Pada awal tahun ajaran pendidikan seperti saat ini, ada hal menarik yang terjadi, yang dialami oleh jutaan keluarga di Indonesia tapi tidak masuk dalam catatan pendidikan. Hal itu berupa munculnya sebuah notifikasi di layar ponsel bahwa “anda telah ditambahkan dalam grup wali murid”.
Sebuah WhatsApp Group (WAG) dibuat untuk mengumpulkan para orangtua yang sebelumnya tidak saling mengenal ke dalam sebuah komunitas. Mereka disatukan oleh fakta bahwa anak-anak mereka duduk di kelas yang sama.
Di grup ini disampaikan hal-hal seperti pengumuman seragam, jadwal pembayaran iuran, tugas tambahan kelas, hingga informasi kegiatan. Dalam hal ini, pendidikan hadir dalam bentuk sederhana, tidak semata tentang kurikulum, mutu sekolah atau kebijakan edukatif lainnya.
Tapi justru di ruang maya ini sebenarnya kita bisa melihat potret penting bagaimana pendidikan benar-benar dilangsungkan di tingkat yang paling dasar. Bukan di mata pelajaran dan dokumen penilaian, tapi dalam grup percakapan. Dalam hal ini, WAG menjadi perpanjangan ruang kelas ke dalam rumah.
Mekanisme ini mengubah cara kerja pendidikan itu sendiri. Informasi yang dulu terpusat di sekolah kini tersebar melalui ponsel orangtua. Guru yang selama ini bertugas mengajar di kelas, kini juga menjadi pengirim pesan. Orangtua juga tidak lagi hanya menerima rapor, tapi juga ikut menjadi bagian alur kerja pendidikan harian.
Darinya kita bisa memahami bahwa sistem pendidikan kita tidak sepenuhnya bekerja sebagai sistem formal yang tertata rapi. Tapi bekerja lewat mekanisme informal yang bergantung pada aktivitas komunikasi yang terus menerus.
Dalam hal ini WAG menjadi “ruang operasional” pendidikan. Ia bukan ruang teoritis, tapi ruang kerja. Di dalamnya, keputusan-keputusan terjadi hampir setiap hari. Mulai dari perubahan jadwal, pengumpulan uang kegiatan, koordinasi acara sekolah hingga penanganan masalah teknis lainnya.
Banyak hal yang dalam sistem ideal seharusnya selesai di tingkat institusi, justru berpindah ke percakapan harian orangtua. Dengannya kita bisa memahami bahwa pendidikan kita ternyata sangat bergantung pada kerja koordinasi mikro yang tidak terlihat dalam sistem pendidikan itu sendiri.
Kerja Informal
Di dalamnya ada sosok yang hampir selalu hadir tapi jarang dibicarakan dalam aktivitas edukasi ini yaitu para ibu. Dalam banyak WAG wali murid, bukan para ayah, tapi ibu-ibu yang menggawangi aliran informasi. Mereka mengingat jadwal, memastikan pembayaran, hingga menanyakan detil kegiatan. Ibu-ibu menjadi penghubung antara sekolah dan rumah.
Dalam budaya masyarakat kita, peran ini kerap dianggap biasa saja, jika tidak dikatakan sebagai “sudah kodratnya”. Padahal jika direnungkan lebih mendalam, ia adalah elemen dari infrastruktur pendidikan yang tidak resmi.
Tanpa kerja para ibu ini, banyak hal sederhana di sekolah tidak akan berjalan mulus. Anak-anak memang tetap bisa belajar di sekolah, tapi ritme kehidupan sekolah akan tersendat. Misalnya ketika anak tidak membawa pakaian olahraga atau tidak membawa alat lukis ketika pelajaran karena lupa tidak disiapkan oleh ibunya.
Tapi menariknya, kerja-kerja ini hampir tidak pernah diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan. Ia tidak menjadi indikator mutu, tidak dimasukkan dalam laporan pendidikan dan tidak dianggap sebagai elemen mekanisme edukatif. Padahal ia nyata, rutin dan menentukan kelancaran proses belajar itu sendiri.
WAG wali murid memperlihatkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tapi juga di ruang koordinasi yang tidak pernah dirancang secara resmi sebagai bagian dari sistem pendidikan. Ia adalah ruang di mana kebijakan bertemu dengan kenyataan, di mana institusi bertemu dengan rumah dan di mana sistem formal bertemu dengan kerja sosial yang tidak tercatat. Darinya kita harus mengakui bahwa pendidikan formal kerap kali bergantung pada kerja informal yang tidak diakui secara formal.
Tata Kelola
Selain itu, WAG wali murid juga memperlihatkan bagaimana informasi pendidikan disebarkan dan dipahami. Idealnya, informasi sekolah bersifat jelas, terstruktur, aplikatif dan satu arah. Tapi dalam praktiknya, informasi itu kerap harus melewati beberapa lapisan. Mulai dari negara (Kementerian dan dinas) ke sekolah, dari sekolah ke guru, dari guru ke grup, dari grup ke individu. Baru oleh individu anggota grup ditafsirkan oleh masing-masing orangtua.
Dalam proses semacam ini, informasi tidak hanya berpindah tapi juga terancam terdistorsi atau bahkan berubah. Bisa jadi menjadi lebih jelas, tapi kerap kali malah menimbulkan kebingungan baru. Hal-hal kecil seperti jadwal, besaran biaya atau mekanisme lainnya menjadi sumber salah paham. Ini terjadi karena informasi tidak tersampaikan dalam format yang seragam dan tidak multiinterpretasi.
Darinya terlihat bahwa salah satu problem mendasar dalam sistem pendidikan kita bukan hanya soal sistem yang mempengaruhi kualitas pengajaran, tapi juga tentang tata kelola (informasi). Sistem pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan kurikulum, pengajar dan mekanisme penilaian yang baik, tapi juga sistem komunikasi yang jelas dan konsisten. Tanpa syarat itu, beban koordinasi akan selalu jatuh pada individu, dan bukan ke sistem.
Menariknya, para wali murid ini hampir selalu mampu menemukan cara untuk menyesuaikan diri. Ketika informasi yang disampaikan sekolah tidak cukup jelas, mereka saling membantu menjelaskan. Ketika ada perubahan mendadak, mereka segera mencari jalan tengah. Mungkin inilah yang disebut sebagai bentuk kepedulian dan gotong royong.
Tapi pada saat yang sama, ia juga memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar tentang masyarakat kita. Banyak urusan publik tetap berjalan bukan karena sistemnya sudah bekerja dengan baik, tapi karena warga terus-menerus menutupi kekurangannya.
Dalam jangka panjang, keadaan ini membuat kita lebih sibuk beradaptasi daripada memperbaiki. Kita sanggup menghadapi masalah tapi kerap terlambat menyadari bahwa masalah itu seharusnya tidak perlu terus menerus ada.
Lapisan Sistem
Darinya kita memahami bahwa komplekstitas pendidikan kita hari ini masalahnya bukan hanya pada kurikulum atau fasilitas, tapi pada lapisan-lapisan yang menopang sistem. Komunikasi yang tidak stabil, beban koordinasi yang tidak merata dan ketergantungan pada kerja informal yang tidak pernah benar-benar diakui.
WAG wali murid memperlihatkan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang terus menerus dinegosiasikan setiap hari. Bukan hanya oleh sekolah, tapi oleh orangtua, guru dan sistem komunikasi yang menghubungkan mereka.
Dan mungkin di situlah pelajaran pentingnya. Bahwa sistem pendidikan kita tidak hanya membutuhkan perbaikan kebijakan, tapi juga pembacaan ulang tentang siapa yang selama ini sebenarnya membuat sistem itu tetap hidup hari demi hari, tanpa pernah masuk ke dalam definisi resmi tentang “sistem” itu sendiri.
Tata kelola itu yang akan menentukan kualitas pendidikan yang sebenarnya. Dan darinya bisa terlahir manusia-manusia dengan intelektualitas, kedewasaan dan kemanusiaan yang matang dalam merespons orang lain, lingkungan sekitar dan dinamika jaman yang makin carut-marut ini.





Comments are closed.