Belajar tentang pangan tidak harus selalu dilakukan melalui buku. Di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, siswa mempelajarinya dengan menanam, merawat, dan memanen sayuran secara langsung. Di salah satu sudut sekolah terdapat rumah kaca seukuran lapangan bola voli. Tempat itu dipenuhi tanaman hias dan berbagai jenis sayuran. Selada dan pakcoy tumbuh di rak hidroponik, sedangkan cabai, terong, dan tomat ditanam menggunakan polybag. Tanaman tersebut dirawat oleh para siswa yang tergabung dalam Green School. Mereka belajar menyiapkan media tanam, membuat pupuk cair, memilih bibit, dan menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. Para siswa juga memperoleh pelatihan dari praktisi dan petani hidroponik. Hidroponik adalah cara menanam tanpa menggunakan tanah. Akar tanaman memperoleh air dan unsur hara dari larutan khusus. Metode ini cocok digunakan di sekolah atau kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan luas. Botol plastik bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam sederhana. Kegiatan tersebut membuat pelajaran biologi dan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal bagian tumbuhan, tetapi juga melihat langsung bagaimana akar menyerap nutrisi, daun melakukan fotosintesis, serta air, cahaya, dan pupuk memengaruhi pertumbuhan. Hasil panen tidak berhenti di kebun. Sebagian sayuran diberikan kepada siswa tata boga untuk diolah menjadi makanan. Dengan demikian, mereka dapat mengikuti perjalanan pangan dari benih, tanaman, panen, hingga menjadi hidangan. Pengalaman dari sekolah juga dibawa pulang. Salah satu siswa mulai membantu orang tuanya menanam cabai, terong, melon, dan tomat di halaman rumah. Tanaman dalam polybag tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga. Selain menanam, para siswa mempelajari pengelolaan sampah…This article was originally published on Mongabay
Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan
Dari Tanam Selada hingga Ternak Lele, Sekolah Ini Ajarkan Kemandirian Pangan





Comments are closed.