Tue,18 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mencerminkan Merdeka: Enam Ruang untuk Membaca Indonesia

Mencerminkan Merdeka: Enam Ruang untuk Membaca Indonesia

mencerminkan-merdeka:-enam-ruang-untuk-membaca-indonesia
Mencerminkan Merdeka: Enam Ruang untuk Membaca Indonesia
service
Foto oleh Anggit Rizkianto dari Unsplash.

Versi Bahasa Inggris

Beberapa waktu sebelum Mbah Nun jatuh sakit, saya berkesempatan bertemu dengannya di Kadipiro. Saya baru kembali ke Indonesia setelah beberapa tahun berada di luar negeri, dan pertemuan itu menjadi kesempatan untuk kembali membaca keadaan Indonesia dari dekat: apa yang sedang berubah, apa yang mungkin datang, dan tema-tema apa yang perlu terus dipelajari bersama di lingkungan Maiyah, khususnya Kenduri Cinta.

Percakapan kami bergerak ke banyak arah. Dari sana muncul beberapa bidang yang terasa perlu digali lebih jauh: geopolitik, ekonomi, lingkungan hidup dan keberlanjutan, demokrasi, serta teknologi. Saya kemudian menambahkan satu ruang lagi yang bagi saya justru menjadi tempat kelima bidang tersebut bertemu: Maiyah.

Enam hal ini bukanlah daftar persoalan yang terpisah. Geopolitik berhubungan dengan ekonomi. Ekonomi tidak mungkin lagi dipisahkan dari lingkungan hidup. Teknologi mengubah keduanya sekaligus. Demokrasi menentukan bagaimana masyarakat mengambil keputusan tentang semua itu. Dan Maiyah menawarkan ruang untuk membaca keseluruhan perubahan tersebut dengan ukuran yang mungkin berbeda dari ukuran dunia pada umumnya.

Dunia yang Tidak Lagi Sederhana

Kita hidup dalam dunia yang semakin sulit dibaca dengan satu peta saja.

Untuk waktu yang cukup panjang setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia sering digambarkan sebagai dunia unipolar dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan. Kini gambar itu berubah. Cina tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang sangat besar. India semakin menentukan arah Asia Selatan dan dunia. Rusia kembali menunjukkan bahwa kekuatan militer tetap menjadi faktor penting dalam hubungan internasional. Eropa mencari bentuk perannya sendiri. Inggris, setelah keluar dari Uni Eropa, meningkatkan perhatian kepada kawasan Indo-Pasifik. ASEAN semakin menjadi tempat pertemuan kepentingan berbagai kekuatan besar.

Kita mendengar nama BRICS, AUKUS, Quad dan berbagai bentuk kerja sama lain. Di balik nama-nama itu terdapat pergeseran kekuatan, kepentingan ekonomi, keamanan, teknologi, energi dan sumber daya alam.

Konflik Rusia-Ukraina kemudian memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan antarnegara yang selama ini dianggap mapan. Perang yang berlangsung jauh dari Indonesia dapat memengaruhi harga energi, gandum, pupuk, transportasi dan berbagai barang yang kita gunakan sehari-hari. Dunia perdagangan yang tampak kokoh ternyata bergantung kepada jaringan yang sangat mudah terganggu.

Konflik di Palestina dan Israel kembali menunjukkan hubungan yang sangat dekat antara geopolitik dan kehidupan manusia. Sebuah konflik lokal dapat meluas menjadi persoalan regional dan global, sekaligus menimbulkan ketegangan di masyarakat yang secara geografis berada ribuan kilometer jauhnya.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang penting untuk kita dalam Maiyah adalah terus bertanya: di manakah posisi Indonesia dalam perubahan dunia ini?

Pertanyaan semacam ini selalu menarik perhatian Mbah Nun. Ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap cara kerja dunia. Ketika ada persoalan yang belum ia pahami, ia tidak berpura-pura sudah mempunyai jawaban. Ia mencari orang yang mengetahui bidang tersebut, mengajukan pertanyaan, mendengarkan, kemudian membawa informasi itu ke ruang yang lebih luas untuk dipikirkan bersama.

Indonesia sendiri tidak lagi berada di pinggir panggung dunia. Ia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, salah satu negara utama ASEAN, dan mempunyai tradisi diplomasi yang memungkinkan Indonesia berbicara dengan banyak pihak tanpa harus sepenuhnya masuk ke dalam satu blok kekuatan.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia akan mempunyai peran dalam dunia yang berubah ini. Indonesia sudah mempunyai peran. Pertanyaan yang lebih penting adalah peran seperti apa yang ingin kita jalankan?

Ekonomi: Makmur untuk Siapa?

Perubahan geopolitik segera membawa kita kepada ekonomi.

Indonesia merupakan bagian dari sistem perdagangan, investasi dan produksi global. Kita membutuhkan modal, teknologi, pasar dan kerja sama internasional. Sebaliknya, dunia membutuhkan banyak hal yang dimiliki Indonesia: sumber daya alam, pasar yang besar, tenaga kerja, posisi geografis strategis, serta kemampuan produksi yang terus berkembang.

Kebijakan hilirisasi mineral, pembangunan ekosistem kendaraan listrik dan peningkatan industri manufaktur memperlihatkan keinginan Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah. Kita ingin memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari apa yang kita miliki.

Namun pertanyaan ekonomi tidak berhenti pada berapa besar pertumbuhan atau berapa banyak investasi yang masuk.

Ekonomi pada akhirnya adalah persoalan manusia.

Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang menanggung biaya? Apakah kekayaan yang dihasilkan memperluas kesejahteraan atau justru memperlebar jarak? Apakah pembangunan hanya mengejar kecepatan, atau juga memikirkan arah?

Istilah seperti free and fair economy—ekonomi yang bebas tetapi juga adil—menjadi penting justru karena kebebasan ekonomi tanpa rasa keadilan dapat menghasilkan ketimpangan baru.

Indonesia tentu harus maju sebagai negara yang makmur. Tetapi kemakmuran bukan hanya angka pada laporan ekonomi. Kemakmuran harus terasa di rumah, di pasar, di desa, di sekolah, dalam kesempatan kerja dan dalam kemampuan sebuah keluarga menjalani hidup secara bermartabat.

Lingkungan: Ekonomi untuk Hari Esok

Pembicaraan tentang ekonomi hari ini hampir mustahil dipisahkan dari lingkungan hidup.

Selama puluhan tahun kita membangun kehidupan modern dengan menggunakan energi fosil dalam jumlah sangat besar. Sekarang dunia menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit: bagaimana memenuhi kebutuhan energi tanpa merusak kemampuan bumi menopang kehidupan generasi berikutnya?

Indonesia berada pada posisi yang sangat menarik.

Kita mempunyai batu bara, tetapi sekaligus mempunyai potensi energi surya, air dan panas bumi yang luar biasa. Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi geothermal terbesar di dunia. Transisi energi bukan sekadar kewajiban karena tekanan internasional. Ia dapat menjadi kesempatan untuk membangun bentuk ekonomi baru.

Hal yang sama berlaku untuk sampah.

Sampah sering kita lihat hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Padahal pengelolaan limbah dapat menjadi industri, menciptakan pekerjaan, menghasilkan energi dan bahan baru, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

Karena itu istilah sustainability atau keberlanjutan sebenarnya sederhana: bagaimana memenuhi kebutuhan kita hari ini tanpa merampas kemungkinan hidup mereka yang datang sesudah kita.

Dalam bahasa yang lebih dekat dengan Maiyah, mungkin pertanyaannya adalah: apakah kita memperlakukan bumi hanya sebagai barang milik kita, atau sebagai titipan?

Demokrasi: Perjuangan yang Tidak Pernah Selesai

Indonesia hari ini sering menikmati demokrasi seolah-olah demokrasi adalah keadaan alamiah.

Padahal tidak demikian.

Generasi yang mengalami Reformasi mengetahui bahwa kebebasan politik tidak datang dengan mudah, cepat atau murah. Ada perjuangan panjang untuk membuka ruang yang sebelumnya sempit: kebebasan berbicara, kebebasan pers, pemilihan umum yang lebih terbuka, otonomi daerah dan tumbuhnya masyarakat sipil.

Mbah Nun berada di tengah perjalanan sejarah tersebut. Perannya tidak hanya hadir melalui tulisan dan gagasan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam berbagai peristiwa menjelang perubahan politik besar di Indonesia.

Padhangmbulan dan kemudian berbagai simpul Maiyah juga tumbuh di dalam perjalanan sosial itu.

Tetapi demokrasi bukan benda yang selesai dibuat lalu disimpan.

Demokrasi harus dijaga.

Ia membutuhkan keterbukaan, keadilan dan rule of law: hukum yang berlaku bagi semua orang tanpa melihat siapa yang sedang berkuasa dan siapa yang tidak.

Ia juga membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada institusi.

Dalam sebuah Kenduri Cinta bertahun-tahun lalu, saya pernah membawa sebuah pemikiran yang saya ketemu dalam sebuah puisi karya Mbah Nun yang menghubungkan demokrasi dengan cinta. Gagasan itu tetap terasa penting: sistem politik sebaik apa pun akan kehilangan jiwa jika manusia di dalamnya tidak mampu melihat manusia lain sebagai sesama.

Di sinilah Maiyah mempunyai fungsi yang menarik. Sinau bareng bukan parlemen dan bukan partai politik. Tetapi ia melatih sesuatu yang sangat diperlukan demokrasi: mendengarkan, menguji pendapat, mengakui keterbatasan pengetahuan, dan duduk bersama orang yang mungkin berbeda pandangan.

Demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan warga negara yang bebas.

Ia membutuhkan warga negara yang dewasa.

Teknologi: Siapa Mengendalikan Siapa?

Perubahan teknologi berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak masyarakat untuk memahaminya.

Transformasi digital telah mengubah cara kita bekerja, berdagang, belajar, berkomunikasi, bahkan cara kita memahami diri sendiri. Artificial intelligence membawa perubahan berikutnya yang mungkin jauh lebih besar.

Pertanyaannya tidak lagi apakah AI akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita menggunakannya.

Apakah teknologi akan memperbesar kemampuan manusia atau justru memperkecil kemandiriannya? Apakah ia akan memperluas akses kepada pengetahuan atau memperbesar kesenjangan? Apakah manusia tetap menjadi subjek, atau perlahan-lahan berubah menjadi objek dari sistem yang diciptakannya sendiri?

Mbah Nun selalu mempunyai cara menarik dalam melihat teknologi. Baginya, kecanggihan utama tetap berada pada manusia. Mesin dapat menjadi sangat maju, tetapi manusialah yang menentukan tujuan, makna dan tanggung jawab penggunaannya.

Ketika persoalan AI mulai sering dibicarakan, Mbah Nun juga menunjukkan rasa ingin tahu yang sama seperti ketika membahas geopolitik atau ilmu pengetahuan lain: jangan buru-buru takut, jangan buru-buru kagum. Pelajari dahulu.

Itu mungkin sikap paling sehat terhadap teknologi.

Bukan menolak perubahan dan bukan pula menyembahnya.

Dan Akhirnya: Maiyah

Lalu kita tiba pada ruang keenam.

Maiyah.

Geopolitik akan berubah. Model ekonomi akan berubah. Sistem energi akan berubah. Demokrasi akan terus diuji. Teknologi akan berkembang dengan kecepatan yang bahkan sulit kita bayangkan.

Apa yang dilakukan Maiyah di tengah semua itu?

Mungkin jawabannya justru terdapat dalam dua kata yang telah lama kita kenal: sinau bareng.

Maiyah tidak harus mempunyai jawaban untuk segala sesuatu. Bahkan kekuatannya mungkin terletak pada kenyataan bahwa ia tidak berangkat dari klaim bahwa seseorang sudah mempunyai seluruh jawaban.

Kita datang membawa pengalaman masing-masing. Ada yang memahami ekonomi. Ada yang memahami musik. Ada yang mengerti teknologi, agama, politik, lingkungan, sejarah atau kebudayaan. Ada yang tidak mempunyai keahlian khusus tetapi membawa pengalaman hidup yang tidak kalah penting.

Kemudian kita duduk bersama.

Kita mempunyai warisan karya Mbah Nun yang sangat luas: sastra, esai, puisi, musik, wirid, shalawat, perjalanan sosial, advokasi masyarakat, perjumpaan lintas agama dan lintas bangsa, serta ribuan percakapan yang berlangsung selama puluhan tahun.

Tetapi warisan itu tidak seharusnya menjadikan kita museum.

Warisan adalah bahan untuk melanjutkan perjalanan.

Bersama KiaiKanjeng, Sabrang, Letto, berbagai simpul Maiyah dan siapa pun yang merasa memperoleh manfaat dari perjalanan ini, tugas kita bukan sekadar menjaga apa yang pernah dilakukan Mbah Nun.

Kita perlu meneruskannya dengan keberanian untuk membaca zaman kita sendiri.

Mbah Nun dapat tetap menjadi guru, teladan dan kawan perjalanan. Tetapi setiap generasi harus melakukan pekerjaan intelektual dan spiritualnya sendiri.

Karena pada akhirnya enam ruang tadi bertemu pada satu pertanyaan:

Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun?

Indonesia yang memahami tempatnya di dunia.

Indonesia yang makmur tetapi adil.

Indonesia yang menjaga bumi yang dititipkan kepadanya.

Indonesia yang demokratis tetapi tetap mempunyai cinta.

Indonesia yang canggih tetapi tidak kehilangan kemanusiaannya.

Dan Indonesia yang tidak pernah berhenti belajar bersama.

Mungkin di situlah Maiyah tetap relevan: bukan karena dunia tidak berubah, tetapi justru karena dunia terus berubah.


Reflecting on Merdeka: Six Spaces for Reading Indonesia

Not long before Mbah Nun fell ill, I had the opportunity to meet him in Kadipiro. I had recently returned to Indonesia after several years abroad, and the meeting became an opportunity to look again at Indonesia from close range: what was changing, what might be coming, and what themes needed to be explored more deeply within Maiyah, and Kenduri Cinta in particular.

Our conversation moved in many directions. From it emerged several areas that seemed especially important to explore further: geopolitics, the economy, the environment and sustainability, democracy, and technology. I then added one more space which, for me, is where the other five meet: Maiyah.

These six areas are not separate from one another. Geopolitics is linked to economics. Economics can no longer be separated from the environment. Technology is changing both. Democracy shapes how society makes decisions about all of them. And Maiyah offers a space in which these changes can be considered through a different set of values.

Geopolitics: A World That Is No Longer Simple

We live in a world that is increasingly difficult to understand through a single map.

For a long period after the Cold War, the world was often described as unipolar, with the United States as the dominant power. That picture has changed. China has become a major economic and political force. India is playing an increasingly important role in South Asia and beyond. Russia has again demonstrated the importance of military power in international relations. Europe continues to define its own role. The United Kingdom, after leaving the European Union, has increased its attention to the Indo-Pacific. ASEAN has become increasingly important as a place where the interests of major powers meet.

We hear the names BRICS, AUKUS, the Quad, and other forms of international cooperation. Behind these names lie shifting patterns of power, economic interest, security, technology, energy, and natural resources.

The war between Russia and Ukraine showed how fragile international connections can be. A war taking place far from Indonesia can affect the prices of energy, wheat, fertiliser, transport, and many of the goods we use every day. The global trading system, which can appear strong, is in fact highly dependent on networks that can easily be disrupted.

The conflict in Palestine and Israel has again shown the close connection between geopolitics and human life. A conflict in one place can become a regional and global issue, and can also create tensions in societies thousands of kilometres away.

For us in Maiyah, one important habit is therefore to keep asking: where does Indonesia stand within this changing world?

Questions of this kind always interested Mbah Nun. He had a deep curiosity about how the world worked. When there was something he did not fully understand, he did not pretend to have the answer. He looked for people with greater knowledge, asked questions, listened, and then brought what he had learned into a wider space for collective reflection.

Indonesia itself is no longer at the edge of the world stage. It is the largest economy in Southeast Asia, a member of the G20, one of the principal countries of ASEAN, and a country with a diplomatic tradition that allows it to speak with many sides without having to become part of a single bloc.

The question is not whether Indonesia will have a role in this changing world. It already does. The more important question is: what kind of role do we want Indonesia to play?

The Economy: Prosperity for Whom?

Geopolitical change leads directly to questions of economics.

Indonesia is part of a global system of trade, investment, and production. We need capital, technology, markets, and international cooperation. At the same time, the world needs many things that Indonesia possesses: natural resources, a large market, labour, a strategic geographical position, and growing productive capacity.

Policies of downstream processing, the development of the electric-vehicle ecosystem, and the strengthening of manufacturing show Indonesia’s desire not simply to export raw materials, but to create greater value from what it has.

Yet economic questions do not end with growth figures or the amount of investment coming into the country.

Economics is ultimately about people.

Who benefits? Who carries the cost? Does the wealth being created broaden prosperity, or widen inequality? Is development concerned only with speed, or also with direction?

The idea of a free and fair economy matters precisely because economic freedom without justice can produce new forms of inequality.

Indonesia should certainly move forward as a prosperous country. But prosperity is not only a figure in an economic report. It should be felt in homes, markets, villages, schools, employment opportunities, and in the ability of families to live with dignity.

The Environment: An Economy for Tomorrow

It is now almost impossible to separate discussion of the economy from discussion of the environment.

For many decades, modern life has been built on the use of fossil fuels. The world now faces a more difficult question: how can we meet our energy needs without damaging the earth’s ability to support future generations?

Indonesia is in a particularly important position.

We have coal, but we also have major potential in solar energy, water, geothermal energy, and other renewable sources. Indonesia has some of the largest geothermal potential in the world. The energy transition should therefore not be seen only as an obligation created by international pressure. It can also be an opportunity to build new forms of economic activity.

The same is true of waste.

Waste is often seen simply as something that must be thrown away. Yet waste management can become an industry in itself, creating jobs, producing energy and new materials, while at the same time improving the environment.

The meaning of sustainability is actually quite simple: how do we meet our needs today without taking away the possibilities of those who come after us?

In language closer to Maiyah, perhaps the question is this: do we treat the earth only as something we own, or as something entrusted to us?

Democracy: A Struggle That Is Never Finished

Indonesia today can sometimes enjoy democracy as though it were something natural.

It is not.

The generation that experienced Reformasi knows that political freedom did not come easily, quickly, or without cost. There was a long struggle to open spaces that had previously been narrow: freedom of expression, freedom of the press, more open elections, regional autonomy, and the growth of civil society.

Mbah Nun was part of that historical journey. His role was not limited to writing and ideas, but also included direct involvement in important moments leading up to political change in Indonesia.

Padhangmbulan and, later, the various Maiyah circles also grew within this social journey.

But democracy is not something that can be built once and then simply preserved.

Democracy has to be protected.

It requires openness, fairness, and the rule of law: a law that applies to everyone, regardless of who is in power and who is not.

It also requires something deeper than institutions.

At an edition of Kenduri Cinta many years ago, I brought into the discussion an idea I found in a poem by Mbah Nun linking democracy with love. That idea still feels important. Even the best political system will lose its spirit if the people within it are unable to see others as fellow human beings.

This is where Maiyah has an interesting role. Sinau bareng is not a parliament and it is not a political party. But it trains qualities that democracy greatly needs: listening, testing opinions, recognising the limits of our own knowledge, and sitting together with people who may hold different views.

A healthy democracy does not only require citizens who are free.

It requires citizens who are mature.

Technology: Who Controls Whom?

Technological change is moving far more quickly than many societies are able to understand.

Digital transformation has changed the way we work, trade, learn, communicate, and even the way we understand ourselves. Artificial intelligence may bring an even greater level of change.

The question is no longer whether AI will become part of our lives. It already has.

The question is how we use it.

Will technology expand human capability, or reduce human independence? Will it widen access to knowledge, or increase inequality? Will human beings remain the subject, or slowly become objects within systems they themselves have created?

Mbah Nun always had an interesting way of looking at technology. For him, the greatest sophistication remained within the human being. Machines may become increasingly advanced, but human beings still determine their purpose, meaning, and responsibility.

When AI began to become a more frequent subject of discussion, Mbah Nun showed the same curiosity he brought to geopolitics and other fields of knowledge: do not be too quick to fear it, and do not be too quick to admire it. Study it first.

That may be the healthiest attitude toward technology.

Neither rejecting change nor worshipping it.

And Finally: Maiyah

And then we arrive at the sixth space.

Maiyah.

Geopolitics will change. Economic models will change. Energy systems will change. Democracy will continue to be tested. Technology will develop at a speed that is difficult for us to imagine.

What does Maiyah do in the middle of all this?

Perhaps the answer lies in two words we have long known: sinau bareng.

Maiyah does not need to have an answer to everything. Its strength may lie precisely in the fact that it does not begin with the claim that any one person already possesses all the answers.

We come bringing different forms of experience. Some understand economics. Some understand music. Others understand technology, religion, politics, the environment, history, or culture. Some may not have a particular field of expertise, but bring life experience that is no less important.

Then we sit together.

We have the gift of Mbah Nun’s body of work: literature, essays, poetry, music, wirid, shalawat, social action, public advocacy, encounters across religions and nations, and thousands of conversations that took place over many decades.

But that inheritance should not turn us into a museum.

An inheritance is material for continuing the journey.

Together with KiaiKanjeng, Sabrang, Letto, the different Maiyah circles, and everyone who has found value in this journey, our task is not simply to preserve what Mbah Nun once did.

We need to continue it with the courage to read our own age.

Mbah Nun can remain a teacher, an example, and a companion on the journey. But every generation has to do its own intellectual and spiritual work.

In the end, these six spaces come together in one question:

What kind of Indonesia do we want to build?

An Indonesia that understands its place in the world.

An Indonesia that is prosperous, but just.

An Indonesia that protects the earth entrusted to it.

An Indonesia that is democratic, but still rooted in love.

An Indonesia that is technologically advanced, but does not lose its humanity.

And an Indonesia that never stops learning together.

Perhaps this is where Maiyah remains relevant: not because the world does not change, but precisely because it continues to change.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.