Bincangperempuan.com- Istilah trigger mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Kita sering menggunakannya saat berhadapan dengan situasi, ucapan, atau ingatan yang mendadak memicu rasa cemas, panik, dan membuat tubuh berada dalam kondisi siaga menghadapi ancaman. Namun, di samping trigger, ada konsep tandingan yang tak kalah pentingnya untuk kesehatan mental kita, yaitu glimmers.
Merujuk pada ulasan dari Verywell Mind, glimmers dapat dipahami sebagai kebalikan dari trigger. Jika trigger memicu perasaan terancam, glimmers adalah isyarat baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar—yang memberikan sinyal ke otak dan tubuh bahwa kita berada dalam kondisi aman, nyaman, dan tenang. Sederhananya, glimmers adalah letupan ketenangan kecil yang membantu menetralkan rasa kewalahan di tengah riuhnya kehidupan sehari-hari.
Bentuknya tidak perlu berupa peristiwa besar yang dramatis. Glimmers hadir dalam momen yang sederhana seperti kehangatan sinar matahari pagi yang menembus jendela, aroma tanah basah setelah hujan, senyum ramah dari kawan lama, atau seruputan pertama kopi hangat di pagi hari. Meski terkesan sepele, momen ini bekerja untuk menenangkan sistem saraf kita.
Baca juga: Ketika Gaji Istri Lebih Tinggi dari Suami: Tidak Luput dari Kekerasan
Asal-Usul dan Konsep Glimmers
Secara harfiah di Merriam-Webster, glimmer adalah cahaya redup/samar yang berkedip (dim/unsteady light) atau jejak/tanda yang sangat tipis. Sementara di Psikologi glimmer adalah isyarat sensori mikro yang memberi sinyal ke saraf otonom bahwa tubuh sedang aman dan tenang. Secara ilmiah, konsep glimmers dilandasi oleh Teori Polivagal (Polyvagal Theory) yang dipelopori oleh pakar neurosains perilaku, Stephen Porges, pada tahun 1995. Teori ini menjelaskan bagaimana sistem saraf otonom manusia bekerja secara konstan untuk memindai lingkungan sekitar. Proses pemindaian otomatis ini disebut neuroception. Melalui saraf vagus, tubuh kita terus-menerus membaca isyarat untuk menentukan apakah kita sedang aman atau dalam bahaya.
Istilah glimmer itu sendiri diperkenalkan secara spesifik oleh Deb Dana, seorang pekerja sosial klinis dan pakar trauma, lewat bukunya The Polyvagal Theory in Therapy: Engaging the Rhythm of Regulation (2018). Konsep ini kemudian makin populer setelah diulas oleh psikolog Dr. Justine Grosso di TikTok pada awal 2022. Sejak saat itu, glimmers menjadi topik hangat yang banyak dibahas oleh praktisi kesehatan mental di seluruh dunia sebagai bentuk regulasi emosi yang mudah dipraktikkan.
Glimmers vs Triggers: Dua Sisi Tangga Emosi
Triggers dan glimmers merupakan respons otomatis sistem saraf terhadap isyarat luar, tetapi dampak yang dihasilkan pada tubuh sangatlah berbeda. Ketika trigger aktif, tubuh terseret ke dalam mode fight-or-flight (sistem saraf simpatik) atau kondisi freeze alias lumpuh secara emosional (dorsal vagal). Detak jantung berpacu cepat, napas menjadi dangkal, dan otot menegang karena tubuh merasa ada ancaman yang mengintai.
Sedangkan glimmers justru membawa kita masuk ke dalam kondisi ideal di tangga sistem saraf tempat tubuh merasa aman untuk beristirahat, mencerna (rest-and-digest), dan berinteraksi secara sosial. Saat glimmer hadir, napas terasa lebih lega, bahu yang tadinya tegang menjadi rileks, dan muncul sensasi hangat yang menenangkan di dalam dada.
Deb Dana menekankan bahwa glimmers adalah micro-moments. Karena sifatnya yang sangat singkat dan halus, glimmers kerap lewat begitu saja jika kita tidak melatih kesadaran penuh (mindfulness).
Contoh Glimmers dalam Kehidupan Sehari-hari
Setiap orang memiliki daftar glimmers yang berbeda-beda, tergantung pada pengalaman hidup dan memori tubuh masing-masing. Apa yang menjadi glimmer bagi seseorang belum tentu memberikan efek yang sama bagi orang lain. Beberapa contoh momen umum pemicu glimmer bisa datang dari:
- Kehangatan sinar matahari pagi yang mengenai kulit.
- Aroma kopi segar, dedaunan basah, atau minyak aromaterapi.
- Pantulan cahaya matahari yang berkilau di atas permukaan air.
- Suara gemericik air hujan atau angin pelan di balik jendela.
- Momen mengelus hewan peliharaan yang sedang bersantai.
- Senyuman tulus atau sapaan ramah dari orang asing.
- Mendengarkan lagu favorit yang tiba-tiba terputar di radio.
- Sensasi lega saat meluruskan kaki setelah seharian beraktivitas.
Mengapa Glimmers Sangat Penting untuk Kesehatan Mental?
Secara biologis, otak manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut negativity bias. Otak berevolusi untuk lebih cepat mendeteksi ancaman ketimbang mencatat rasa aman. Di zaman modern, bias negatif ini sering membuat kita terjebak dalam kondisi waspada berlebihan secara kronis, yang berujung pada kecemasan, insomnia, hingga kelelahan emosional.
Di sinilah peran penting glimmers. Dengan menyengajakan diri untuk mencari dan menyadari momen aman, kita melatih ulang kerja otak melalui mekanisme neuroplasticity. Kita memperkuat jalur saraf baru yang memberi pesan pada tubuh bahwa saat ini kita dalam kondisi aman.
Menyadari glimmers bukan berarti mengabaikan masalah atau trauma yang ada. Glimmers bukanlah alat untuk melakukan toxic positivity, melainkan sarana membangun kapasitas ketahanan emosional (resilience). Setiap micro-moment yang kita rasakan terkumpul menjadi fondasi ketenangan yang memudahkan tubuh kembali stabil saat berhadapan dengan tekanan.
Seperti dikutip dari Verywell Mind, Deb Dana menyarankan agar kita mengendapkan pengalaman glimmer selama 10 hingga 20 detik. Rasakan sensasi fisiknya secara perlahan: perhatikan kehangatan di dada, hembusan napas yang melambat, atau otot wajah yang mengendur. Proses ini membantu mengunci memori rasa aman ke dalam sistem saraf.
Baca juga: Bom Waktu di Gelas Kopi Kita: Anak Muda dan Bayang-Bayang Gagal Ginjal
Cara Praktis Melatih Sensitivitas Terhadap Glimmers
Jika Anda merasa lebih mudah mengenali trigger ketimbang glimmer, jangan berkecil hati. Kemampuan ini bisa dilatih secara bertahap melalui beberapa langkah sederhana:
- Lakukan Pemindaian Tubuh: Luangkan waktu sejenak di tengah kesibukan untuk mengamati kondisi tubuh. Perhatikan hal kecil di sekitar yang membuat kamu merasa sedikit lebih rileks.
- Maksimalkan Pancaindra: Misalnya amati warna langit, dengarkan kicau burung, rasakan tekstur pakaian, atau hirup aroma di sekitar kamu.
- Catat Glimmers Harian: Sebelum tidur, tuliskan 2–3 momen kecil yang membawa rasa nyaman hari ini. Kebiasaan ini melatih otak untuk aktif mencari kebaikan di hari berikutnya.
- Ciptakan Suasana Nyaman: Hadirkan benda-benda sederhana di ruang kerja atau rumah yang membangkitkan rasa tenang, seperti tanaman kecil atau aroma favorit.
Menjadikan Glimmers Bagian dari Keseharian
Glimmers mengingatkan kita bahwa sistem saraf manusia tidak hanya dirancang untuk bertahan dari ancaman, tetapi juga untuk menikmati keindahan dan merasa terhubung dengan sekitar. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan, kemampuan menangkap kilauan kecil ini menjadi bentuk kepedulian yang sangat nyata terhadap diri sendiri.
Sebagaimana diungkapkan Deb Dana, glimmers adalah undangan untuk kembali menyayangi kehidupan melalui momen-momen sederhana. Mulailah hari ini dengan memperhatikan satu hal kecil di sekitar yang membuat kamu lebih lega. Karena dari sanalah momen glimmer kamu bermula.
Referensi:
- Blanchfield, T. (2026, 27 Januari). What is a glimmer? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-a-glimmer-5323168
- Merriam-Webster. (tanpa tahun). Glimmer. Dalam Merriam-Webster.com dictionary. https://www.merriam-webster.com/dictionary/glimmer





Comments are closed.