Di jantung hutan Batang Toru, Sumatera Utara, hidup salah satu spesies kera besar paling langka di dunia, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Spesies ini baru diakui secara ilmiah pada tahun 2017, namun keberadaannya telah lama menjadi bagian dari kisah ekologi dan budaya masyarakat di selatan Danau Toba. Dengan populasi tak lebih dari 800 individu, orangutan tapanuli kini menempati posisi genting dalam daftar satwa paling terancam punah di bumi. Bicara tentang orangutan di Sumatera Utara, maka sejak dua dekade lalu diskursus tentang orangutan dan keterancaman habitatnya tidak bisa dilepaskan dari Panut Hadisiswoyo, sosok yang menaruh perhatian besar terhadap pelestarian spesies ini. Melalui Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) yang didirikannya dan kerja panjang di lapangan, ia menjadi saksi bagaimana perubahan bentang alam Batang Toru perlahan membentuk garis nasib bagi spesies yang hanya tersisa di satu sudut kecil bentang alam itu. Dalam wawancara dengan Mongabay Indonesia di episode Bincang Alam yang diselenggarakan pada 4 September 2025 dalam tajuk ‘Mengenal Orangutan tapanuli: Si Primata Paling Langka di Dunia’ Panut menuturkan pandangannya tentang makna keberadaan orangutan tapanuli bagi ekosistem, manusia, dan masa depan konservasi di Indonesia. Panut pun berbicara tentang tantangan menjaga spesies yang terisolasi, perjalanan panjang riset, hingga refleksi moral yang muncul dari hubungan manusia dengan alam. Mongabay: Apa yang melatarbelakangi Anda mendirikan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC)? Panut Hadisiswoyo: Satu alasan utama saya mendirikan YOSL-OIC adalah karena saat itu belum ada sosok lokal yang benar-benar fokus dan peduli terhadap keberlangsungan populasi orangutan…This article was originally published on Mongabay
Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli
Konservasi di Tengah Tantangan Fragmentasi Habitat Orangutan Tapanuli





Comments are closed.