Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kisah Foto Terakhir Singa Berber, Petarung di Arena Gladiator era Romawi

Kisah Foto Terakhir Singa Berber, Petarung di Arena Gladiator era Romawi

kisah-foto-terakhir-singa-berber,-petarung-di-arena-gladiator-era-romawi
Kisah Foto Terakhir Singa Berber, Petarung di Arena Gladiator era Romawi
service

Pada 1925, Marcelin Flandrin memotret seekor singa di lereng Pegunungan Atlas. Foto itu kelak diketahui sebagai potret terakhir singa berber di habitat aslinya. Saat itu Flandrin menerbangkan pesawat kecil dari Paris menuju Dakar dan mendokumentasikan lanskap Afrika Utara dari udara. Ia mungkin tidak menyadari bahwa hasil jepretannya menjadi saksi akhir kehadiran spesies singa paling legendaris di kawasan itu. Singa berber atau Panthera leo leo, dikenal juga sebagai singa Atlas, pernah menghuni wilayah luas di Afrika Utara. Mereka hidup dari Maroko hingga Mesir, di pegunungan, hutan cedar, dan padang sabana yang kini banyak berubah menjadi lahan kering. Ukurannya besar dengan surai hitam pekat yang menjuntai hingga dada. Dalam berbagai catatan, singa jantan dewasa bisa mencapai panjang lebih dari tiga meter dan berat hingga 250 kilogram. Seekor singa di Pegunungan Atlas, Maroko, dipotret dari pesawat saat penerbangan Casablanca–Dakar. Gambar ini dikenal sebagai potret terakhir singa berber (Panthera leo leo) di alam liar. Foto: Marcelin Flandrin, 1925 (Wikimedia Commons, CC-Public Domain). Singa berber lama menjadi simbol kekuatan bagi para penguasa di Afrika Utara. Namun nasib mereka berubah ketika kekaisaran Romawi menjadikan hewan ini bagian dari pertunjukan berdarah di Colosseum. Ribuan singa ditangkap dari alam liar dan dikirim ke Roma untuk bertarung melawan gladiator dan hewan lain di arena hiburan publik. Selama berabad-abad, singa berber menjadi korban utama budaya pertunjukan yang menempatkan kekuasaan manusia di atas kehidupan alam. Dari Colosseum ke Senapan Pemburu Pada masa itu, Romawi tidak hanya memamerkan kekuatannya lewat perang, tetapi juga melalui venationes, perburuan hewan liar di arena. Dalam catatan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.