Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kopi Tombo Kembali Dikembangkan, Warga Jaga Warisan Kebun Kopi dan Hutan

Kopi Tombo Kembali Dikembangkan, Warga Jaga Warisan Kebun Kopi dan Hutan

kopi-tombo-kembali-dikembangkan,-warga-jaga-warisan-kebun-kopi-dan-hutan
Kopi Tombo Kembali Dikembangkan, Warga Jaga Warisan Kebun Kopi dan Hutan
service

Di lereng pegunungan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, menyimpan sejarah panjang perkebunan kopi. Komoditas ini telah dikenal masyarakat sejak masa kolonial Belanda pada sekitar 1800-an. Perkebunan kopi yang dibangun pada masa itu menjadi bagian dari perkembangan kawasan sekaligus meninggalkan jejak sejarah yang hingga kini masih dapat ditemukan.

Penasehat pengembangan Desa Tombo sekaligus Dosen PSDKU Universitas Diponegoro (Undip) Batang, Retno Dwi Irianto, mengatakan sejarah tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan identitas kopi Tombo saat ini.

“Tombo termasuk desa yang tua. Desa tersebut telah ada sejak abad 19 yaitu sekitar tahun 1800-an, dan dibangun kawasan perkebunan kopi oleh pemerintahan kolonial pada masa itu,” katanya.

Menurut Retno, sebagian peninggalan sejarah perkebunan tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Karena itu, pengembangan kopi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mempertahankan pengetahuan dan sejarah yang melekat pada desa.

Dari Kopi, Beralih, Lalu Kembali

Kopi Tombo sempat mengalami masa kejayaan dan dipasarkan hingga pasar internasional. Namun, perkembangan komoditas perkebunan membuat posisi kopi perlahan berubah. Ketika kawasan perkebunan dikelola PTPN, sebagian lahan pernah dialihkan menjadi perkebunan teh.

Dalam satu dekade terakhir, masyarakat kembali mengembangkan kopi sebagai komoditas utama. Kepala Desa Tombo Mustajab mengatakan kopi masih memiliki peran besar bagi kehidupan ekonomi warga.

“Potensi terbesar Desa Tombo ada pada alam dan kopi. Hampir 80 persen masyarakat merupakan petani kopi, sehingga komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian warga,” katanya.

Kopi yang ditanam masyarakat terdiri atas beberapa jenis, antara lain robusta, arabika, dan excelsa. Di Kopi Kedawung, salah satu kedai kopi di kawasan hutan pinus Desa Tombo, seluruh biji yang digunakan berasal dari perkebunan masyarakat setempat.

“Di sini semua menggunakan kopi lokal, mulai dari robusta, arabika, hingga excelsa. Semuanya merupakan kopi asli Tombo,” kata pegawai Kopi Kedawung, Mujahidin, dikutip dari laman resmi Pemkab Batang, Rabu (15/7/2026).

Kehadiran kedai kopi di kawasan tersebut turut mempertemukan sektor pertanian dengan pariwisata. Pengunjung dapat menikmati kopi lokal sambil melihat kawasan pegunungan dan hutan pinus. Pada akhir pekan, kedai biasanya lebih ramai dikunjungi wisatawan dari Batang dan daerah sekitar.

Budidaya Kopi dan DAS Lestari

Pengembangan kopi Tombo kini juga diarahkan agar berjalan bersama upaya menjaga lingkungan. Salah satunya melalui Bimbingan Teknis Budidaya Kopi Arabika bagi petani Desa Tombo di Pondok Sidawung, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program DAS Lestari yang mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Petani mendapatkan pengetahuan mengenai penanaman, pengelolaan tanaman, serta pengendalian hama dan penyakit.

Peserta kegiatan, Tarmujo, mengatakan pelatihan memberikan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan di kebun.

“Pelatihan tersebut juga memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai tahapan budidaya kopi. Untuk pelatihan hari ini, mulai dari penanaman sampai dengan pengetahuan dan penanganan hama dan penyakitnya sudah cukup jelas. Ke depan akan saya terapkan dan saya pahami dalam pengelolaan tanaman kopi,” ujarnya.

Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan petani. Berdasarkan survei terhadap 27 bidang tanah, bibit tersebut direncanakan disalurkan kepada 13 petani menjelang musim hujan.

Program ini melibatkan Pemerintah Desa Tombo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, serta PT Bhimasena Power Indonesia (BPI).

General Manager Stakeholder Relation PT BPI Aryamir H. Sulasmoro mengatakan dukungan kepada petani perlu mencakup peningkatan kapasitas, bukan hanya penyediaan bibit.

“Dukungan terhadap masyarakat tidak hanya berupa penyediaan bibit, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan kemampuan petani dapat terus berkembang,” ujarnya.

Kopi sebagai Identitas Desa

Upaya menguatkan kopi Tombo juga dilakukan melalui branding. Tim KKN Tematik Iptek Desa Binaan Universitas Diponegoro bersama Pemerintah Desa Tombo membangun tagline “The Legendary Coffee of Java” untuk memperkenalkan kopi khas Tombo sekaligus meningkatkan mutunya.

Mustajab berharap identitas tersebut dapat mendorong generasi muda mengenali potensi pertanian di daerahnya.

“Tombo sudah ditetapkan menjadi desa wisata berbasis konservasi lingkungan sejak tahun 2022 oleh Pemda, jadi sangat berkesinambungan,” katanya.

Desa Tombo memiliki kawasan hutan, sungai, serta sejumlah curug selain perkebunan kopi. Pemerintah desa memilih mengembangkan wisata secara bertahap dengan tetap mempertahankan fungsi lingkungan.

“Kami ingin ekonomi tumbuh tanpa merusak alam. Karena itu, sampai saat ini kami masih selektif terhadap investasi dari luar agar pengembangan kawasan tetap berpihak kepada masyarakat dan tidak menimbulkan eksploitasi lingkungan,” jelas Mustajab.

Ke depan, pengembangan kopi diarahkan dari hulu hingga hilir, mulai pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Desa juga menyiapkan rencana pembangunan greenhouse, rumah produksi, serta produk kopi celup yang melibatkan kelompok masyarakat.

“Kami ingin mengembalikan kejayaan kopi Tombo. Seluruh kopi yang disajikan di kedai berasal dari hasil panen petani lokal sehingga manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Mustajab.

Pengembangan kopi kini berkaitan dengan pendapatan petani, pelestarian sejarah, dan pengelolaan lingkungan. Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi dan kunjungan wisata tidak mengubah fungsi kawasan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

“Tujuan kami bukan mengejar jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi menjaga agar alam tetap lestari,” ujar Mustajab.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.