membangun masa depan mereka. Bagi saya, salah satu wujudnya adalah memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan bersekolah, mengejar cita-cita, dan menikmati masa kanak-kanaknya sebelum memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

“Saya tidak mau jadi duda.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan harapan yang besar. Ia mengingatkan kita bahwa setiap anak berhak menjalani setiap fase kehidupannya pada waktunya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.