Jakarta –
Nilai sekolah yang bagus sering dianggap sebagai tanda bahwa anak baik-baik saja. Nilai tinggi juga sering dianggap sebagai bukti bahwa seorang anak rajin, disiplin, dan berada di jalur yang benar menuju kesuksesan.
Dalam keseharian, anak yang berprestasi mungkin terlihat rajin belajar. Padahal, di balik prestasi akademik yang membanggakan, anak bisa saja sedang mengalami tekanan emosional, Bunda.
Masalahnya, pergumulan emosional tidak selalu tercermin dalam nilai akademik. Beberapa anak mungkin menyembunyikan kekhawatiran mereka karena takut mengecewakan orang tua atau kehilangan kepercayaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan akademis umum terjadi di kalangan siswa. Studi menemukan bahwa hampir dua pertiga siswa sekolah menengah mengalami stres akademis yang signifikan, dan banyak yang mengatakan bahwa harapan orang tua menambah beban tersebut.
Ketika anak-anak mulai percaya bahwa kasih sayang, pujian, atau penerimaan bergantung pada prestasi, mereka mungkin mengabaikan emosi dan hanya fokus pada pencapaian yang lebih banyak.
Dilansir laman India Today, penulis dan pendiri ConsciousLeap, Sanjay Desai, mengatakan bahwa orang tua seharusnya bisa melihat lebih dari sekadar nilai dan memperhatikan perubahan perilaku sehari-hari yang mungkin secara diam-diam menandakan tekanan emosional pada anak-anaknya. Namun, tanda-tanda ini sering kali disalahartikan sebagai ciri kepribadian atau kebiasaan sementara.
Mengenali tanda-tanda ini sejak dini memungkinkan orang tua untuk mendukung kesehatan emosional anak mereka sebelum stres menjadi masalah yang lebih besar. Nah, berikut ciri-ciri anak tertekan secara emosional meski nilai sekolahnya tetap bagus:
1. Anak terus mengulang pekerjaan yang sudah cukup baik
Si Kecil suka berulang kali menghapus jawaban, menulis ulang pekerjaan rumah, atau menolak menyerahkan tugas karena merasa tidak sempurna? Kepribadian tersebut mungkin terlihat seperti dedikasi. Namun tanpa disadari, hal itu bisa menjadi tanda perfeksionisme.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dipuji terutama karena ‘pintar’ sering kali menjadi takut membuat kesalahan. Alih-alih melihat kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran, mereka mulai percaya bahwa kesalahan menentukan nilai diri mereka sendiri, Bunda.
Seorang anak yang terus-menerus mengejar kesempurnaan mungkin sebenarnya tidak khawatir tentang pekerjaan itu sendiri. Mereka mungkin khawatir tentang hasil yang tidak sempurna tentang diri mereka.
2. Anak sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut
Sebagian anak tidak mudah mengungkapkan emosi ketika mengalami kecemasan atau stres. Mereka secara tidak sadar menunjukkan perasaannya melalui kondisi fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut.
Ketika anak merasa tidak enak badan, terutama sebelum sekolah, ujian, atau kegiatan penting, hal itu dapat dikaitkan dengan stres emosional dan bukan penyakit medis. Jika keluhan-keluhan ini sering terjadi tanpa penyebab fisik yang jelas, ada baiknya untuk menyelidiki apakah Si Kecil merasa kewalahan secara emosional.
3. Anak tetap tenang di sekolah tapi menjadi emosional di rumah
Banyak guru menggambarkan murid berprestasi sebagai anak yang sopan dan berperilaku baik di sekolah. Namun, ketika sudah sampai di rumah, anak-anak ini bisa saja menunjukkan kepribadian yang berbeda. Mereka jadi mudah tersinggung, marah, atau menangis setelah pulang ke rumah.
Para ahli mengatakan hal itu sebenarnya adalah pola yang umum. Anak-anak sering menghabiskan sepanjang hari di sekolah untuk mengendalikan emosi, mengikuti aturan, dan memenuhi harapan. Rumah menjadi satu-satunya tempat di mana mereka akhirnya merasa cukup aman untuk melepaskan semua yang selama ini dipendam.
Nah, alih-alih hanya melihat luapan emosi ini sebagai perilaku buruk, orang tua seharusnya bertanya pada diri sendiri apa yang mungkin telah dipendam anak mereka sepanjang hari.
4. Mereka suka merendahkan diri sendiri sebelum orang lain melakukannya
Seorang anak yang sering bercanda tentang dirinya yang ‘bodoh’, ‘tidak becus dalam segala hal’, atau ‘tidak cukup baik’ mungkin terlihat lucu atau percaya diri. Namun, terkadang humor yang merendahkan diri sendiri menjadi perisai terhadap kritik.
Anak yang suka melontarkan komentar negatif tentang diri mereka sendiri mungkin merasa memiliki kendali lebih besar atas potensi penilaian dari orang lain. Seiring waktu, lelucon-lelucon ini dapat mengungkap rasa tidak aman yang lebih dalam dan rendah diri.
Orang tua harus memperhatikan jika komentar seperti itu menjadi sering terjadi. Jangan menganggapnya sebagai lelucon yang tidak berbahaya ya.
5. Anak terus meminta maaf atau mencari kepastian
Anak yang terus-menerus meminta maaf atas hal yang sepele bisa jadi mengalami tekanan emosional. Mereka juga mungkin mengaitkan harga diri dengan persetujuan orang lain.
Alih-alih merasa percaya diri, anak justru bergantung pada validasi eksternal untuk merasa aman. Pola tersebut bisa saja berlanjut hingga dewasa bila anak-anak tidak pernah belajar bahwa mereka dihargai tanpa memandang kinerja atau kesempurnaan.
6. Tidak terlalu suka menghabiskan waktu dengan teman
Salah satu tanda yang paling mudah terlewatkan ketika anak mengalami tekanan emosional adalah keputusan mereka untuk menarik diri dari pergaulan. Seorang anak mungkin terus berprestasi secara akademis sementara secara perlahan menjauhkan diri dari teman, hobi, atau interaksi keluarga.
Bagi anak-anak ini, tugas sekolah menjadi satu-satunya bidang yang dapat mereka kendalikan, sehingga mereka mencurahkan seluruh energi di sana sementara bagian lain dari kehidupan perlahan-lahan menyusut. Meskipun anak terus mendapatkan nilai yang bagus, tanpa disadari kesepian dan kelelahan emosional mungkin semakin meningkat di baliknya.
7. Permainan dianggap seperti tugas
Bagi anak-anak yang mengalami tekanan emosional, bermain bisa dianggap lebih dari sekedar hiburan. Para psikolog menganggap permainan imajinatif merupakan salah satu cara terpenting bagi anak-anak untuk memproses emosi, membangun kreativitas, dan pulih dari stres.
Jika seorang anak yang dulunya menyukai menggambar, bercerita, atau sekadar bermain di luar tiba-tiba hanya lebih menyukai aktivitas terstruktur dengan tujuan yang jelas, hal itu mungkin menunjukkan bahwa mereka kesulitan untuk bersantai. Ketika setiap aktivitas berfokus pada pencapaian, anak-anak kehilangan kesempatan berharga untuk memproses emosi secara alami.
Itulah ciri-ciri anak tertekan secara emosional meski nilai sekolahnya tetap bagus. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)




Comments are closed.