Di saat perempuan seusianya memilih beristirahat, Oktovina Kareway (70) masih bisa gesit mendayung perahu kayunya. Guratan keriput di wajahnya seakan jadi bukti bahwa laut adalah teman abadi sepanjang hidupnya. Bersama suaminya, Piet Awi Ramandey (73), di pesisir laut itu ia menerapkan aturan yadup—sebuah bentuk perlindungan terhadap sumber daya alam yang dilakukan secara pribadi. Mereka berdua tinggal di Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Teluk Wondama, Papua Barat. “Torang di sini ambil [hasil laut] secukupnya saja. Pulang, ikan harus ada di atas piring makan. Itu sudah,” ucapnya. Ikan-ikan karang seperti bobora jadi pancingan utamanya. Apa yang dilakukan Oktovina dan Piet mencerminkan sistem kehidupan lokal warga di pesisir—tidak menghabiskan, tapi mengambil secukupnya. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Teluk Wondama 2025, produksi perikanan tangkap tahun 2024 mencapai 4.059 ton, atau setara Rp130,67 miliar. Selain hasil laut, ekonomi warga kabupaten ini juga ditopang dari hasil pertanian. Di tahun yang sama, BPS mencatat produksi pangan lokal seperti ubi kayu 1.957 ton, ubi jalar 1.028 ton, jagung 1.112 ton, dan padi ladang 172 ton. Demikian pula dengan sagu—makanan pokok tradisional orang Papua—yang produksinya meningkat. Data Dinas Pertanian Teluk Wondama (2022) mencatat kenaikan dari 3,50 ton (2020) menjadi 9,8 ton (2022). Sementara itu, BPS juga menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dasar per jiwa di Wondama diperlukan sekitar Rp710.854 per bulan. Jika di tingkat makro tren perkembangannya tampak positif, bagaimana dengan kondisi di tingkat rumah tangga? Apakah warga sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya? Oktovina Kareway (70), seorang warga Aisandami, Kabupaten Teluk Wondama. Meski telah berusia lanjut,…This article was originally published on Mongabay
Antara Laut, Kebun dan Sagu: Geliat Hidup Warga Teluk Wondama
Antara Laut, Kebun dan Sagu: Geliat Hidup Warga Teluk Wondama





Comments are closed.