Arina.id – Arab Saudi tidak hanya dikenal dengan jejak peradaban Islamnya. Namun jauh di era pra-Islam, kawasan semenanjung Arab itu ternyata juga sudah ditinggali oleh manusia dengan jejak-jejak peradaban yang masih ada sampai sekarang. Salah satunya adalah makam liontin batu yang tersebar luas di kawasan Al-Ula, Khaybar, dan Tayma.
Penemuan makam liontin tersebut mengungkap beberapa bukti arkeologi paling menonjol tentang permukiman manusia kuno di Semenanjung Arab. Mereka tersebar rapat di sepanjang harrat vulkanik, sepanjang lembah, serta oasis dan sumber air, di mana batuan lokal digunakan dalam pembangunannya. Data dari badan arkeologi setempat, kurang lebih ada 1800 makam yang teridentifikasi.
Seperti dikutip dari Saudi Pers Agency (SPA), makam ini umumnya terdiri dari ruang pemakaman utama yang terhubung dengan ekstensi batu menyerupai ekor. Bentuk dan ukurannya bervariasi sesuai dengan berbagai pola arsitektur.
Studi arkeologi menunjukkan bahwa banyak di antaranya berasal dari Zaman Perunggu, sementara keberagaman dan tumpang tindih beberapa struktur menunjukkan perkembangan teknik konstruksi selama periode peralihan masa demi masa secara berturut-turut.
Menurut Komisi Kerajaan untuk penelitian dan proyek arkeologi Al-Ula, banyak pemakaman terhubung melalui jalur panjang yang dikenal sebagai “jalan pemakaman.” Rute-rute ini membentang antara oasis, padang rumput, dan sumber air serta mencerminkan pola pergerakan dan konektivitas antar pemukiman kuno di sepanjang jaringan sekitar 530 kilometer.
Konsentrasi pemakaman di dekat oasis dan sumber air menunjukkan pentingnya lokasi-lokasi ini dalam kehidupan masyarakat pada masa itu. Para peneliti percaya bahwa jalur pemakaman tersebut terkait dengan pergerakan musiman para penggembala dan ternak mereka antara oasis dan padang rumput, serta perannya dalam meningkatkan komunikasi antar pemukiman.
Disebut sebagai makam liontin sebab struktur kuburan kuno tersebut berbentuk seperti perhiasan liontin dari Zaman Perunggu. Makam berusia sekitar 4.500 tahun ini tersusun dari tumpukan batu dan berada di sepanjang jaringan jalan raya kuno.
Karakter bentuk makam menyerupai liontin atau cincin, lengkap dengan struktur “ekor” batu yang memanjang. Makam cincin terdiri dari bangunan mirip piramida kecil yang dikelilingi dinding batu setinggi dua meter.
Sejarah dan Fungsi
Berdasarkan uji radiokarbon, menurut jurnal The Holocene, makam ini dibuat antara tahun 2600 hingga 2000 SM dan terus digunakan kembali hingga 1.000 tahun lalu. Makam-makam ini berderet di sisi kiri dan kanan jalur perjalanan kuno, membentuk jaringan jalan raya purba yang dulunya sering dilewati oleh manusia dan hewan peliharaan.
Adapun Al-Ula merupakan sebuah kota kuno, wilayah kegubernuran bersejarah yang terletak di sebelah barat laut Arab Saudi. Tempat ini terkenal di dunia internasional karena menyimpan sisa-sisa arkeologi berusia lebih dari 2.000 tahun dan menjadi salah satu pusat pariwisata budaya serta warisan purbakala paling penting di Timur Tengah.
Secara arkeologi kota ini dulunya menjadi rute perdagangan kuno yang secara historis terletak di jalur perdagangan penting bernama Rute Dupa. Rute ini menghubungkan India dan Jazirah Arab dengan wilayah Mediterania. Dulunya, wilayah ini juga dikenal sebagai ibu kota kuno dari Kerajaan Dadan dan Lihyan (Lihyanites).
Al-Ula juga berdekatan dengan Situs Hegra (Madain Saleh). Situs tersebut terletak di dekat Al-Ula yang merupakan kota selatan terbesar dari Kerajaan Nabatean (kaum yang sama yang membangun Petra di Yordania). Hegra diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Arab Saudi.
Hubungan Keagamaan (Kisah Kaum Tsamud)
Dalam tradisi Islam dan Alquran, wilayah sekitar Al-Ula (khususnya Madain Saleh atau Al-Hijr) diidentifikasikan sebagai tempat tinggal Kaum Tsamud, yaitu kaum Nabi Saleh AS yang diazab oleh Allah karena membangkang dan membunuh unta mukjizat. Karena sejarah kelam tersebut, dahulu daerah ini cenderung dihindari untuk dikunjungi, sebelum akhirnya kini dikembangkan secara masif menjadi pusat wisata sejarah internasional oleh pemerintah Arab Saudi.
Ada beberap destinasi di sana, mulai dari Jabal Al-Fil (Elephant Rock), yang merupakan formasi batuan raksasa alami dari batu pasir yang berbentuk menyerupai gajah dengan belalai menyentuh tanah. Kemudian ada Jabal Ikmah, yaitu sebuah perpustakaan terbuka raksasa berupa dinding tebing yang dipenuhi ratusan prasasti dan ukiran kuno dari masa Lihyan dan Dadan.
Kemudian ada Kota Tua Al-Ula yang terdiri dari labirin perumahan kuno berstruktur batu bata lumpur dan batu yang dihuni sejak abad ke-12 hingga abad ke-20. Pada masa Nabi Muhammad SAW, kawasan Al-Ula, khususnya situs Al-Hijr / Madain Saleh, terekam jelas dalam sejarah Islam, terutama saat peristiwa Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah.
Ketika melintasi kawasan ini dalam perjalanan dari Madinah menuju Tabuk, Rasulullah SAW menunjukkan sikap dan memberikan instruksi khusus kepada para sahabat yang menjadi panduan hukum bagi umat Islam hingga saat ini.
Ketika para sahabat melewati reruntuhan batu di Madain Saleh, bekas pemukiman Kaum Tsamud, Nabi melarang mereka memasukinya untuk sekadar berekreasi atau mengagumi peninggalannya. “Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang zalim (yang diazab) kecuali dalam keadaan menangis, karena kalian bisa ditimpa seperti apa yang menimpa mereka.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Dalam riwayat shahih disebutkan dijelaskan, saat melintasi lembah pemukiman terkutuk tersebut, Nabi Muhammad menutupi kepalanya dengan kain, menundukkan pandangan dan mempercepat laju untanya agar bisa segera keluar dari wilayah tersebut tanpa menoleh ke kanan dan kiri.
Para sahabat sempat mengambil air dari sumur-sumur kuno di sana untuk minum dan membuat adonan roti. Mengetahui hal itu, Rasulullah SAW langsung memerintahkan mereka agar menumpahkan air yang telah diambil, kemudian membuang adonan roti atau memberikannya sebagai makanan unta. Nabi hanya mengizinkan penggunaan air yang berasal dari sumur tempat minum unta mukjizat Nabi Saleh AS.





Comments are closed.