Bagaimana kalau alasan seseorang tidak punya pasangan bukan karena terlalu pemilih, tidak laku, atau belum menemukan jodoh. Tetapi karena hidupnya memang belum memungkinkan?
Pertanyaan ini muncul ketika semakin banyak orang muda mengaku sebenarnya ingin punya pasangan. Tetapi harus menunda percintaan karena waktu, uang, dan energi mereka sudah habis untuk kebutuhan lain.
Sebuah konten di TikTok tengah ramai usai membicarakan tentang jatuh cinta yang kini terasa seperti sebuah privilese atau kemewahan. Konten tersebut kemudian dipenuhi dengan berbagai pengalaman personal dari pengguna lain yang merasa sepakat dengan situasi yang dibicarakan. Bukan membicarakan kisah pertemuan dengan kekasih atau sulitnya menemukan orang yang cocok. Kolom komentar justru dipenuhi dengan cerita tentang pekerjaan, keluarga, kondisi finansial, dan berbagai tanggungan lainnya yang membuat orang merasa belum punya cukup ruang untuk menjalin sebuah hubungan.
“Mau jatuh cinta pun sungkan kalau masih banyak tanggungan.”
Komentar tersebut mendapat ratusan likes dan diikuti cerita yang kurang lebih serupa. Ada yang merasa pacaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ada yang memiliki tanggungjawab untuk membantu keluarga secara finansial. Dan ada pula yang sebenarnya ingin punya pasangan, tetapi masih belum punya waktu dan tenaga tambahan untuk mengurus hubungan.


Dari sekian komentar yang membahas masalah finansial, ada salah satu komentar yang paling mencolok. Ia mengatakan, “Saking pusing dan bingungnya mikirin ekonomi keluarga, gua berasa gak punya waktu dan kesempatan buat ngurus jatuh cinta.”
Kalimat itu cukup menggambarkan bahwa persoalan orang muda saat ini bukan lagi tidak ingin jatuh cinta. Melainkan ada persoalan lain yang terasa lebih mendesak.
Dalam kondisi ini, orang muda melihat pacaran sebagai sesuatu yang harus ditunda. Permasalahan tidak lagi terbatas pada seseorang yang tidak tertarik pada hubungan romantis. Melainkan karena ada kebutuhan lain yang harus lebih dulu diprioritaskan.
Hubungan romantis justru bisa dianggap sebagai tambahan beban ketika sebagian penghasilan masih digunakan untuk kebutuhan di rumah. Atau saat pekerjaan sudah menyita sebagian besar waktu, atau ketika menjalani kehidupan sehari-hari saja sudah terasa melelahkan.
Hal ini juga terlihat dari pengalaman mereka yang menjadi bagian dari generasi sandwich. Seorang pengguna media sosial mengatakan bahwa dirinya terpaksa menutup akses percintaan demi memutus rantai kemiskinan di keluarganya. Ia mungkin tetap ingin punya pasangan. Tetapi keadaan membuat percintaan terasa seperti sesuatu yang belum bisa menjadi prioritas.
Tentu, tidak semua orang yang jomblo tidak berada dalam situasi seperti ini. Ada yang memang menikmati hidup tanpa pasangan. Ada yang belum tertarik menjalin hubungan, dan ada pula yang memang memilih sendiri. Namun, pengalaman di kolom komentar tersebut memperlihatkan sisi lain dari status single. Ada orang yang sebenarnya ingin punya pasangan, tetapi keadaan membuat hubungan bukan menjadi pilihan yang mudah.


Di titik ini, fenomena tersebut menjadi menarik karena keputusan yang terlihat sangat personal ternyata tidak sepenuhnya lahir dari ruang personal. Kondisi ekonomi, pekerjaan, lingkungan sosial, dan pengalaman hidup turut membentuk cara seseorang memandang hubungan.
Orang dengan kondisi finansial yang stabil dan memiliki waktu luang tentu memiliki pertimbangan yang berbeda soal jatuh cinta. Misalnya, dengan orang yang setiap bulan masih harus memikirkan bagaimana caranya memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Dari fenomena tersebut, pembicaraan soal cinta kemudian melebar ke hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Muncul diskursus tentang tuntutan pekerjaan, biaya hidup, hingga kelas sosial yang turut membentuk pilihan seseorang dalam urusan cinta. Hubungan memang berlangsung antara dua orang. Tetapi keduanya membawa kondisi hidup masing-masing ke dalam hubungan tersebut.
Bahkan hal-hal sederhana dalam pacaran sekarang bisa terasa seperti persoalan ekonomi. Ada yang membandingkan pengalaman pacaran zaman dulu dengan pengalaman pacaran di kondisi ekonomi saat ini. Dulu, jika ingin pergi kencan, ia bisa langsung dijemput. Sekarang, bahkan untuk dijemput saja harus memikirkan harga bensin dan lamanya antrean. Ia kemudian menyimpulkan bahwa cinta di masa kini menjadi keputusan finansial bagi banyak orang.

Dari sinilah istilah “single jalur sistemis” menjadi menarik. Bukan karena ingin menghilangkan unsur pilihan pribadi, tetapi justru untuk melihat apa yang berada di balik pilihan tersebut. Ketika seseorang mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mempunyai pasangan, keputusan itu memang tetap miliknya. Namun, keputusan tersebut dibuat dalam situasi tertentu.
Misalnya, seseorang mungkin ingin mempunyai pasangan. Tetapi sebagian besar penghasilannya masih digunakan untuk kebutuhan bersama di rumah. Ia juga mungkin menghabiskan sepanjang harinya untuk bekerja sehingga tidak punya waktu untuk bertemu dengan orang baru. Atau, mungkin setelah pulang kerja, energinya sudah habis untuk mengurus berbagai hal lainnya.
Dalam kondisi ini, menjadi single terasa bukan karena ia tidak membutuhkan hubungan. Melainkan karena hubungan bukan sesuatu yang dengan mudah dapat ia masukkan ke dalam hidupnya.
Di sinilah pilihan personal bertemu dengan kondisi sosial. Kita tetap bisa mengatakan bahwa orang tersebut memilih untuk sendiri, tetapi pilihan itu tidak berdiri sendiri. Dengan kata lain, seseorang tetap memilih, tetapi pilihan tersebut selalu dibuat dari kondisi tertentu.
Karena itu, status single tidak selalu bisa dijelaskan dengan “belum menemukan orang yang tepat”. Bisa saja seseorang memang belum memiliki kesempatan yang tepat untuk menjalin hubungan.
Dari sini, pembicaraan tentang cinta kemudian bersinggungan dengan persoalan politik. Komentar seperti, “Lihat kan, bagaimana politik memengaruhi bahkan hubungan romantismu?” menjadi menarik. Karena politik tidak serta merta menentukan orang yang akan kita cintai. Namun, kebijakan dan kondisi sosial sebagai bagian dari politik itulah yang dapat memengaruhi kehidupan yang dijalani seseorang.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu membedakan antara jatuh cinta dan punya hubungan. Jatuh cinta itu gratis. Tidak ada syarat ekonomi, pekerjaan ataupun status sosial. Perasaan bisa muncul begitu saja.
Tetapi, ketika perasaan itu ingin dijadikan sebuah hubungan, situasinya menjadi berbeda. Ada waktu yang harus disediakan, biaya yang perlu dikeluarkan, dan energi yang perlu diberikan agar hubungan dapat terus berjalan.
Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa punya pasangan bisa menjadi sebuah privilese, bukan berarti hanya orang yang tertentu yang boleh jatuh cinta. Yang menjadi privilese adalah kesempatan untuk mengubah perasaan menjadi sebuah hubungan.
Mencintai seseorang itu gratis. Tetapi kondisi untuk menjalaninya tidak dimiliki semua orang dalam ukuran yang sama.




Comments are closed.