Di banyak pesantren tradisional di Jawa, terdapat satu istilah yang akrab di telinga para santri: Abdul Buthun. Istilah ini tidak ditemukan dalam jadwal pelajaran, tidak tercantum dalam kurikulum resmi, dan tidak diajarkan secara khusus dalam ruang kelas. Namun hampir setiap santri mengenalnya.
Biasanya istilah itu muncul dalam suasana santai. Ketika ada santri yang paling cepat mengetahui kabar pembagian makanan, paling rajin menghadiri kenduri warga, atau paling bersemangat ketika mendengar ada kiriman berkat ke pondok, teman-temannya akan berseloroh, “Wah, Abdul Buthun datang.”
Secara harfiah, Abdul Buthun berarti “hamba perut”. Namun dalam kehidupan pesantren, istilah ini bukan sekadar lelucon. Ia merupakan bagian dari cara pesantren mendidik karakter. Melalui gurauan yang ringan, para santri diajak memahami bahwa hidup tidak boleh hanya berputar di sekitar urusan makan dan pemuasan keinginan.
Saya masih mengingat suasana pesantren kampung tempat saya belajar dahulu. Kehidupan berjalan sederhana. Menu makan tidak banyak berubah dari hari ke hari. Tempe, tahu, sayur bening atau oblok-oblok, sambal, dan sesekali ikan asin menjadi hidangan yang akrab. Daging bukan sesuatu yang mustahil, tetapi juga bukan sesuatu yang biasa.
Ketika ada orang tua sambangan atau ada warga yang mengirim makanan ke pondok, suasana mendadak berubah. Kabar itu menyebar dari kamar ke kamar dengan kecepatan yang sering kali mengalahkan pengumuman jadwal pengajian. Santri-santri yang biasanya berjalan santai tiba-tiba bergerak lebih cepat. Di saat-saat seperti itulah istilah Abdul Buthun sering terdengar.
Namun yang menarik, tidak ada kebencian di balik istilah tersebut. Ia tidak dimaksudkan untuk mempermalukan seseorang. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa seorang santri harus belajar mengendalikan dirinya sendiri. Yang dikritik bukan aktivitas makan, melainkan kecenderungan manusia untuk menjadikan kenikmatan sebagai tujuan hidup.
Karena itu istilah Abdul Buthun sesungguhnya merupakan bahasa kebudayaan pesantren untuk mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh perutnya. Perut dalam konteks ini bukan sekadar organ tubuh, melainkan simbol bagi berbagai keinginan yang terus meminta dipenuhi.
Puasa, Tirakat, dan Prihatin
Pesantren memahami bahwa makan adalah kebutuhan manusia. Islam tidak mengajarkan penyiksaan diri. Namun pesantren juga memahami bahwa perut sering menjadi jalan masuk bagi berbagai bentuk hawa nafsu. Karena itu para kiai mewariskan tiga laku luhur yang hingga hari ini masih hidup dalam tradisi pesantren: puasa, tirakat, dan prihatin.
Puasa menjaga perut agar tidak banyak makan. Tirakat menjaga mata agar tidak banyak tidur. Prihatin menjaga hati agar tidak banyak keinginan. Ketiga laku tersebut membentuk satu kesatuan yang saling berkaitan. Puasa melatih manusia agar tidak tunduk pada dorongan biologisnya. Tirakat melatih manusia agar tidak diperbudak kenyamanan. Sedangkan prihatin melatih manusia agar tidak dikuasai oleh keinginan yang tidak pernah selesai.
Akar pemikiran ini telah lama hidup dalam tradisi tasawuf Islam. Abu Thalib al-Makki dalam Qut al-Qulub fi Mu’amalat al-Mahbub wa Washf Tariq al-Murid ila Maqam al-Tawhid yang disusun pada abad ke-10 M menjelaskan bahwa lapar (al-ju’) bukan sekadar keadaan fisik, melainkan sarana pendidikan ruhani. Menurutnya, terlalu banyak makan dapat menimbulkan kerasnya hati, panjang angan-angan, dan lemahnya semangat ibadah. Sebaliknya, kemampuan mengendalikan makan akan melahirkan kelembutan hati, kejernihan pikiran, dan kedekatan kepada Allah. Karena itu para salik dalam tradisi tasawuf selalu menjadikan pengendalian perut sebagai pintu pertama dalam perjalanan spiritual mereka.
Pandangan yang sama juga ditemukan dalam Kitab al-Ju’ karya Ibn Abi al-Dunya yang disusun pada abad ke-9 M. Dalam kitab tersebut, Ibn Abi al-Dunya menghimpun hadits, atsar Sahabat, dan perkataan para ulama salaf mengenai keutamaan lapar dan hidup sederhana. Salah satu tema yang berulang dalam kitab tersebut adalah bahwa kenyang yang berlebihan sering kali melahirkan kelalaian, sedangkan kesederhanaan dalam makan membantu manusia menjaga kejernihan hati dan kebersihan batin.
Jejak pemikiran itu masih dapat ditemukan dalam kehidupan pesantren hingga hari ini. Para santri diajarkan menghormati makanan hingga sebutir nasi yang jatuh. Mereka dibiasakan mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya. Bukan karena pesantren anti terhadap kenikmatan, melainkan karena pesantren ingin menanamkan kesadaran bahwa nikmat harus dihormati dan hawa nafsu harus dikendalikan.
Jika puasa mendidik perut, maka tirakat mendidik tubuh. Tirakat mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak kenyamanan. Karena itu bangun malam, mengurangi tidur, memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengaji selepas Subuh, atau memperpanjang waktu belajar menjadi bagian dari kultur banyak pesantren.
Namun yang paling berat sesungguhnya adalah prihatin. Sebab musuh terbesar manusia bukanlah rasa lapar ataupun rasa kantuk. Musuh terbesar manusia adalah keinginan yang tidak pernah mengenal batas. Keinginan selalu menemukan alasan untuk bertambah. Ketika satu tercapai, muncul keinginan berikutnya. Ketika satu kebutuhan terpenuhi, lahir kebutuhan baru yang sering kali tidak benar-benar dibutuhkan. Karena itu para kiai sering mengingatkan bahwa sumber kegelisahan manusia bukan terletak pada sedikitnya harta, melainkan pada banyaknya keinginan.
Menjadi Abdullah, Bukan Abdul Buthun
Dalam kehidupan modern, istilah Abdul Buthun menjadi semakin relevan. Jika dahulu ia mungkin merujuk pada santri yang terlalu bersemangat mencari makanan, hari ini maknanya dapat diperluas ke berbagai bentuk ketergantungan baru. Ada orang yang menjadi hamba uang. Ada yang menjadi hamba jabatan. Ada yang menjadi hamba popularitas. Ada yang menjadi hamba pengakuan sosial. Ada pula yang menjadi hamba citra diri di media sosial. Bentuknya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama. Manusia diperbudak oleh sesuatu yang terus ingin dipuaskan.
Fenomena semacam ini sesungguhnya telah lama menjadi perhatian para ulama. Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyat al-Awliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’ yang disusun pada abad ke-11 M merekam ratusan kisah para ulama, zahid, dan ahli ibadah generasi awal Islam. Di antara pelajaran yang berulang dalam karya monumentalnya adalah bagaimana para salihin berusaha membebaskan diri dari dominasi hawa nafsu. Mereka tidak menjauhi dunia secara total, tetapi mereka juga tidak menjadikan dunia sebagai pusat kehidupan.
Banyak tokoh dalam Hilyat al-Awliya’ digambarkan hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk hidup mewah. Mereka makan secukupnya, tidur secukupnya, dan menggunakan dunia hanya sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah. Kesederhanaan mereka bukan karena kemiskinan, melainkan karena kesadaran spiritual.
Dalam konteks yang sama, kisah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sering menjadi bahan renungan para ulama. Ia adalah seorang penguasa besar Dinasti Umayyah yang hidup dalam kemewahan dan kelimpahan. Kekuasaan, kekayaan, makanan terbaik, dan berbagai bentuk kenikmatan dunia tersedia di hadapannya. Apa yang diinginkan hampir selalu dapat diperoleh. Namun sebagaimana manusia lainnya, seluruh kemewahan itu berhenti di hadapan kematian. Tidak ada makanan yang dapat dibawa ke alam kubur. Tidak ada kekuasaan yang dapat menunda ajal. Tidak ada kemegahan istana yang mampu menghalangi datangnya kematian.
Karena itulah kisah Sulaiman bin Abdul Malik sering digunakan para ulama sebagai pengingat bahwa perut tidak pernah benar-benar kenyang dan keinginan tidak pernah benar-benar selesai. Manusia tidak akan menemukan ketenangan dengan menuruti seluruh keinginannya. Ketenangan justru lahir ketika seseorang mampu mengendalikan keinginannya. Pelajaran inilah yang sesungguhnya diwariskan pesantren melalui istilah Abdul Buthun. Sebuah istilah sederhana yang lahir dari kehidupan sehari-hari tetapi mengandung filsafat hidup yang mendalam.
Di tengah budaya yang mendorong manusia untuk terus mengonsumsi, pesantren mengajarkan kecukupan. Di tengah dunia yang memuja kenyamanan, pesantren mengajarkan ketahanan. Di tengah kehidupan yang membuat manusia terus mengejar lebih banyak, pesantren mengajarkan qana’ah. Sesungguhnya masalah manusia bukanlah sedikitnya rezeki, melainkan banyaknya keinginan. Bukan kurangnya kenikmatan, melainkan ketidakmampuan merasa cukup. Maka puasa, tirakat, dan prihatin adalah ikhtiar untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan pesantren bukan melahirkan ahli lapar atau ahli tirakat, melainkan melahirkan manusia yang merdeka dari hawa nafsunya. Manusia yang mampu mengendalikan perutnya ketika makanan tersedia, mengendalikan dirinya ketika kenyamanan memanggil, dan mengendalikan hatinya ketika keinginan terus bertambah. Karena itu pesantren mengajarkan sebuah pelajaran yang sederhana tetapi mendalam: jadilah Abdullah, hamba Allah yang hidup dengan kesadaran dan kecukupan, bukan Abdul Buthun, hamba perut dan segala keinginan yang tidak pernah mengenal kata cukup.
Fahmi Arif El Muniry, Alumnus Pesantren Al Anwar Mranggen, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
Baca artikel menarik lainnya dari penulis Fahmi Arif El Muniry
Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak




Comments are closed.