Pagi itu, ayam-ayam kampung berkerumun di kandang bambu di pekarangan belakang rumah Marhana, sembari mengais sisa daun kering, jerami, dan rumput yang mulai membusuk. Di sudut lain, bedengan sayur tertata rapi—cabai, terong, kangkung, dan timun tumbuh berdampingan. Pupuk dari kotoran ayam dan limbah organik rumah tangga. Bagi Marhana, pemandangan itu menjadi kesehariannya belakangan ini. “Dulu ayam cuma dilepas di belakang rumah,” katanya. Marhana, satu dari 18 perempuan peserta Sekolah Lapang Permakultur di Desa Bontomanai, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sekolah lapang ini bagian dari upaya warga pesisir menghadapi krisis iklim dan ketergantungan pangan dari luar desa dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Pendekatan permakultur ini merupakan bagian dari program restorasi penghidupan pesisir untuk adaptasi (respirasi), yang Blue Forests jalankan bersama mitra lokal dan dukungan Earth Care Foundation. Dalam sebuah kunjungan ke Desa Bontomanai, 12 Desember lalu, kami pergi ke demplot kelompok sekolah lapang ini. Semua makanan yang mereka suguhkan dari kebun yang terkelola secara organik. Erwin, Kepala Desa Bontomanai, mengatakan, sekolah lapangan membawa banyak perubahan. Bahkan, tak sampai tiga bulan, warga sudah bisa merasakan hasil. Misal, bila dulu penanaman berlangsung di demplot, kini warga lakukan di pekarangan rumah. “Alhamdulillah, kalau dari permakultur, masyarakat sudah menikmati,” katanya. “Dari sayurannya, kebunnya, dan alhamdulillah juga ayam sudah menghasilkan kompos.” Sekolah lapang mulai Mei dengan peserta 18 perempuan. Mula-mula, peserta belajar di satu demplot bersama, mengenal tanah, membuat bedengan, merawat tanaman, hingga memelihara ayam kampung. Ada lebih dari 10 pertemuan yang mereka ikuti. “Ada pembagian bibit, kandang, ayam, dan cara pemeliharaannya. Yang paling saya…This article was originally published on Mongabay
Para Perempuan di Sulawesi Selatan, Upaya Berdaulat Pangan Lewat Permakultur
Para Perempuan di Sulawesi Selatan, Upaya Berdaulat Pangan Lewat Permakultur





Comments are closed.