Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengapa Kita Ingin Semua Orang Jadi Ekstrover?

Mengapa Kita Ingin Semua Orang Jadi Ekstrover?

mengapa-kita-ingin-semua-orang-jadi-ekstrover?
Mengapa Kita Ingin Semua Orang Jadi Ekstrover?
service

Kita butuh mereka yang berani melompat, sama seperti kita butuh mereka yang berhenti sejenak untuk memikirkan ke mana mereka akan melompat

Mubadalah.id – Pada 6 November 1807, Johanna Schopenhauer menanggapi surat dari putranya, Arthur Schopenhauer. Surat ini bukan hanya berisi nasehat seorang ibu kepada anaknya, tetapi juga tamparan keras kepada salah satu filsuf eksistensialisme Jerman paling berpengaruh, yang beberapa waktu lalu pernah saya bahas di tulisan berbeda.

Surat ini berkaitan dengan surat Arthur sebelumnya, yang berisi keinginannya untuk tinggal bersama ibunya di Weimar. Johanna dengan tegas menolak permintaan itu. Ia menyatakan bahwa hidup serumah dengan putranya bukanlah pilihan yang tepat. Karena itulah ketika Arthur datang ke Weimar pada 1809, ia tidak tinggal di rumah ibunya, melainkan di rumah Franz Passow.

Sebenarnya, apa masalah yang membuat hubungan ibu dan anak itu tidak harmonis? Apakah filsuf Pesimisme itu sudah durhaka terhadap orang tuanya? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu membaca utuh isi suratnya terlebih dahulu:

“Kau tidak jahat; kau juga bukan orang bodoh dan tidak berpendidikan; kau punya segala hal yang membuatmu bisa masyarakat banggakan. Terlebih lagi, aku tahu hatimu dan tahu bahwa hanya sedikit orang yang lebih baik darimu, tetapi kau tetap saja menjengkelkan, dan aku merasa kesulitan hidup bersamamu.

Semua kualitas-kualitas baikmu itu tertutupi oleh kecerdasanmu yang berlebihan dan… keinginanmu untuk menguasai apa yang tidak bisa kau kuasai. Karena itu kau membuat orang-orang di sekitarmu kesal, karena tidak ada orang yang mau dicerahkan dengan cara terpaksa, apalagi oleh orang yang tidak penting sepertimu. Tidak ada yang suka caramu menegur, yang (ketika bicara) dengan nada seperti peramal, mengatakan ini begini dan ini begitu. Andai kau mau mengurangi sedikit saja sikapmu itu, orang-orang mungkin cuma menganggapmu lucu. Tetapi karena sikap itu terlalu berlebihan, kamu benar-benar sangat menjengkelkan.”

Mendewakan Esktrover

Sifat Arthur yang dominan, ingin selalu terdengar, dan memaksakan pandangannya kepada orang lain memang menjengkelkan. Namun, bukankah sifat-sifat semacam itu, jika terkemas dengan sedikit lebih ramah, adalah hal yang hari ini dipuja oleh masyarakat kita? Maksud saya, kita tahu sifat Arthur itu menjengkelkan, tapi di sisi lain kita juga memuji sifat-sifat tersebut selama ia terbungkus dengan pesona, senyuman, daya tarik, atau keterampilan public speaking yang baik.

Kita hidup di dalam sistem yang mendewakan ekstrover. Kita yakin bahwa individu yang ideal adalah mereka yang suka bergaul, berjiwa alfa, dan suka berada di bawah sorotan lampu panggung. Orang-orang ekstrover adalah mereka yang tergambarkan sebagai orang yang lebih menyukai aksi daripada kontemplasi. Suka mengambil risiko daripada berhati-hati, dan lebih memilih kepastian daripada keraguan.

Akibatnya, semua hal yang berkaitan dengan introver—seperti kepekaan, keseriusan, dan sifat pemalu—dianggap buruk, bahkan menganggapnya sebagai “penyakit psikologis”. Kita, sadar atau tidak, menghukumi keheningan dan memuji mereka yang aktif dan banyak bicara. Kapan dan bagaimana diskriminasi introver ini terjadi?

Budaya Karakter

Dalam bukunya, Quiet, Susan Cain menyoroti bahwa di awal abad ke-19, masyarakat hidup dengan apa yang ia sebut sebagai “Budaya Karakter”. Saat itu, individu yang ideal adalah individu yang serius, tekun, disiplin, dan terhormat. Yang dinilai bukanlah kesan seseorang di depan publik, melainkan bagaimana ia berperilaku di ruang privat.

Singkatnya, menilai integritas ketika tidak ada orang yang melihat, bukan pencitraan di depan umum. Tetapi di abad ke-20—di mana kapitalisme semakin berkembang, urbanisasi, dan imigrasi massal memaksa penduduk desa pindah ke kota-kota besar—paradigma ini bergeser. Di sinilah “Budaya Kepribadian” lahir.

Orang-orang terpesona dengan individu yang berani, lantang, dan menghibur. Setiap orang dituntut untuk berani tampil di depan umum demi bertahan di dalam struktur sosial yang baru. Karena orang-orang tidak lagi bekerja dengan tetangga yang mereka kenal, tetapi dengan orang asing, maka muncul lah tekanan untuk membuat “kesan pertama” yang baik.

Buku-buku motivasi yang tadinya mengajarkan moral pun berubah menjadi buku tentang bagaimana menciptakan kesan dan daya tarik lewat penampilan dan public speaking. Di sinilah ilusi massal muncul bahwa ekstrover—orang yang menjadi “sales” bagi diri sendiri (self-promotion)—adalah satu-satunya jalan kesuksesan. Ilusi ini kemudian menular ke banyak institusi-institusi, termasuk sekolah.

Diskriminasi terhadap Introver

Sebagian besar guru hari ini percaya bahwa siswa yang ideal adalah yang ekstrover. Siswa pendiam, yang lebih suka membaca atau yang  suka melakukan semuanya sendiri sering dianggap bermasalah secara psikologis dan sosial, dan maka dari itu harus “disembuhkan”. Kita memaksa anak-anak introver keluar dari cangkang mereka, seolah-olah itu kutukan, bukan ruang aman tempat mereka berkreasi.

Tidak sedikit institusi pendidikan melanggengkan diskriminasi introver ini. Banyak pelajaran yang mengajarkan bahwa pemimpin haruslah vokal dan mampu mengambil keputusan cepat, terutama ketika menghadapi ketidakpastian. Jika seorang siswa tidak bisa mendominasi diskusi kelas dengan suara lantang, ia akan tersingkirkan, baik secara sosial maupun akademis.

Kita sudah terlanjur percaya bahwa orang yang banyak bicara adalah orang yang cerdas. Ya, memang beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka yang vokal atau suka berbicara sering menganggapnya lebih pintar dan menarik. Tetapi kita juga perlu tahu bahwa kenyataannya tidak ada kaitan antara pintar berbicara dengan kualitas ide yang tersampaikan.

Justru, menurut saya, inovasi sering kali lahir dari kesendirian. Mari ingat lagi bagaimana personal computer (PC) modern pertama tercipta. Teknologi ini tidak lahir di rapat komite yang bising atau dalam sesi brainstorming di ruang rapat. PC lahir dari tangan orang pemalu bernama Stephen Wozniak, salah satu pendiri Apple Inc, yang merancang prototipe PC sendirian di bilik kerjanya.

Berdasarkan pengalamannya, Wozniak bahkan mengatakan bahwa “inventor dan insinyur terbaik mirip seniman, hidup di dalam kepala, dan paling produktif ketika mengontrol desain tanpa campur tangan orang lain.”

Introver Bukan Anti-Sosial

Kesalahpahaman terbesar masyarakat kita adalah percaya bahwa introver itu kepribadian cacat atau anti-sosial. Padahal, kalau kita menelisik lebih dalam, perbedaan mendasar antara introver dan ekstrover hanya terletak pada tingkat stimulasi luar yang mereka butuhkan saja.

Orang-orang introver merasa nyaman ketika mereka menerima stimulasi sosial yang sedikit, misalnya saat menyesap secangkir kopi bersama teman terdekat atau membaca buku di sudut ruangan yang sepi. Sebaliknya, orang ekstrover justru membutuhkan stimulasi ekstra untuk merasa hidup, seperti bertemu dengan banyak orang baru atau berada di tengah pesta yang riuh rendah.

Introver bukanlah penyakit. Introver hanyalah orang yang lebih suka bekerja lambat dan penuh perhitungan, berfokus pada satu tugas, dan kebal dengan godaan ketenaran dan pencitraan. Cara mereka mengisi daya hidupnya adalah dengan menyendiri, berlawanan dengan ekstrover yang justru merasa kehabisan daya jika mereka tidak cukup bersosialisasi.

Secara biologis, ini sudah terbukti lewat penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Harvard, Jerome Kagan. Dalam penelitian tersebut, sekelompok bayi berusia 4 bulan ia berikan stimulasi berupa suara rekaman, balon meletus, dan bau alkohol. Sekitar 20% bayi bereaksi kuat, menangis keras dan memompa lengan serta kaki mereka. Kelompok bayi inilah yang disebut dengan bayi yang reaktif.

Mengejutkannya, bayi-bayi yang reaktif ini justru adalah mereka yang kelak tumbuh menjadi anak-anak yang introver, karena amigdala mereka sangat sensitif terhadap hal-hal baru di sekitarnya. Sebaliknya, bayi yang tenang terhadap stimulasi cenderung tumbuh menjadi ekstrover. Ini cukup membuktikan bahwa introver tidak membenci manusia. Sistem saraf mereka hanya merespons dunia dengan lebih intens.

Kepemimpinan Introver

Kepekaan yang mengakar secara biologis ini nyatanya adalah keunggulan yang acap kali diremehkan di dunia bisnis dan politik: kepemimpinan yang tenang. Selama ini kita dicekoki dogma bahwa pemimpin hebat haruslah orang yang karismatik, dominan, dan punya suara menggelegar. Namun sejarah mencatat bahwa perubahan besar sering kali digerakkan oleh para introver.

Misalnya Rosa Parks. Ia adalah sosok yang memicu gerakan hak-hak sipil Amerika dengan satu kata penolakannya di dalam bus. Ia bukan orator yang suka berbicara, apalagi berteriak, di depan umum. Ketika Parks wafat, banyak yang mengenangnya sebagai sosok yang tutur katanya lembut dan pemalu, namun punya keberanian layaknya singa. Ia menunjukkan bahwa keberanian tidak butuh teriakan atau pengeras suara.

Kepemimpinan introver punya keunikannya sendiri. Menurut Cain, pemimpin yang ekstrover memang hebat dalam memotivasi dan menggerakkan pekerja yang pasif, tetapi penelitian membuktikan bahwa pemimpin yang introver justru jauh lebih efektif ketika dihadapkan dengan karyawan yang proaktif.

Karena mereka punya kecenderungan alami untuk mendengarkan orang lain dan tidak berhasrat untuk mendominasi situasi, pemimpin introver cenderung lebih suka mendengar dan menerapkan saran bawahannya. Sebaliknya, pemimpin ekstrover sering kali terlalu sibuk mengecap setiap keputusan, sehingga mereka cenderung mengabaikan ide-ide bawahannya.

Terlepas dari itu, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyerang ekstrover. Ini hanya keresahan saja. Tapi saya percaya bahwa manusia bukanlah apa-apa tanpa dua kepribadian ini, layaknya yin dan yang. Kita butuh mereka yang berani melompat, sama seperti kita butuh mereka yang berhenti sejenak untuk memikirkan ke mana mereka akan melompat.

Lebih jauh, saya juga percaya bahwa menjadikan ekstrover sebagai standar kepribadian ideal dan memaksa introver untuk menyesuaikan diri dengan ekstrover adalah kekeliruan. Maka dari itu, sudah waktunya kita berhenti menghukumi keheningan. Sering kali jawaban dari masalah-masalah kita tidak ditemukan dalam keriuhan, tetapi dalam ketenangan dan kesunyian. []

Daftar Pustaka

Susan Cain. Quiet: The Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking. Crown Publishers: New York, 2012.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.