Bencana tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit tular vektor dan zoonosis. Perubahan lingkungan, gangguan sanitasi, terbentuknya habitat vektor, serta meningkatnya interaksi manusia, hewan, dan lingkungan menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak dini. Menjawab tantangan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat peran riset dan kolaborasi lintas sektor melalui penerapan pendekatan One Health.
Komitmen ini dibahas dalam Webinar Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis bertema “Strategi Mitigasi Terpadu: One Health untuk Menghadapi Bencana dan Zoonosis”, Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan BRIN, ini menjadi ruang diseminasi pengetahuan sekaligus mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, praktisi kesehatan, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni, menekankan ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, serta kejadian bencana. Berbagai kondisi ini menurutnya, dapat mengubah ekosistem, sanitasi, distribusi vektor, dan pola interaksi manusia dengan hewan serta lingkungan.
Karena itu, kata dia, penanganan penyakit membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. “Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Sehingga pencegahan dan pengendalian penyakit membutuhkan surveillance, riset, kesiapsiagaan, dan kolaborasi lintas sektor,” ujar Wahyu.
Menurutnya, BRIN memiliki peran strategis dalam menyediakan basis pengetahuan dan riset untuk mendukung kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat menjadi dasar penguatan surveilans, mitigasi, dan respons terhadap ancaman penyakit.
Webinar menghadirkan perspektif dari berbagai sektor. Alghazali dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI membahas kebijakan nasional dan strategi penguatan ketahanan krisis kesehatan berbasis One Health. Dari Universitas Syiah Kuala, T. Maulana membahas penguatan surveilans penyakit tular vektor pada situasi pascabencana.
Sementara itu, Sutarno dari Direktorat Mitigasi Bencana, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, memaparkan strategi mitigasi bencana berbasis One Health untuk meningkatkan ketahanan masyarakat. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, memaparkan “Peran Studi Dinamika Penularan PTVZ sebagai Kewaspadaan Dini Wabah Penyakit Infeksi Pasca Bencana Alam”.
Menurutnya, studi dinamika penularan ini menjadi penting untuk memahami perubahan risiko penyakit setelah bencana. Gangguan sanitasi, perubahan lingkungan, munculnya habitat vektor, dan meningkatnya interaksi manusia, hewan, serta lingkungan dapat menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran penyakit.
Dengan mengandalkan data dan riset, potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat, bukan sekadar menunggu hingga kasus penyakit meningkat.
Penerapan One Health juga membutuhkan integrasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Hal ini mencakup integrasi surveilans, pertukaran data, penelitian, serta pengambilan keputusan berbasis bukti. Ketua Umum Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI), Suwito, mengapresiasi kolaborasi BRIN dalam memperkuat kapasitas entomolog kesehatan, khususnya untuk surveilans dan pengendalian vektor.
Ia mengingatkan kondisi bencana dan pascabencana dapat memicu peningkatan populasi lalat, nyamuk, dan tikus, terutama di wilayah pengungsian. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit. Suwito juga mencontohkan pengendalian vektor secara preventif di kawasan IKN yang menurutnya berkontribusi terhadap pengendalian malaria di kawasan inti pusat pemerintahan.
“Strategi mitigasi terpadu One Health untuk menghadapi bencana dan zoonosis ini merupakan bagian penting yang perlu kita persiapkan karena potensi untuk bencana maupun wabah di Indonesia juga relatif besar,” kata Suwito.
Melalui kegiatan ini, BRIN menegaskan riset memiliki posisi penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit pascabencana. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, praktisi kesehatan, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan menjadi fondasi untuk memastikan pengetahuan dan data dapat diterjemahkan menjadi kebijakan serta tindakan yang tepat.
Webinar yang dimoderatori Mara Ipa, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, ini ditutup dengan penyampaian dari Beni Ernawan, Ketua Kelompok Riset Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis BRIN sekaligus pelaksana kegiatan.
Ke depan, BRIN berkomitmen memperkuat riset, diseminasi pengetahuan, dan jejaring kolaborasi untuk mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti. Hasil riset dan inovasi diharapkan berkontribusi pada penguatan surveilans terpadu, kesiapsiagaan bencana, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis di Indonesia.




Comments are closed.