Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Mengenal Depresi Perinatal yang Jadi Pemicu Utama Depresi Postpartum

Mengenal Depresi Perinatal yang Jadi Pemicu Utama Depresi Postpartum

mengenal-depresi-perinatal-yang-jadi-pemicu-utama-depresi-postpartum
Mengenal Depresi Perinatal yang Jadi Pemicu Utama Depresi Postpartum
service

Jakarta

Kehamilan dan pasca persalinan memang menjadi masa-masa rawan bagi para ibu di mana ancaman depresi kerap menghampiri. Yuk, mengenal depresi perinatal yang jadi pemicu utama depresi postpartum.

Depresi perinatal mungkin tidak terlalu familiar didengar. Padahal, risiko ini termasuk serius karena dapat mengganggu kenyamanan hidup seorang perempuan.

Apa itu depresi perinatal?

Depresi perinatal merupakan depresi yang terjadi selama kehamilan atau setelah melahirkan. Penggunaan istilah perinatal ini mengakui bahwa depresi ini berkaitan dengan memiliki bayi sering kali dimulai selama kehamilan.

Walau belum terlalu banyak perempuan mengenal istilah ini, depresi perinatal sebenarnya menjadi penyakit medis yang serius. Tetapi, Bunda tak perlu khawatir karena gangguan ini dapat diobati. Meskipun demikian, risiko depresi perinatal tetap perlu diwaspadai karena bisa membuat perasaan sedih yang ekstrem, kecemasan, serta perubahan energi, tidur, dan nafsu makan.

Selain itu, depresi ini juga membawa risiko pada bayi dan juga ibu. Diperkirakan satu dari tujuh perempuan mengalami depresi perinatal, seperti dikutip dari laman Psychiatry.

Bagi sebagian besar ibu hamil dan pasca persalinan, memiliki bayi memang masa yang sangat membahagiakan meskipun ada juga kemunculan perasaan cemas di tengah-tengah kebahagiaan tersebut. 

Namun, bagi para penderita depresi perinatal, hal tersebut bisa menjadi sangat menyusahkan dan sulit dilalui. Apalagi, masa-masa kehamilan dan pasca persalinan menjadi periode yang sangat rentan terhadap kondisi ini para ibu sering kali mengalami perubahan biologis, emosional, finansial, dan sosial. Bahkan, beberapa orang dapat berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, terutama depresi dan kecemasan.

Bukan sekadar baby blues

Hingga 85 persen dari seluruh ibu baru kerap mengalami serangan baby blues yakni suatu kondisi yang berlangsung singkat dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari serta tidak memerlukan perawatan medis. Namun, kondisi emosional ini dapat berubah menjadi kondisi menangis tanpa alasan, mudah tersinggung, gelisah, dan cemas. Gejala-gejala ini akan berlangsung selama satu atau dua minggu dan umumnya hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Penting Bunda tahu bahwa baby blues dan depresi perinatal berbeda satu sama lain. Karena, kondisi depresi perinatal melemahkan secara emosional dan fisik serta dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih. Dan, penting untuk segera mendapatkan pengobatan baik untuk ibu dan anak.

Dampak pada ibu dan bayi

Depresi perinatal yang tidak ditangani dengan serius tidak hanya menjadi masalah bagi kesehatan dan mengganggu kualitas hidup individu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah.

Selain itu, depresi perinatal juga dapat menyebabkan masalah bonding antara ibu dan bayi serta dapat menyebabkan masalah tidur dan makan pada bayi. Bahkan, dalam jangka panjang, anak-anak dari ibu dengan depresi perinatal berisiko lebih tinggi mengalami defisit kognitif, emosional, perkembangan, dan verbal, serta gangguan keterampilan sosial. 

Gejala depresi perinatal

Depresi perinatal biasanya disertai gejala-gejala tertentu yang membuat kehidupan jadi kurang nyaman, di antaranya sebagai berikut ya, Bun:

1. Merasa sedih atau mengalami suasana hati yang tertekan
2. Kehilangan minat atau kesenangan dalam beraktivitas
3. Perubahan nafsu makan
4. Sulit tidur atau tidur terlalu banyak
5. Kehilangan energi atau peningkatan kelelahan
6. Peningkatan aktivitas fisik tanpa tujuan
7. Merasa tidak berharga atau bersalah
8. Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau membuat keputusan
9. Pikiran tentang kematian atau bunuh diri
10. Menangis tanpa alasan
11. Kurangnya minat pada bayi, tidak berasa bonding dengan bayi, atau merasa sangat cemas di sekitar bayi
12. Perasaan menjadi ibu yang buruk
13. Takut menyakiti bayi atau diri sendiri

Seseorang yang mengalami depresi perinatal biasanya memiliki beberapa gejala ini, dan gejala serta tingkat keparahannya dapat berubah. Gejala-gejala ini dapat menyebabkan seseorang yang baru melahirkan merasa terisolasi, bersalah, atau malu. Untuk didiagnosis depresi perinatal, gejalanya harus mulai muncul selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah melahirkan.

Banyak orang dengan depresi perinatal juga mengalami gejala kecemasan. Sebuah studi menemukan bahwa hampir dua pertiga orang dengan depresi perinatal juga memiliki gangguan kecemasan. Pada 2023, the U.S. Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining kecemasan untuk orang dewasa di bawah 65 tahun, termasuk ibu hamil dan yang baru melahirkan.

Meskipun tidak ada tes diagnostik khusus untuk depresi perinatal, kondisi ini merupakan kondisi medis klinis yang didiagnosis oleh tenaga medis profesional. Depresi perinatal ialah penyakit nyata yang harus ditanggapi secara serius. 

Setiap ibu hamil atau orang tua baru yang mengalami gejala depresi perinatal harus berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, dokter keluarga atau dokter kandungan, yang dapat merujuk mereka ke psikiater atau tenaga kesehatan mental profesional lainnya.

Pada kondisi tertentu, Bunda juga perlu menghubungi dokter jika mengalami gejala di atas selama lebih dari dua minggu. Atau, Bunda memiliki pikiran untuk bunuh diri atau menyakiti anak, perasaan depresi semakin parah, dan Bunda mengalami kesulitan dengan tugas mengurus bayi, segeralah menemui dokter untuk penanganan lebih lanjut ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.